MENINGKATKAN PERAWATAN SISTIM INSTALASI MESIN PENDINGIN GUNA MENCAPAI SUHU RUANGAN PENDINGINAN BAHAN MAKANAN YANG DI INGINKAN PADA KM. DORAEMON
KARYA TULIS
MENINGKATKAN PERAWATAN SISTIM INSTALASI MESIN PENDINGIN GUNA MENCAPAI SUHU RUANGAN PENDINGINAN BAHAN MAKANAN YANG DI INGINKAN PADA KM. DORAEMON

Diajukan Guna Melengkapi Syarat-syarat Untuk Menyelesaikan
Program Diploma III Program Studi Teknika
Akademi Pelayaran Niaga Indonesia
Disusun oleh:
Uun Tio Hartanto
12.48.2173
PROGRAM STUDI TEKNIKA
AKADEMI PELAYARAN NIAGA INDONESIA
(AKPELNI) SEMARANG
2016
AKADEMI PELAYARAN NIAGA INDONESIA
(AKPELNI)
PENGAJUAN JUDUL TUGAS AKHIR
Yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : UUN TIO HARTANTO
NIT : 12.48.2173
Jurusan : Teknika
Mengajukan judul karya tulis ilmiah dengan pokok-pokok masalah dan pendekatan pemecahan masalah.
Judul : 1). MENINGKATKAN PERAWATAN SISTIM INSTALASI MESIN PENDINGIN GUNA MENCAPAI SUHU RUANGAN PENDINGINAN BAHAN MAKANAN YANG DI INGINKAN PADA KM. DORAEMON
Pokok-pokok masalah :
1) Tidak tercapainya suhu ruangan pendingin untuk daging, ikan dan sayuran yang sesuai dengan temperatur yang diinginkan.
2) Kurangnya perawatan instalasi mesin pendingin.
Pendekatan pemecahan masalah :
1) Proses penyerapan panas yang tidak optimal pada instalasi mesin pendingin
2) Kurang melaksanakan perawatan sesuai dengan ketentuan buku petunjuk
Menyetujui Semarang, Maret 2016
Dosen pembimbing Taruna
(Eko Nur Hidayat, S.E Mkom ) (Uun Tio Hartanto)
ABSTRAK
Meningkatkan perawatan sistim instalasi mesin Pendinginguna mencapai suhu ruangan pendinginan bahan makanan yang di inginkan pada KM Doraemon.
Mesin-mesin pendingin ini semakin banyak dimanfaatkatkan baik didarat maupun diatas kapal, seirama kemajuan teknologi dan meningkatnya taraf hidup. Penggunaan yang umum adalah untuk mengawetkan bahan-bahan makanan,daging dan sayuran.
Pada suhu biasa (suhu kamar) bahan makanan cepat menjadi busuk ( karena pada temperatur biasa bakteri akan berkembang cepat). Sedangkan pada suhu 2°C (suhu yang biasa untuk pendingin makanan), bakteri berkembang sangat lambat sehingga makana akan lebih tahan lama. Jadi pengawetan bahan makanan tersebut dengan cara mendinginkannya.
Sebagai calon seorang masinis harus memahami cara kerja suatu sistem pendingin, perawatan dan konstruksi bagian- bagian yang utama. Disamping itu penguasaan teori sangat diperlukan dalam menganalisis gejala- gejala dalam kerusakan sehingga cepat menemukan kerusakan tanpa membongkar bagian- bagian lain yang sebenarnya tidak rusak. Jadi teori disini membantu dalam menganalisa gangguan cara memperbaiki dan memilih alat/ bahan secara tepat.
Perawatan yang tidak sesuai dengan buku petunjuk perawatan dan kurangnya perawatan secara terencana terhadap instalasi mesin pendingin mengakibatkan buntunya pipa pengembalian minyak lumas ke kompresor dan silica gel yang tidak dapat berfungsi lagi menyerap uap air yang terdapat dalam udara.
pengoptimalan proses penyerapan panas pada instalasi mesin pendingin dengan cara sebagai berikut :
· Penceratan minyak lumas di evaporator
· Perawatan terhadap oil separator
· Pembuangan udara yang terdapat di dalam sistem
· Perawatan terhadap dehydrator
ABSTRAC
Improving care system installation Cooling engine cooling to room temperature in the desired foodstuffs at KM Doraemon .
