“PEMELIHARAAN DAN PERBAIKAN MESIN DIESEL AKASAKA TIPE A31R SEBAGAI UPAYA OPTIMALISASI KINERJA PENGOPERASIAN MV. SHINPO ''

 

TUGAS AKHIR

“PEMELIHARAAN DAN PERBAIKAN MESIN DIESEL AKASAKA TYPE A31R SEBAGAI UPAYA OPTIMALISASI KINERJA PENGOPERASIAN MV. SHINPO’’

Diajukan guna melengkapi syarat – syarat untuk menyelesiakan

Program Diploma III Program Studi Teknika

Akademi Pelayaran Niaga Indonesia

 

Oleh:

 

Alan Nuri Utomo

12.48.2017

 

PROGRAM STUDI TEKNIKA

AKADEMI PELAYARAN NIAGA INDONESIA

(AKPELNI) SEMARANG2016

 

LEMBAR PENGESAHAN

 

Nama

:

Alan Nuri Utomo

N  I  T

:

12. 48. 2017

Judul

:

“PEMELIHARAAN DAN PERBAIKAN MESIN DIESEL AKASAKA TYPE A31R SEBAGAI UPAYA OPTIMALISASI KINERJA PENGOPERASIAN MV. SHINPO’’

           

Tugas Akhir dipertahankan dalam Ujian Tugas Akhir

di depan tim penguji pada         : . . . / April / 2016

 

Tugas Akhirini Telah Disetujui dan Disahkan :

Semarang, . . . April 2016

 

Pembimbing

 

 

 Drs. Pujo Prasetyo

 

Mengetahui,

Ketua Program Studi Teknika

Akademi Pelayaran Niaga Indonesia

 

 

Dalmadi.ATT-I

 

KATA PENGANTAR


            Alhamdulillah, puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat, taufiq, serta hidayah-Nya, yang telah melimpahkan kepada hambanya sehingga penyusun dapat menyelesaikan tugas karya tulis ini dengan baik. Sholawat serta salam kami panjatkan kepada baginda nabi besar Muhammad SAW, yang telah memperjuangkan agama islam dari zaman jahiliyah menuju zaman islamiyah seperti sekarang ini.

            Tugas karya tulis yang berjudul “PEMELIHARAAN DAN PERBAIKAN MESIN DIESEL AKASAKA TYPE A31R SEBAGAI UPAYA OPTIMALISASI KINERJA PENGOPERASIAN MV. SHINPO” yang terselesaikan berdasarkan data-data yang diperoleh dari hasil penelitian selama melaksanakan tugas praktek laut di kapal. Tugas karya tulis ini diajukan untuk melengkapi tugas serta memenuhi persyaratan dalam menyelesaikan Program Diploma III Teknika Akademi Pelayaran Niaga Indonesia (AKPELNI) Semarang.

            Karya tulis ini dapat selesai dan terwujud berkat bantuan, bimbingan arahan serta petunjuk dari berbagai pihak, karena itu pada kesempatan ini penulis sampaikan ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada :

1.    Capt. Achmad Sulistyo. M.M. Mar, selaku Direktur Akademi Pelayaran Niaga Indonesia Semarang.

2.    Bapak Antoni selaku pemilik perusahaan PT. SHINPO SURYA BAHARI pusat Lampung, yang telah mengijinkan untuk praktek laut.

3.    Bapak Dalmadi ATT-I, selaku Ketua Program Studi Teknika Akademi Pelayaran Niaga Indonesia Semarang.

4.    Nahkoda dan Kepala Kamar Mesin pada kapal MV.SHINPO, yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melaksanakan praktek laut.

5.    Drs. Pujo Prasetyo selaku dosen pembimbing karya tulis ilmiah yang dengan sabar telah memberikan bimbingan dan pengarahan dalam penyusunan tugas akhir ini.

6.    Seluruh masinis di kapal MV. SHINPO yang telah membimbing dan memberi pengarahan selama satu tahun dalam melaksanakan praktek laut.

7.    Bapak Puryadi ATT-I, selaku penguji materi yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan pengarahan, masukan dan petunjuk serta saran-saran yang berguna dalam penyempurnaan tugas akhir ini.

8.    Bapak/Ibu tersayang dan adik-adikku tercinta beserta keluarga yang telah memberikan dukungan baik moral maupun spiritual kepada Penulis selama penulisan tugas akhir ini.

9.    Semua pihak atau rekan-rekan yang telah memberikan motivasi dan semangat serta membantu penulis dalam penyusunan tugas akhir ini.

 

            Penulis menyadari masih banyak hal yang perlu ditingkatkan dan dikembangkan dalam penelitian ini, maka dengan tangan terbuka penulis menerima kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca.

            Akhirnya kepada semua pihak yang telah membantu dan memberikan dorongan sehingga terselesaikannya karya tulis ini, sekali lagi penulis mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya dan sukses selalu.

 

 

 

 

 

 

            Semarang, . . . April 2016

            Penulis,

 

 

         Alan Nuri Utomo

ABSTRAK

 

            Untuk mendukung operasi kapal supaya lancar tanpa hambatan tentu tidak terlepas dari perawatan mesin induk dan sistem pendukungnya sehingga memperoleh kinerja mesin induk yang optimal, sistem tersebut yaitu sistem pendingin dan sistem udara tekan (Turbo Charger).

            Pada prinsipnya, Sistem pendingin bertujuan untuk menyerap panas yang ditimbulkan dari hasil pembakaran di dalam Silinder (Ruang Bakar) pada mesin, agar temperatur mesin indukselalu konstan. Sedangkan sistem udara tekan, pada prinsipnya memanfaatkan tekanan dari gas buang yang digunakan untuk memutar Turbin, Turbin tersebut dipasang seporos dengan Blower tekan yang fungsinya untuk menyuplai udara ke Silinder (Ruang Bakar) pada mesin.

            Penelitian ini dilakukan di kapal MV. SHINPO, yang mana sumber datanya didapatkan dari interview langsungdengan Kepala Kamar Mesin (KKM), dan awak kapal lainnya khususnya awak kapal bagian mesin, serta dari dokumen-dokumen yang berkaitan dengan penelitian ini.

            Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa banyaknya kotoran yang terbawa oleh air laut yang menyebabkan tidak lancarnya sirkulasi air laut ke sistem pendingin, serta terdapatnya kerak-kerak pada pipa-pipa yang menghambat aliran air pendingin sehingga penyerapan panas tidak maksimal. Untuk Turbo Charger menunjukkan bahwa kotornya filter udara yang menyebabkan menurunnya udara tekan dan sirkulasi minyak pelumas ke Turbo Charger yang kurang lancar menyebabkan putaran Turbo Charger menjadi berat sehingga udara tekan yang dihasilkan akan menurun.

Kata Kunci : Sistem Pendingin Dan Udara Tekan (Turbo Charger)

           

 

DAFTAR ISI

 

HALAMAN JUDUL……………………………………………………....           i

HALAMAN PENGESAHAN………………………………………….....           ii

KATA PENGANTAR...………………………………………………......          iii

ABSTRAK..................................................................................................           v

DAFTAR ISI...............................................................................................          vi

DAFTAR GAMBAR ….………………………………………………....           vii

LAMPIRAN……………………………………………………………....          vii

BAB I PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang………………………………………...............           1

1.2  Identifikasi Masalah…………………………………..............             2

1.3  Ruang Lingkup Masalah…...…………………………………..        3

1.4  Tujuan Penulisan……………………………………...............            3

1.5  Manfaat Penulisan…………………………………….............            4

1.6  Sistematika Penulisan…………………………………............            4

BAB II LANDASAN TEORI

2.1  Kajian Teori.......……………………………………...............            6

2.2  Kajian Penelitian Yang Relefan..............………......................             14

2.3  Kerangka Berfikir.....................................................................           15

BAB III PEMBAHASAN

3.1  Deskripsi Data....................................………………...............          18

3.2  Pembahasan.............………………………………..................          19

BAB V PENUTUP

4.1  Kesimpulan……………………………………………...........           30

4.2  Saran………………………………………………….............          31

DAFTAR PUSTAKA                                                                              33

LAMPIRAN                                                                                                      34

 

 

DAFTAR GAMBAR

 

Gambar 2.1 Sistem Pendinginan Terbuka.........................................................10

Gambar 2.2 Sistem Pendinginan Tertutup .......................................................12

Gambar 2.3 Proses Dari Turbo Charger ..........................................................14

Gambar 3.1 Pemindah Panas Tipe Shell And Tube ..........................................21

Gambar 3.2 Pemindah Panas Tipe Plate ..........................................................21

Gambar 3.3 Pompa Air Tawar .......................................................................24

Gambar 3.4&3.5 Pompa Sentrifugal ..........................................................24-25

Gambar 3.6 Turbo Charger ............................................................................27

Gambar 3.7 Bagian Blower tekan ..................................................................28

Gambar 3.8 Bagian Turbin Gas .....................................................................29

Gambar 4.1 Mesin Induk ..............................................................................33

Gambar 4.2 Ruang Kontrol ...........................................................................33

Gambar 4.3 Mesin Kemudi ...........................................................................34

Gambar 4.4 Telegrap ....................................................................................34

Gambar 4.5 Perbaikan Turbo Charger ............................................................35

Gambar 4.6 Penulis KTI ...............................................................................36

 

 

 

 

 

 

 

 

 

            BAB I

PENDAHULUAN

 

 

1.1         Latar Belakang

Kapal adalah sarana angkutan laut yang sangat vital di Negara Indonesia, karena terdiri dari banyak kepulauan sehingga dapat menunjang perkembangan ekonomi terutama di bidang transportasi antar pulau yang aman dan efisien.

Seiring dengan kemajuan teknologi, kapal laut terus mengalami perubahan bentuk dan jenisnya sesuai dengan muatan yang diangkutnya, demikian pula dengan tenaga penggeraknya (mesin induk), lancarnya kinerja dari mesin induk tidak lepas dari peran serta pendukungnya seperti pendinginan, pelumasan dan turbo charger. Oleh karena itu perawatan atau pemeliharaan harus dilakukan sesuai jam kerja yang telah ditempuh untuk menjaga kelancaran pengoperasian kapal, karena sering terjadi kinerja mesin induk terganggu disebabkan pada pendinginan yang kurang sempurna dan menurunnya udara tekan yang dihasilkan oleh turbo charger.

Perawatan adalah factor paling penting dalam mempertahankan kehandalan mesin induk kapal, tetapi hanya beberapa perusahaan pelayaran yang mampu melakukan perawatan sesuai jam kerja yang telah ditempuh, ini dikarenakan pengeluaran biaya yang cukup lumayan. Semua tahu perawatan adalah harga mahal oleh sebab itu banyak yang mencoba menunda pekerjaan perawatan hingga besok agar dapat menghemat uang hari ini.

Sebenarnya perlu diketahui, apabila perawatan dan perbaikan tidak dilakukan sesuai jam kerja yang telah ditempuh, pengeluaran akan bertambah dua kali lipat ketika mesin induk mengalami kerusakan total, jadi jangan menunda-nunda perawatan dan perbaikan mesin.

Faktor paling utama pada pengoperasian kapal adalah ditentukan oleh kinerja mesin penggerak utama dari pada kapal tersebut, untuk itu perawatan Mesin Induk memerlukan ketelitian dan keuletan dari para Masinis kapal, karena dengan diawaki Masinis yang Profesional dan mengetahui metode perawatan yang baik dapat menjamin Kinerja Mesin Induk yang Optimal pula. Proses perawatan Mesin Induk sering mengalami masalah sehingga pengoperasian kapal tidak berjalan sesuai dengan jadwal yang ada. Atas dasar itula, maka penulis memilih Judul :“ PEMELIHARAAN & PERBAIKAN MESIN DIESEL AKASAKA TYPE A31R SEBAGAI UPAYA OPTIMALISASI KINERJA PENGOPERASIAN MV.SHINPO ”

Kerja mesin induk sangat diharapkan tidak terganggu agar kapal selalu beroperasi secara maksimal dan untuk meningkatkan efektifitas dan produktivitas yang merupakan tujuan perusahaan agar dapat melayani jasa angkutan laut tersebut.

 

1.2             identifikasi masalah

Pemeliharaan dan perbaikan mesin induk kapal (diesel) membutuhkan kemahiran dan ketelitian dari Masinis dalam menganalisa faktor-faktor apa saja yang dapat menjadi penyebab kerusakan mesin diesel tersebut, dan bagaimana perbaikan dan pemeliharaan mesin diesel dengan benar sesuai jadwal perbaikan dan pemeliharaan terencana yang tertulis di dalam buku pedoman mesin diesel (intruction manual book) tersebut. Sehingga dapat bekerja dengan baik sesuai dengan yang diharapkan oleh perusahaan.

Mengingat dalam pemeliharaan mesin diesel itu sangatlah luas maka sesuai dengan judul yang penulis ambil di atas dan berdasar kan pada pengalaman dan kejadian yang pernah terjadi di atas kapal MV. SHINPO selama penulis melaksanakan PRALA sebagai kadet mesin, ada beberapa indicator terjadinya pemeliharaan mesin induk (diesel) belum dilaksanakan sebagaimana mestinya, sehingga menyebabkan :

1.         Menurunnya kinerja mesin yang disebabkan suhu air tawar pendingin dan minyak lumas di atas batas normal

2.         Adanya penurunan tekanan udara yang dihasilkan oleh turbo charger sehingga kinerja mesin kurang optimal.

Dari kejadian-kejadian tersebut di atas otomatis akan mengganggu kinerja mesin induk (diesel) sehingga menjadi pokok permasalahan dalam menunjang operasi kapal. Maka dituntut untuk mencari cara bagaimana perbaikan dan pemeliharaan mesin diesel yang baik dan benar agar mesin diesel tersebut dapat bekerja dengan normal dan maksimal.