Now day’s refrigerator machine of food is used in many places either it is on the land or on the ship. It is because of the development of standard of life. The function of this tool is for preserving the food’s and for keeping the temperature of the vegetable(or as air condition).
In normal temperature (temperature of the room), the food can not be durable because on this temperature, the germs is growing easily. While on 2 degree is the normal temperature for the cooling the food or this temperature. The breeding of germ also can be prevented so the food can be durable. In condition, preservation of food can be done by using the cooling machine.
An officer has to know how to operate the cooling machine. To take care of it and to construct its main parts. Beside of that, the knowledge of theory about this is very needed to analyze the indication of damage of this too so he can fix it immediately without taking apart another parts which are still in a good condition. So this theory is very helpful to analyze the indication of damage of the tool, and the way to fix it, and the way to choose the tool or material.
C. KERANGKA BERFIKIR

DAFTAR CREW LIST
Nama Kapal : KM. DORAEMON
Pemilik Kapal : PT. TIRTA SARANA INDO LINES
Bendera : Indonesia
| NO | LAMA | JABATAN | IJAZAH LAUT |
| 1. | Susilo Prayitno | Nakhoda | ANT - IV |
| 2. | Abdullah Sofyan | Mualim - I | ANT - V |
| 3. | Tatak Sukmo N | Mualim - II | ANT - IV |
| 4. | Fatchurochman | K K M | ATT - III |
| 5. | Tonny Ardiyanto | Masinis - II | ATT - V |
| 6. | Rudi Setiawan | Masinis - III | ATT - V |
| 7. | Albar | Serang | ANT - D |
| 8. | Ulil Amri | Juru Mudi | ANT - D |
| 9. | Burhanudin | Juru Mudi | ANT - D |
| 10. | Sugeng Santoso | Juru Mudi | ANT - D |
| 11. | Yohanis | Juru Minyak | ANT - D |
| 12. | Abdul Aziz | Juru Minyak | BST |
| 13. | Dyan Teddy | Juru Minyak | BST |
| 14. | Ryan Febri | Kelasi | BST |
| 15. | Amin | Kelasi | BST |
| 16. | Bayu Dwi | Kadet Deck | BST |
| 17. | Uun Tio Hartanto | Kadet Mesin | BST |
“THE SEA IS MY CASTLE”
ABSTRAK
Mesin-mesin pendingin saat ini semakin banyak di manfaatkan baik di darat maupun diatas kapal. Penggunaan yang umum adalah untuk mengawetkan atau menyimpan persediaan bahan makanan seperti daging, ikan, sayuran dan buah-buahan. Namun adapun permasalahan yang dialami mesin pendingin karena tidak tercapainya suhu ruangan pendingin untuk daging, ikan, sayuran dan buah-buahan. Karena kurangnya perawatan instalasi mesin pendingin untuk itu maka kita harus melakukan pengoptimalan proses penyerapan panas pada instalasi mesin pendingin dan melakukan perawatan mesin pendingin sesuai dengan buku petunjuk perawatan instalasi mesin pendingin. Karena tidak optimalnya penyerapan panas oleh instalasi mesin pendingin yang terjadi di evaportor. Perawatan yang tidak sesuai dengan buku petunjuk perawatan mengakibatkan buntunya pipa pengembalian minyak lumas kekompresor tidak dapat berfungsi lagi menyerap uap air yang terdapat dalam udara.
ABSTRAK
Mesin-mesin pendingin saat ini semakin banyak di manfaatkan baik di darat maupun diatas kapal. Penggunaan yang umum adalah untuk mengawetkan atau menyimpan persediaan bahan makanan seperti daging, ikan, sayuran dan buah-buahan. Namun adapun permasalahan yang dialami mesin pendingin karena tidak tercapainya suhu ruangan pendingin untuk daging, ikan, sayuran dan buah-buahan. Karena kurangnya perawatan instalasi mesin pendingin untuk itu maka kita harus melakukan pengoptimalan proses penyerapan panas pada instalasi mesin pendingin dan melakukan perawatan mesin pendingin sesuai dengan buku petunjuk perawatan instalasi mesin pendingin. Karena tidak optimalnya penyerapan panas oleh instalasi mesin pendingin yang terjadi di evaportor. Perawatan yang tidak sesuai dengan buku petunjuk perawatan mengakibatkan buntunya pipa pengembalian minyak lumas kekompresor tidak dapat berfungsi lagi menyerap uap air yang terdapat dalam udara.