 

1.3         RUANG LINGKUP MASALAH

Sesuai dengan judul yang telah disetujui oleh DosenPembimbing tentang “PEMELIHARAAN DAN PERBAIKAN MESIN DIESEL AKASAKA TYPE A31R SEBAGAI UPAYA OPTIMALISASI KINERJA PENGOPERASIAN MV.SHINPO ”dalam pelaksanaannya di atas kapal masih saja terdapat gangguan-gangguan diantaranya yang akan diambil sebagai batasan masalah diatas kapal MV.SHINPO yaitu :

1.       Kurangnya perhatian dari masinis, anak buah kapal dalam hal pemeliharaan dan perbaikan terhadap mesin induk.

2.       Minimnya pengadaan spare part dari perusahaan untuk perbaikan.

Adapun data-data mesin diesel di kapal MV.SHINPO adalah kapal kargo sebagai berikut :

 

                                                Mesin induk

 

1.         Dibuat di                                                    :   Japan

2.         Model                                                         :   Akasaka diesel engine

3.         Rpm                                                             :   240

4.         Type                                                             :A31R   

5.         Horse Power                                            :   1000 Hp 

6.         Tahun pembuatan                 :   1996

 

1.4             Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan kertas kerja ini adalah selain untuk pemenuhan program pendidikan yang ditempuh penulis juga untuk meningkatkan profesionalisme sumber daya manusia khususnya di bidang kepelautan di AKPELNI SEMARANG, dimana sebagai salah satu lembaga pendidikan yang ditunjuk untuk membentuk dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang berkualitas dan professional. Hal ini sesuai surat keputusan kepala Badan Diklat Perhubungan No.233/HK.602/Diklat.98 tentang Penyelenggaraan pendidikan profesi kepelautan. Maka penulisan makalah profesi kepelautan adalah kewajiban kami dalam upaya menghasilkan lulusan program pendidikan profesi kepelautan jurusan Teknika pada ATT 3 (Ahli Teknik tingkat 3).

 

1.5             Manfaat Penulisan

Penulis berharap agar para pembaca makalah ini, khususnya anak buah kapal bagian mesin supaya mengetahui faktor – factor apa saja yang dapat menyebabkan kinerja mesin induk terganggu, dan tindakan yang harus segera dilakukan apabila terjadi masalah / kerusakan pada mesin induk kapal.

 

1.6             sistematika penulisan

Untuk memudahkan dan memahami secara keseluruhan isi karya tulis ini, maka disusun dalam bentuk yang sistematik sebagai berikut:

1.   Bagian depan / awal berisi tentang halaman judul, halaman pengesahan, kata           pengantar, abstraksi, daftar isi, daftar gambar dan daftar lampiran.

2. Bagian isi terdiri dari empat bab yaitu :

BAB I     PENDAHULUAN

                      Pada bab I pendahuluan ini memuat tentang atau berisi tentang latar             belakang, identifikasi masalah, ruang lingkup masalah, tujuan  penulisan, manfaat penulisan, dan sistematika penulisan.

BAB II LANDASAN TEORI

                      Pada bab II landasan teori ini memuat tentang atau berisi tentang kajian       teori, kajian penelitian yang relefan dan kerangka berfikir.

BAB III PEMBAHASAN

                      Pada bab III pembahasan memuat tentang atau berisi tentang deskripsi        data yang diteliti dan pembahasan.

 

 

BAB IV PENUTUP

                      Pada bab IV penutup memuat tentang atau berisi tentang kesimpulan           dan saran.

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR LAMPIRAN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

LANDASAN TEORI

 

 

2.1 KAJIAN TEORI

A. Sistem Pendinginan Mesin Induk

Menurut Hery Sonaryo dkk, (1970;75) “Perawatan dan Perbaikan Motor Diesel Penggerak Kapal”, sistem pendinginan sangat besar manfaatnya untuk menetralkan dan mengontrol temperatur motor. Sebagian panas yang berasal dari gas pembakaran harus dipindahkan secara langsung ke Fluida pendinginan, sedangkan pada bagian bawah silinder pemindahan panas ke Fluida pendinginan terjadi secara tidak langsung. Jika pendinginan tidak dapat berfungsi dengan baik, temperatur setiap bagian silinder akan naik. Keadaan ini akan mengakibatkan terjadinya kerusakan dinding ruang bakar, kemacetan cincin torak atau menguap dan terbakarnya minyak pelumas. Oleh karena itu, motor harus didinginkan dengan baik meskipun pendinginan merupakan kerugian jika ditinjau dari segi pemanfaatan energi. Namun, pendinginan merupakan keperluan untuk menjamin kelangsungan kerja mesin.

Menurut P. Van Maanen, (1990;85) “Motor Diesel Kapal Jilid I”, adalah pada saat pembakaran sebuah motor diesel akan mencapai suhu 1527 0C atau lebih. Selama awal pembuang gas-gas, setelah terjadi ekspansi dalam silinder, suhu gas pembakaran masih akan mencapai suhu 727 0C.

Dinding ruang pembakaran (tutup silinder, bagian atas torak, bagian atas lapisan silinder), katup buang dan disekitarnya, termasuk dan antara pintu buang akan menjadi sangat panas karena gas tersebut.

Untuk mencegah pengurangan besar dari kekuatan material dan perubahan bentuk secara termis dari bagian motor, maka bagian-bagian tersebut harus didinginkan.Khususnya mengenai lapisan silinder berlaku pula bahwa lapisan pelumas harus tetap dijaga kondisinya yang berarti memerlukan pendingin pula.

1. Bagian motor berikut, dalam rangka pembakaran, harus mendapatkan pendinginan :

a. Bagian dari lapisan silinder.

b. Tutup silinder.

c. Bagian atas torak.

d. Rumah katup buang dan sejenis, termasuk juga katup buang.

e. Bagian dari katup bahan bakar disekeliling pengabut.

f. Rumah turbin gas buang.

Sebagai akibat dari gesekan panas yang terjadi, jalan hantar dari motor kepala silang juga didinginkan pada motor dengan pengisian tekan suhu bilas dan suhu pembakaran udara akan meningkat akibat kompresi, didinginkan untuk mendapatkan kepekatan udara yang sebesar-besarnya (pengisian tekan sangat tergantung pula), dan untuk menurunkan suhu gas pada waktu pembakaran dan pembuangan ke turbin gas buang.