Pada waktu saya melaksanakan praktek laut di atas kapal KM. DORAEMON kapal saya mengalami permaslaahan tidak dinginnya suhu rangan instalasi mesin pendingin sesai denagn suhu yang diinginkan yang mengakibatkan bahan makanan seperti daging, ikan, sayuran dan buah-buahan mudah busuk. Kaena tidak rutinnya perawatan terhadap instalasi mesin pendingin. Perawatan hanya dilakukan apabila instalasi mesin pendingin mengalami kerusakan maka setelah terjadi maslaah tidak dinginya instalasi mesin pendingin barulah masinis melakukan perawatan terhadap instalasi mesin pendingin. Setelah melakukan perawatan dan suhu instalasi mesin pendingin normal. Seluruh perwira mesin atau masinis dan cadet mengadakan rapat dan saya sebgai cadet memberi saran agar perawatan instalasi mesin pendingin dilakukan sesuai manual book buku pedoman. Perawatan instalasi mesin pendingin didalam buku pedoman manual book perawatan instalasi mesin pendingin dilakukan sesuai manual book perawatan instalasi mesin pendingin dilakukan dengan cara sebagai berikut
· Perawatan harian
· Perawatan mingguan
· Perawatan bulanan
· Perawatan 3 bulan
· Perawatan 6 bulan
Dan perawatan berkala (PMS) dilakukan setiap 3 bulan.
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL................................................................................................. i
LEMBAR PENGAJUAN JUDUL........................................................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN................................................................................... iii
KATA PENGANTAR............................................................................................... iv
DAFTAR ISI............................................................................................................. vi
ABSTRAK................................................................................................................ vii
BAB I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang....................................................................................... 1
1.2. Identifikasi Masalah................................................................................ 1
1.3. Pembatasan Masalah.............................................................................. 2
1.4. Tujuan dan manfaat Penelitian................................................................. 2
1.5. Metode Pengumpulan Data..................................................................... 2
1.6. Sistematika Penulisan.............................................................................. 4
BAB II. LANDASAN TEORI
2.1 Kajian Teori............................................................................................ 8
2.2 Kajian Penelitian...................................................................................... 12
2.3 Kerangka Berfikir.................................................................................... 14
BAB III. PEMBAHASAN
3.1 Deskripsi Data......................................................................................... 15
3.2 Pembahasan............................................................................................ 16
BAB IV. PENUTUP
4.1 Kesimpulan.............................................................................................. 26
4.2 Saran....................................................................................................... 27
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................
LAMPIRAN..............................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kapal pelayaran niaga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk melakukan pelayaran dari suatu pelabuhan ke pelabuhan lainya apalagi kapal –kapal yang alur pelayarnnya ocean going. Maka dari itu kita membutuhkan banyak persediaan cadangan makanan agar kita bisa bekerja dengan baik dan operasional kapal tidak terganggu. Dan dari pada itu untuk menyimpan persediaan bahan makanan seperti daging, ikan, mentega dan lainya agar biasa bertahan lama diperlukanlah suatu instalasi mesin pendingin untuk menyimpan persediaan cadangan makanan tersebut agar tidak cepat busuk dan dapat bertahan lama termasuk makanan segar seperti buah – buahan dan sayuran.Sehingga dengan adanya hal tersebut maka penulis memilih judul “MENINGKATKAN PERAWATAN SISTIM INSTALASI MESIN PENDINGIN GUNA MENCAPAI SUHU RUANGAN PENDINGINAN BAHAN MAKANAN YANG DIINGINKAN PADA KM. DORAEMON”.
B. Identifikasi Masalah
Dalam hal ini pokok-pokok permasalahan yang penulis cantumkan antara lain:
1. Tidak tercapainya suhu ruangan pendingin untuk daging, ikan dan sayuran yang sesuai dengan temperatur yang diinginkan.
2. Kurangnya perawatan instalasi mesin pendingin
C. Ruang Lingkup Masalah
. Mengingat luanya permasalahan dalam seluruh kegiatan pada saat meningkatkan perawatan sistim instalasi mesin pendingin, maka penulis akan menceritakan seluruh kegiatan pada saat meningkatkan perawatan sistim instalasi mesin pendingin guna mencapai suhu ruangan pendinginan bahan makanan yang diinginkan pada KM. DORAEMON.
D. Tujuan Penulisan
1. Untuk mencari data guna untuk keperluan pengoperasian dan perawatan instalasi mesin pendingin.
2. Memenuhi persyaratan kelulusan dari program Diploma III Jurusan Teknika di Akademi Pelayaran Niaga Indonesia (AKPELNI) Semarang.
3. Melatih penulis untuk menuangkan pemikiran dan pendapat dalam bahasa yang deskriptif yang dapat dipertanggung jawabkan.
E. Metode Pengumpulan Data
a. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian berlangsung ketika penulis melaksanakan praktek berlayar (prola) selama kurang lebih dua belas bulan dua puluh hari di sebuah perusahaan PT. Tirta Sarana Indolines dengan salah satu kapal cargo yang bernama KM. DORAEMON.
b. Teknik Pengumpulan Data
1. Observasi
Teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara terjun langsung kelapangan, dengan melakukan pengamatan langsung terhadap instalasi mesin pendingin untuk bahan makanan.
Dalam observasi ini dilakukan pengamatan antara lain :
a) Bagian – bagian utama dari sistim, fungsi dan cara kerja mesin pendingin
b) Cara pengoperasian mesin pendingin
c) Termometer ruangan daging, ikan dan sayuran
d) Pipa setelah katup expansi
e) Manometer tekanan kompressor
f) Perawatan dan pemeliaharaan mesin pendingin
g) Permasalahan saat beroperasi
2. Diskusi
Diskusi ini dilakukan dengan masinis I, masinis II, dan masinis
3. Dokumentasi
Dalam dokumentasi arsip dan dokumen – dokumen kapal digunakan untuk melengkapi data – data yang di peroleh, sehingga data tersebut lebih akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Dokumen – dokumen kapal yang dijadikan referensi adalah :
a. Buku petunjuk manual ( instruktionmanual Book )
b. Daftar pengecekan kamar mesin ( Engine Look Book ) KM. DORAEMON
4. Studi Pustaka
Teknik ini diambil dengan cara mengambil referensi dari buku – buku teori yang relevan yang berkaitan dengan permasalahan mesin pendingin.
c. Populasi dan Sampel
Penelitian dilakukan di perusahaan Tirta Sarana Indolines mengoperasikan 8(delapan) kapal yang memiliki instalasi mesin pendingin.
Sampel diambil pada pada kapal KM.DORAEMON yang memiliki 2 buah instalasi mesin pendingin.
d. Teknik Analisa
Metode yang digunakan untuk menganalisa data yang ada dalam tugas akhir ini adalah menggunakan metode deskriptif, dimana dalam penulisan tugas akhir ini memaparkan semua kejadian atau peristiwa yang terjadi di kapal yang berhubungan dengan mesin pendingin bahan makanan.
F. Sistematika Penulisan
Untuk memudahkan dalam mengikuti seluruh uraian dan bahasan atas tugas akhir dengan judul “Meningkatkan Perawatan Sistim Instalasi Mesin Pendingin Guna Mencapai Suhu Ruangan Pendingin Bahan Makanan yang Diinginkan Pada KM.DORAEMON”. Maka penulisan tugas akhir dilaksanakan dengan sistematika sebagai berikut :
Mengemukakan tentang masalah dan alasan pemilihan judul, maksud dan tujuan pembahasan serta permasalahan pokok yang timbul dalam kertas kerja ini. Manfaat yang dapat diambil dari pembahasan kertas kerja ini ditujukan untuk perwira dan ABK kapal atau bagi kita yang masih duduk dibangku kuliah. Dalam pembahasan akan di jelaskan secara rinci dan teratur tentang meningkatkan perawatan sistim instalasi mesin pendingin guna mencapai suhu ruangan pendingin bahan makanan yang diingingkan pada KM. DORAEMONyang pada akhirnya ditemukan penyelesaian masalah tersebut.