Menurut Wiranto Arismunandar, (2000;142) “Penggerak Motor Bakar Torak”, adalah gas pembakaran di dalam silinder dapat mencapai temperatur + 2500 0C, karena proses itu terjadi berulang-ulang maka dinding silinder, kepala silinder, torak, katup dan beberapa bagian yang lain menjadi panas. Sebagaian dari minyak pelumas, terutama yang membasahi dinding silinder, akan menguap dan akhirnya akan terbakar bersama-sama bahan bakar.

Kerana itu perlulah bagian tesebut mendapat pendinginan yang cukup agar temperaturnya berada dalam batas yang diperbolehkan, yaitu sesuai dengan kekuatan material dan kondisi operasi yang baik. Kekuatan material akan menurun sejalan dengan naiknyan temperatur.

Proses pendinginan menggunakan Fluida pendingin yang dialirkan ke bagian mesin di luar silinder. Motor Diesel yang besar memakai minyakpelumas untuk mendinginkan torak, yaitu dengan cara mengalirkan minyak pelumas melalui saluran di bawah kepala torak.

 

 

2. Bahan Dan Tujuan Pendinginan Pada Motor Induk

Menurut P. Van Maanen, (1990;120) “Motor Diesel Kapal Jilid I”, adalah sebagai bahan pendingin untuk motor diesel digunakan bahan sebagai berikut :

a. Air Laut

Pada kapal laut bahan pendingin air laut mudah sekali didapat dan tersedia berlimpah-limpah. Ditinjau dari tersedianya secara berlimpah-limpah, maka air laut dapat dibuang ke laut setelah digunakan sebagai bahan pendingin sehingga sistem pendinginan menjadi sederhana dalam penataannya. Meskipun memiliki sifat yang menguntungkan tersebut di atas, air laut tidak secara langsung digunakan untuk pendinginan dari bagian motor. Air tersebut mengandung antara lain persentase tinggi mineral yang larut didalamnya (± 3 proses massa). Mineral tersebut akan menjadi kristal sewaktu dipanasi yang akan membentuk kerak keras dibagian permukaan yang didinginkan. Kerak tersebut sangat keras sekali sehingga mengganggu perpindahan panas dan akan membentuk saluran pendingin yang sempit. Di samping itu dengan kadar klorida yang tinggi dari air laut, maka kemungkinan korosi dari bagian motor yang didinginkan menjadi besar.

Dengan alasan tersebut, maka air laut sebagai bahan pendingin digunakan secara tidak langsung, terkecuali kadang-kadang untuk pendinginan udara bilas dan udara pembakaran. Dengan penggunaan material khusus, maka pendingin dapat dijaga terhadap korosi dan oleh karena suhu air pendingin yang relatif rendah pengendapan dari kerak juga akan berkurang.

Air laut selalu digunakan sebagai bahan pendingin secara tidak langsung, bahan pendingin (air laut atau minyak pelumas) yang mengambil panas dari motor akan menyerahkan panas tersebut melalui sebuah alat pemindah panas (alat pendingin) ke air laut lagi

b. Air Tawar

Air tawar di atas kapal digunakan dengan efisien, karena jumlahnya yang sangat terbatas, maka dari itu pemakaiannya pun jangan berlebihan, air tidak memiliki beberapa sifat yang kurang baik. Salah satunya air tawar  tidak mengakibatkan korosi dan juga tidak mengakibatkan pengendapan kerak, sehingga dapat digunakan untuk pendinginan bagi semua bagian motor.

Karena persediaan air tawar di atas kapal sangat terbatas, sehingga selalu diusahakan penggunaannya dalam suatu siklus tertutup untuk dapat digunakan berulang kali. Siklus tertutup tersebut terdiri dari selain ruang pendingin dari bagian motor yang harus didinginkan juga saluran, keran penutup, pompa dan pesawat pendingin.

3. Tujuan dari pada bahan pendingin di atas adalah sebagai berikut :

a. Menjaga agar mesin mampu bekerja terus menerus.

b. Menjaga tenaga yang optimum.

c. Mengurangi terjadinya kerusakan mesin.

d. Menjaga temperatur agar bekerja dalam kondisi normal.

4. Jika ditinjau dari jenis Fluida pendinginnya, sistem pendingin dapat dibedakan menjadi 2 yaitu :

a. Motor dengan pendingin air.

b. Motor dengan pendingin udara.

Kedua jenis pendingin tersebut sudah tentu harus disesuaikan dengan tujuan digunakannya motor tersebut atau dapat juga didasarkan pada aspek yang lain misalnya, konstruksinya, ukurannya, beratnya, perlengkapannya, pemakaian dan perawatannya.

Pada sistem pendingin terbuka mesin didinginkan oleh air laut, yaitu air dari luar kapal yang dipompakan kedalam motor dan selanjutnya dibuang kembali keluar badan kapal. Pada saat masuk temperatur air berkisar antara 15°C dan 20°C, sedangkan pada saat keluar temperatur air berkisar antara 45°C dan 50°C. Sistem ini biasanya digunakan pada mesin kapal berukuran kecil, pada sistem pendinginan tertutup, mesin didinginkan oleh air tawar selanjutnya air tawar yang telah membawa panas tersebut didinginkan oleh air laut. Sistem ini pada umumnya digunakan untuk mesin kapal berukuran besar.

5.   Di kapal ada 2 macam sistem pendinginan yaitu :

a. Sistem Pendinginan Langsung  (Terbuka)

Sistem pendinginan langsung adalah sistem pendinginan yang menggunakan satu media pendingin saja yakni dengan media pendingin air laut. Proses pendinginannya dengan cara air laut diambil dari katup kingstone melalui filter dengan pompa air laut, kemudian air laut disirkulasikan ke seluruh bagian-bagian mesin yang membutuhkan pendinginan melalui pendingin minyak pelumas dan pendingin udara untuk mendinginkan kepala silinder, dinding silinder dan katup pelepas gas kemudian air laut dibuang keluar kapal.

Berikut ini dapat dilihat skema gambar dari sistem pendinginan terbuka :

Gambar 2.1 Sistem pendinginan langsung (terbuka)

Keterangan :

1. Sea chest                                                          A. Katup / valve           

2. Katup / valve                                                  B. Katup / valve                 

3. Saringan / filter                                             C. Katup / valve   

4. Pompa air laut                                                D. Katup / valve        

5. Katup pengaman                                               

6. Tangki pendingin (cooler)

7. Manometer (2,5 – 3,5 kg/cm2)

8. Mesin induk  

9. Pipa buang

Air laut masuk dari saringan air laut (sea chest), pada katup / valve harus dibuka terlebih dahulu setelah itu air laut akan masuk di hisap oleh pompa air laut dengan tekanan 2,5 – 3,5 kg/cm2 dan air laut akan menuju ke tangki pendingin (cooler) berikutnya air laut akan masuk ke cylinder blok main engine setelah itu air laut akan keluar kembali melalui pipa pembuangan.

b. Sistem Pendinginan Tidak Langsung (tertutup)

Sistem pendinginan tidak langsung adalah sistem pendinginan yang menggunakan dua media pendingin, yang digunakan adalah air tawar dan air laut. Air tawar dipergunakan untuk mendinginkan bagian-bagian motor, sedangkan air laut digunakan untuk mendinginkan air tawar, setelah itu air laut langsung dibuang keluar kapal dan air tawar bersirkulasi dalam siklus tertutup. Sistem pendinginan ini mempunyai efisiensi yang lebih tinggi dan dapat mendinginkan bagian-bagian motor secara merata.

Berikut ini dapat dilihat skema gambar dari sistem pendinginan tertutup :

 

                Gambar 2.2 Sistem pendinginan tidak langsung (tertutup)

Keterangan :                                                                                

A. Tangki persediaanair tawar

B. Bejana pendingin (cooler)

C. Pompa air tawar

D. Pompa air laut

E. Saringan air laut

F. Saluran buang air untuk laut

G. Saluran pemasuk untuk permukaan air yang rendah

H. Saluran pemasuk untukpermukaan air yang tinggi / keruh

Air laut masuk melalui saluran masuk menuju saringan air laut setelah itu air laut akan dihisap oleh pompa air laut sehingga air laut akan bersirkulasi menuju ke bejana pendingin (cooler) untuk mendinginkan air tawar, bersamaan air tawar mengalir dari tangki persediaan air tawar yang masuk ke cylender blok mesin induk yang akan dihisap kembali oleh pompa air tawar dan menuju ke bejana pendingin (cooler) yang didinginkan oleh air laut setelah itu air tawar akan kembali lagi ke tangki persediaan air tawar.

B. Sistem Pengisian Tekan (Turbo Charger)

Turbo charger ditemukan oleh seorang insinyur Swiss Alfred Buchi, patennya Turbo charger diaplikasikan mulai dipakai tahun 1905, pada tahun 1920an Turbo charger diterapkan pada kapal bermesin diesel dan lokomotif.  Turbo charger sendiri merupakan sebuah peralatan untuk menambah jumlah udara yang masuk kedalam silinder dengan memanfaatkan energi dari gas buang. Turbo charger merupakan peralatan untuk mengubah sistem pemasukan secara alami dengan sistem paksa, kalau sebelumnya pemasukan udara mengandalkan kevakuman yang dibentuk karena gesekan piston pada langkah isap, maka dengan turbo charger udara ditekan masuk kedalam silinder menggunakan blower yang diputar oleh turbin gas buang.

Untuk menghasilkan pembakaran yang sempurna, maka diperlukan tambahan udara yang dialirkan kedalam ruang silinder mesin pada sejumlah aliran bahan bakar tertentu. Bila kepekatan udara bertambah sebelum ditambahkan kedalam silinder, seluruh bahan bakar terbakar dan daya mesin akan bertambah. Mengingat Turbo charger sering berputar melebihi 80.000 putaran per menit maka pelumasan yang baik sangat diperlukan agar tidak mengalami kemacetan diwaktu berputar. 

1. Bagian Penting Dari Turbo Charger

a. Roda Turbin

b. Roda Blower (Kompressor)

c. Rumah As (Bushing)

2. Fungsi Dari Turbo Charger

                                      Fungsi Turbo charger yaitu untuk meningkatkan keluaran tenaga dan efisiensi mesin dengan meningkatkan tekanan udara yang masuk ke silinder (Ruang bakar) pada mesin pembakaran dalam.

3. Prinsip Kerja Turbo Charger

Yaitu proses pembuangan gas buang didalam silinder mesin dilakukan oleh piston yang mendorong gas buang hasil pembakaran,  sehingga gas buang didalam ruang bakar terdorong keluar melalui katup buang menuju saluran buang exhaust manifold. Gas buang menekan kesuatu roda turbin sehingga menghasilkan putaran, blower yang dipasang seporos dengan roda turbin menghasilkan putaran akibat terdorong oleh gas sisa hasil pembakaran yang keluar melalui cerobong mesin, sehingga menghasilkan tekanan udara, hembusan udara yang mengakibatkan terjadinya pemadatan udara masuk dengan tekanan diatas 1 Atm kedalam silinder. Selanjutnya udara yang bertekanan disalurkan ke suction manifold, kemudian masuk kedalam silinder melalui katup masuk.

Berikut ini dapat dilihat gambar dan proses dari turbo charger pada sebuah mesin :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                      Gambar 2.3 Proses dari turbo charger

 

2.2 KAJIAN PENELITIAN YANG RELEFAN

Kajian penelitian yang relefan ini di maksudkan untuk memudahkan dalam memahami dan memaparkan tugas akhir penulis sehingga para pembaca dapat lebih mudah untuk memahami.

Peristiwa yang terjadi ketika mesin bekerja :

1. Pembakaran

Adalah persenyawaan secara cepat dalam proses kimia antara bahan bakar, udara dan panas yang di kompresikan sehingga terjadi ledakan di dalam cylinder.

2. Gas buang

Adalah gas sisa pembakaran yang terdiri dari Karbon Dioksida (CO2), Sulfur Dioksida (SO2), Oksigen( O2), Air (H2O),Nitrogen (N2)  dan panas suhu yang di hasilkan.

3. Silinder Liner

Adalah suatu tempat atau ruang, dimana terjadi pembakaran yang dihasilkan antara udara dan bahan bakar yang dikompresikan, berbentuk silinder dan dilapisi oleh liner sebagai tempat bergeraknya piston naik turun.

4. Mesin induk

Adalah suatu mesin penggerak utama pada kapal yang berhubungan langsung dengan baling-baling atau propeller.

5. Piston / Torak

Adalah bagian dari mesin utama yang berfungsi untuk mengompresikan udara dan bahan bakar dalam silinder.

 

2.3 KERANGKA BERFIKIR

Kerangka Berfikir yang disusun dalam upaya memudahkan pembahasan laporan penelitian terapan yang telah dilakukan oleh penulis waktu paktek laut selama 1 tahun. Dirangkum menjadi skripsi dengan mengambil pembahasan mengenai PEMELIHARAAN DAN PERBAIKAN MESIN DIESEL AKASAKA TYPE A31R SEBAGAI UPAYA OPTIMALISASI KINERJA PENGOPERASIAN MV. SHINPO yang bahasannya tidak terlepas dari perumusan dan batasan masalah yang telah diterangkan pada bab sebelumnya, diantaranya mengenai terganggunya pengoperasiaan kapal yang disebabkan adanya masalah pada mesin induk yaitu disebabkan suhu air tawar pendingin dan minyak lumas di atas batas normal dan menurunnya tekanan udara yang dihasilkan oleh turbo charger.

A. Kerangka Konsep Penelitian 1

Suhu air tawar pendingin dan minyak lumas diatas batas normal

 

Perawatan

- Pembersihan pada saluran pipa

Sistem pendingin yang buntu

 

- Pembersihan terhadap cooler

 

- Penggantian pipa yang bocor

Faktor-faktor Penyebabnya

Pengaruh Terhadap Mesin Diesel                 

- Tersumbatnya pipa-pipa pada

sistem pendingin

 

- Tersumbatnya cooler yang

harus dibersihkan

 

- Temperatur pendingin meningkat

dan tekanan air pendingin masuk

menurun

 

- Kinerja mesin kurang maksimal

dan cepat panas

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


B. Kerangka Konsep Penelitian 2

Menurunnya tekanan udara yang dihasilkan oleh turbo charger

ger

Faktor-faktor Penyebabnya

Pengaruh Terhadap Mesin Diesel                 

- Tersumbatnya filter udara pada

Pada sisi blower oleh partikel debu

 

- Aliran minyak pelumas yang

kurang lancar

 

 

- Gas buang yang keluar dari

cerobong berwarna hitam pekat 

 

- Kinerja mesin kurang optimal

Perawatan

- Pembersihan pada filter udara, roda

blower maupun roda turbin

 

- Pembersihan pada filter oli

 

- Penggantian bushing yang sudah

melewati jam kerja

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


BAB III

PEMBAHASAN

 

3.1  DESKRIPSI DATA

A. Sistem Pendinginan Mesin Induk

Sebagai bahan pendingin yang baik untuk mesin induk di kapal dapat digunakan air, karena penyerapan panas oleh air lebih baik dibanding minyak pelumas atau udara. Sistem pendinginan yang ada di kapal tempat penulis mengadakan praktek laut menggunakan air tawar sebagai pendingin motor induk, dimana air tawar tersebut didinginkan oleh air laut atau bisa disebut juga dengan sistem pendinginan tertutup, ini karena air laut ini menyerap panas yang ada didalam Cooler. Apabila didalam sistem sirkulasi air pendingin terjadi gangguan dan kerusakan maka akan sangat mempengaruhi kinerja sebuah mesin.

Berdasarkan pengamatan penulis, gangguan dan kerusakan yang sering terjadi pada mesin induk pada saat kapal beroperasi adalah naiknya temperatur air tawar pendingin dan minyak lumas di atas normal serta menurunnya tekanan udara yang dihasilkan oleh Turbo Charger.

B. Sistem Pengisian Tekan (Turbo Charger)

Semua motor bakar membutuhkan udara dalam pembakaran bahan bakar, pada putaran tinggi konsumsi udara dalam ruang bakar pada umumnya sering terlambat atau kurang padat, hal ini disebabkan karena terlalu sedikit waktu yang diberikan untuk memasukkan udara dari luar ke dalam ruang bakar. Oleh karena itu Turbo Charger ini dapat membantu proses pemasukan udara ke dalam ruang bakar. Turbo Charger sendiri adalah kompresor sentrifugal yang mendapat daya dari turbin yang sumber tenaganya berasal dari asap gas buang pada mesin, Turbo Charger dalam penerapannya digunakan untuk meningkatkan daya keluaran mesin, dengan cara memasukkan udara ke dalam silinder (ruang bakar) sebanyak-banyaknya agar proses pembakaran bahan bakar di dalam ruang bakar lebih baik dalam hal ini bahan bakar yang dimasukkan ke ruang bakar  bisa terbakar semua.

Disamping itu Turbo Charger memerlukan perawatan yang dilakukan secara teratur sesuai jam kerja yang telah ditempuh agar tidak terjadi kerusakan diwaktu berputar. Berdasarkan pengamatan penulis, gangguan dan kerusakan yang sering terjadi pada Turbo Charger yaitu terletak pada filter udara yang sering kotor oleh partikel debu serta pelumasan pada poros putar yang kurang lancar.  

3.2  PEMBAHASAN

    Dengan pembahasan masalah ini, penulis hanya membahas dua factor yang menjadi penyebab adanya gangguan pada mesin induk kapal diwaktu beroperasi, yaitu :

A.     Temperatur Air Tawar Pendingin Dan Minyak Lumas Mesin Induk Diatas Batas Normal

Naiknya temperatur air tawar pendingin dan minyak lumas diatas batas normal dapat disebabkan oleh beberapa hal antara lain :

1.  Tersumbatnya filter sea chest

Tersumbatnya filter sea chest dapat menyebabkan naiknya temperatur air tawar pendingin dan minyak lumas diatas batas normal, karena air laut yang digunakan untuk mendinginkan air tawar melalui Cooler tidak bisa masuk atau tidak bisa mengalir ke sistem pendingin mesin induk. Kapal di tempat penulis melaksanakan (PROLA) sering masuk di muara kapuas Pontianak yang perairannya tidak begitu dalam untuk ukuran kapal dengan draft 5,8 meter sehingga filter sea chest sering tersumbat oleh lumpur maupun sampah.

Tindakan yang harus segera diambil matikan pompa air laut, tutup kran sea chest, buka tutup wadah filter dan angkat filternya untuk dibersihkan, setelah dibersihkan pasang kembali filter tersebut, pasang penutupnya, buka kran sea chest lalu nyalakan lagi pompa air laut.

2.  Cooler tidak bekerja dengan baik

            Cooler tidak bekerja dengan baik dikarenakan ada salah satu atau beberapa susunan pipa-pipa kapiler yang terdapat di dalam Cooler buntu karena tersumbat oleh kerak sehingga air laut yang masuk ke dalam Cooler tidak bisa mengaliri pipa-pipa kapiler yang buntu, Sehingga Cooler tidak bisa memindahkan panas dari air tawar maupun minyak lumas ke air laut secara baik, ini bisa menyebabkan temperatur air tawar pendingin dan minyak lumas naik diatas batas normal.   

Untuk mengatasi hal ini maka perlu dilakukan pembersihan Fresh Water Cooler dan LO Cooler tersebut. Cara melakukan pembersihan Fresh Water Cooler yaitu dengan menyodok ke dalam pipa kapiler. Adapun cara melakukannya pertama-tama penutup Cooler pada kedua ujung dibuka setelah air keluar barulah menyodok Cooler dengan memasukkan alat sodok ke dalam lubang-lubang pipa kapiler. Setelah di sodok kita lakukan pencucian Cooler dengan cara menyemprotkan air ke dalam lubang pipa kapiler dengan tekanan air yang lebih tinggi agar kotoran yang ada di dalam pipa kapiler semuanya keluar. Sebelum menutup Cooler harus di cek kedua tutup Cooler jangan sampai ada kotoran yang menempel pada kedua penutup cooler tersebut. Berikut ini dapat dilihat gambar diri sebuah Cooler

     Gambar 3.1 Pemindah panas tipe shell and tube

     Gambar 3.2 Pemindah Panas Tipe Plate

 

 

3.  Kurangnya volume air tawar di tangki ekspansi  

Air tawar ini sangat berpengaruh dalam sistem pendingin, sebab berfungsi untuk menyerap panas dari mesin agar temperatur kerja mesin tetap. Apabila terjadi kekurangan air tawar maka akan menyebabkan meningkatnya temperatur di dalam mesin sebab proses penyerapan panas berkurang, dimana air tawar yang ada dengan panas yang diterima tidak sebanding sehingga panas akan cenderung naik akibat dari perpindahan panas yang ada akan merambat dari temperatur yang tinggi ke temperatur yang rendah. Kekurangan air tawar dapat disebabkan oleh pemuaian yang terjadi pada air tawar saat menyerap panas didalam mesin, adanya kebocoran didalam instalasi sistem pendingin, dan juga disebabkan pembukaan keran-keran yang tidak terbuka penuh sehingga sering Terjadinya pemuaian pada air pendingin ketika menyerap panas didalam mesin, menyebabkan berkurangnya air pendingin didalam sistem.

Untuk mengatasi hal ini maka perlu dilakukan penambahan air pendingin ke dalam tangki ekspansi hingga batas maksimal tangki yang telah ditentukan pada gelas duga. Disamping itu kita juga perlu melakukan pemeriksaan setiap saat  terhadap pembukaan kran-kran isap dan tekan dalam instalasi sistem pendingin air tawar, karena biasanya dengan adanya getaran dari motor induk yang kuat sehingga kran-kran tersebut akan menutup secara  perlahan-lahan  sehingga sirkulasi air pendingin yang mengalir didalam sistem akan berkurang.

4. Tekanan pompa air tawar menurun

Untuk mensirkulasikan air pendingin didalam sistem diperlukan sebuah pompa dengan tekanan 2 kg/cm2. Akibat adanya gangguan pada komponen pompa sehingga tekanan pompa menurun menjadi 1,2 kg/cm2. Di kapal tempat penulis melaksanakan proyek laut (prola) pompa yang digunakan adalah jenis pompa sentrifugal dengan tekanan 2 kg/cm2 yang digerakkan oleh motor listrik.

Apabila tekanan pompa ini menurun maka air pendingin yang disirkulasikan didalam sistem berkurang sehingga proses penyerapan panas pada bagian-bagian mesin induk akan berkurang dan mengakibatkan temperatur mesin dan air pendingin meningkat naik. Menurunnya tekanan pompa dapat disebabkan  adanya kerak-kerak yang menempel pada sudu-sudu Impeller pompa, terjadinya keausan atau kerusakan pada Bearing Shaft yang dapat mempengaruhi putaran pompa. Masuknya udara didalam sistem juga dapat menyebabkan turunnya tekan pompa tersebut.

Tindakan yang dilakukan yaitu memeriksa keadaan sudu-sudu Impeller dari kerak-kerak yang mungkin menempel pada suhu-suhu tersebut. Dan jika hal ini terjadi maka perlu dilakukan pembersihan terhadap sudu-sudu Impeller sebab kerak-kerak yang menempel itu dapat memperberat putaran dari Impeller dan dapat memperkecil tekanan air yang dihisap dan ditekan oleh sudu-sudu Impeller pompa. Periksa keadaan Bearing (bantalan) Shaft pompa dari keausan dan kerusakan, karena hal ini dapat mempengaruhi putaran pompa. Dan bila terjadi keausan serta kerusakan pada Bearing Shaft pompa sebaiknya diganti dengan yang baru, sesuai dengan ukurannya. Perlu juga memberikan gemuk (Grease)  untuk pelumasan pada Bearing tersebut agar dapat berputar secara normal. Berikut ini dapat dilihat gambar dari sebuah pompa air tawar :

                                 Gambar 3.3 Pompa air tawar

Keterangan :

A. Stuffing box                                 G.    Eye of Impeller

B. Packing                                          H.    Impeller

C. Shaft                                               I.     Casing wear ring

D. Shaft sleeve                                J.     Impeller

E. Vane                                                K.    Discharge nozzle

F. Casing

                Gambar 3.4 Pompa Sentrifugal

                Gambar 3.5 Pompa Sentrifugal

5.  Adanya kebocoran pipa

Adanya kebocoran pipa akan mempengaruhi tekanan isap ataupun tekanan pompa sirkulasi air pendingin. Dengan terjadinya kebocoran pipa maka air tawar pendingin akan terbuka keluar sehingga dapat menyebabkan berkurangnya air tawar pendingin didalam sistem, juga kebocoran pipa memungkinkan udara masuk ke dalam sistem dan bercampur dengan air pendingin sehingga menyebabkan turunnya tekanan air pendingin. Dan bila tekanan air pendingin menurun jelas kapasitas air akan berkurang untuk mendinginkan bagian-bagian mesin, sehingga mesin cepat menjadi panas dan temperatur air pendingin menjadi meningkat. Terjadinya kebocoran pipa dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain; faktor umur, karena pipa sudah tua sehingga menimbulkan korosi, kurangnya perawatan yang baik terhadap pipa dan sambungan pipa yang tidak bagus pengelasannya.

Tindakan yang harus diambil jika terjadi kebocoran pada pipa air pendingin adalah tindakan yang dilakukan secara cepat dan tepat. Dimana tindakan ini bersifat sementara yaitu dengan cara membalut atau menyumbat lubang pada pipa yang bocor. 

Tindakan ini dilakukan agar kapal dapat berjalan kembali dengan normal. Tetapi bila kebocoran pipa cukup besar dan tidak     memungkinkan dengan cara membalut atau menyumbat pada kebocoran tersebut maka segera dilakukan pengelasan untuk menutupi kebocoran. Apabila pipa yang bocor tersebut sudah terlalu rapuh dan tidak memungkinkan lagi untuk dapat di las maka perlu diganti yang baru dengan mengikuti ukuran yang lama.

B.      Menurunnya Tekanan Udara Yang Dihasilkan Oleh Turbo Charger

                         Menurunnya tekanan udara yang dihasilkan oleh Turbo Charger dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain :

1. Tersumbatnya filter udara

Filter udara ini sangat berpengaruh pada Turbo Charger, sebab berfungsi untuk menyaring udara yang akan masuk ke ruang bakar (Silinder) jadi partikel-partikel debu yang dibawa udara (angin) tidak ikut masuk ke ruang bakar melainkan tertahan oleh filter. Seiring dengan berjalannya waktu lama kelamaan filter udara akan menjadi sangat kotor, hal ini sangat berpengaruh terhadap tekanan udara yang dihasilkan Turbo Charger, tekanan akan menurun ini di karenakan udara sulit terhisap oleh blower Turbo Charger.

Hal ini dapat ditanggulangi dengan cara mengganti saringan elemen turbo charger dan membersihkan sudu-sudu blower side turbo charge dengan disemprot treatment CF 100 TC, bagian dalam dari Turbo Charge (TC) dibersihkan dengan OSD 817/ACC-9 agar kotoran yang menempel pada ruang TC itu hilang, dan cooler pendingin udarapun harus kita perhatikan jangan sampai buntu. Dengan normalnya tekanan udara maka diharapkan udara yang ditekan oleh turbo charger ke ruang pembakaran melalui intercooler dapat menghasilkan pembakaran yang sempurna sehingga mesin diesel tersebut dapat menghasilkan tenaga yang optimal.

 

2. Putaran Turbo Charger melambat

Putaran Turbo Charger melambat meskipun mesin pada putaran tinggi, ini dikarenakan pelumasan poros putar pada Turbo Charger tidak berjalan dengan baik, hal ini mengakibatkan poros berat untuk berputar sehigga tekanan udara akan menurun.      

                                             Tindakan yang harus dilakukan, segera matikan mesin induk agar Turbo Charger tidak mengalami kerusakan yang parah, buka filter pelumas yang menuju ke Turbo Charge cuci filter tersebut menggunakan minyak Solar setelah dibersihkan pasang kembali ke tempatnya kemudian start lagi mesin induk untuk mencoba apakah putaran Turbo Charger sudah normal atau belum, apabila putaran turbo masih berat matikan mesin induk lagi selanjutnya melakukan pembongkaran Turbo Charger untuk mengganti bearing atau bushingnya.

 

                               

                                            Gambar 3.6 Turbo Charger

                                            Gambar 3.7 Bagian Blower Tekan

                                             Gambar 3.8 Bagian Turbin Gas

 

BAB  IV

PENUTUP

 

 

4.1 KESIMPULAN

Berdasarkan dari uraian pada bab sebelumnya, maka penulis mengambil beberapa kesimpulan dengan harapan dapat memberikan pedoman dan membantu menyelesaikan masalah yang terjadi di atas kapal, khususnya dalam hal melakukan perawatan dan perbaikan apabila terjadi naiknya temperatur air pendingin maupun temperatur minyak lumas pada batas normal dan turunya udara tekan Turbo Charger  pada mesin induk yaitu sebagai berikut :

1.    Kurangnya penyerapan panas pendingin air tawar disebabkan oleh banyaknya endapan kotoran yang masuk dan menempel pada Fresh Water Cooler sehingga proses penyerapan panas oleh air pendingin terhambat karena adanya endapan kotoran tersebut, yang akan berdampak buruk pada komponen-komponen mesin lainnya.

2.    Menurunnya tekanan pendingin air laut yang masuk kedalam  Fresh Water Cooler juga dapat mempengaruhi proses penyerapan panas, hal ini dapat  disebabkan karena saringan yang kotor atau juga tekanan pompa yang    telah menurun.

3.    Filter udara yang kotor juga dapat mempengaruhi menurunnya tekanan udara yang dihasilkan oleh Turbo Charger, kotornya filter udara oleh partikel-partikel debu dapat menyumbat aliran udara yang dihisap atau masuk ke Turbo Charger.

4.    Putaran turbo Charger yang melambat dapat mempengaruhi turunnya tekanan udara yang dihasikan meskipun mesin pada putaran tinggi, hal ini dikarenakan pelumasan terhadap poros putar kurang lancar.

4.2 SARAN

Dari kesimpulan di atas maka penulis dapat memberikan saran mengenai permasalahan yang di bahas dalam bab sebelumnya, yang mana saran tersebut semoga dapat dijadikan pedoman dalam menyelesaikan masalah yang terjadi di atas kapal, antara lain sebagai berikut :

 

1.    Guna menghindari terjadinya proses penyerapan panas yang tidak maksimal maka hendaklah dilakukan pembersihan Fresh Water Cooler terhadap endapan kotoran yang menempel didalam Cooler tersebut secara berkelanjutan sesuai dengan jadwal perawatan.

2.    Guna mendapatkan besarnya tekanan air pendingin yang memadai masuk kedalam Fresh Water Cooler maka perlu dilakukan pembersihan Filter (saringan) sea chest secara berkelanjutan, begitu pula dengan pengecekan pompa sesuai dengan jadwal perawatan pompa.

3.    Guna mendapatkan tekanan udara dari Turbo Charger yang maksimal maka perlu dilakukan pembersihan atau penggantian filter udara supaya udara yang masuk ke Silinder (ruang bakar) lebih banyak.

4.    Untuk menghindari terjadinya kerusakan pada Turbo Charger karena pelumasan poros putar yang kurang lancar, maka perlu dilakukan pembersihan filter minyak lumas yang ke Turbo Charger.

 

 

 

 

 

 

 

                                DAFTAR PUSTAKA

 

1.     Boentarto, Drs. Mengatasi Kerusakan Mesin Diesel, Cetakan I, Jakarta 2000, Penerbit Puspa Swara, Anggota IKPI.

2.     Henshall, S.H. Medium Speed Diesel Engine, The Institute Of Marine Engineer, London, 1973.

3.     John M. Downard, Manajemen Kapal, Edisi Ke-1, Cetakan Pertama, Penerbit Departemen Perhubungan, Jakarta.

4.     Moedjiman R. SH. Pedoman Penulisan Makalah Profesi Kepelautan, Edisi Ke-1, Cetakan Pertama, Penerbit BP3IP, Jakarta.

5.     P. Van Mannen, Mesin diesel Kapal, Cetakan Kedua Penerbit Departemen Perhubungan, Jakarta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                      DAFTAR LAMPIRAN

 

Gambar 4.1 Mesin Induk

 

                   Gambar 4.2 Ruang Kontrol

                           

                                                      Gambar 4.3 Mesin Kemudi

 

                                                                  Gambar 4.4 Telegrap

 

Gambar 4.5 Perbaikan Turbo Charger

 

Gambar 4.6 Penulis KTI

 

 

Comments

Popular posts from this blog

latihan soal pasca att 3 (Use English in written and oral form)

latihan soal pasca att3 Maintance and repair of electrical and electronic equipment

Mengelolapengoperasianperalatanmesinpendorong(Managethe operationofpropulsion plant)