A. LATAR BELAKANG
B. IDENTIFIKASI MASALAH
C. RUANG LINGKUP MASALAH
D. PEMECAHAN MASALAH
E. TUJUAN PENULISAN
F. METODE PENGUMPULAN DATA
a. Waktu dan Tempat penelitian
b. Teknik Pengumpulan Data
c. Populasi dan Sampel
d. Teknik Analisis
G. SISTEMATIKA PENULISAN
BAB II LANDASAN TEORI
Pemasalahan tentang kru kapal yang kurang terampil dalam proses meningkatkan perawatan sistim instalasi mesin pendingin guna mencapai suhu ruangan pendingin bahan makanan yang diingingkan pada KM. DORAEMON menyebabkan mesin instalasi pendingin tidak bekerja secara maksimal. Pengertian tentang istilah-istilah yang berhubungan dengan pembahasan ini sangat dibutuhkan, mengingat kita tidak semuanya mengerti dengan istilah yang ada. Pentingnya perawatan meningkatkan perawatan sistim instalasi mesin pendingin guna mencapai suhu ruangan pendingin bahan makanan yang diingingkan pada KM. DORAEMON adalah salah satu pokok pikiran yang menjadi pembahasan kertas kerja ini.
A. TINJAUAN PUSTAKA
B. KERANGKA PEMIKIRAN
BAB III PEMBAHASAN
Di dalam bab ini penulis memaparkan fakta-fakta yang terjadi selama praktik laut dengan kejadian buah, sayur dan daging mudah rusak atau busuk disebabkan karena ruangan sistim instalasi mesin pendingin tidak bekerja secara optimal, sesuai temperatur yang ditentukan.
A. DESKRIPSI
B. ANALISA
C. ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH
D. EVALUASI PEMECAHAN MASALAH
BAB IV PENUTUP
Di dalam bab setelah dilakukan pembahasan suatu masalah, maka dapat diambil kesimpulan dan saran yang berguna bagi pembaca pada khususnya dan masukan untuk institusi dan perusaahan pelayaran pada umumnya
A. KESIMPULAN
B. SARAN
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
LANDASAN TEORI
A. KAJIAN TEORI
Dalam kajian ini perlu adanya teori-teori yang diambil dari buku-buku penunjang yang akan membantu dalam pemahaman tentang meningkatkan perawatan sistim instalasi mesin pendingin guna mencapai suhu ruangan pendinginan bahan makanan yang diinginkan pada KM. DORAEMON. Oleh karena itu, perlu dijelaskan beberapa teori yang mendukung dalam kajian ini.
1. Pengertian Umum Mesin Pendingin
Mesin pendingin adalah suatu alat untuk mengendalikan suhu dari suatu ruangan pendingin. Mesin pendingin ini pada prinsipnya terdiri atas beberapa komponen yang saling berhubungan dan saling menunjang untuk dapat menghasilkan suhu ruangan yang hendak dikendalikan itu (Engkos Kokasih, 1983).
Mesin Pendingin dapat diartikan sebagai suatu proses pemindahan panas, yaitu perpindahan panas suatu zat ( substan ) ke zat yang lain, yang terjadi karena adanya pengaruh kerja mekanik mesin pendingin.
Menurut Budi Hartanto (1986) pendingin adalah suatu proses penyerapan panas pada suatu benda dimana proses ini terjadi karena adanya penguapan bahan pendingin (refrigerant), untuk mendapatkan jumlah penyerapan panas yang besar maka cairan bahan pendingin yang akan diuapkan harus bertekanan rendah agar titik didihnya lebih rendah pula.
Pada suhu udara yang lebih tinggi, jasad renik (bakteri) dapat berkembang biak lebih cepat lagi, sehingga jumlahnya berlipat ganda menjadi ribuan kali. Dan telah disilidiki bahwa pada suhu rendah 4 - 10o C atau 40o F batas suhu yang paling baik dimana jasad renik (bakteri) sukar berkembang biak sehingga produk yang didinginkan akan lebih bertahan lama (E. Karyanto, 2003)
Mesin Pendingin merupakan proses pemeliharaan tingkat tinggi suhu dari bahan atau ruangan pada tingkat yang lebih rendah dari suhu lingkungan atau atmosfer sekitarnya dengan cara penyerapan atau penarikan panas dari bahan ruangan tersebut ( Sofyan IIyas, 1983 ).
Menurut Dossat (1978) secara umum mesin pendingin didefinisikan sebagai proses perpindahan panas. Secara khusus dapat didefinisikan sebagai bagian dari ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan proses penurunan suhu ruangan atau material dibawah suhu sekitarnya.
2. Pengertian Instalasi Mesin Pendingin.
Instalasi sistim mesin pendingin adalah suatu proses pengurangan suhu di sekitar ruangan tersebut yang proses kerjanya mendinginkan udara sehingga dapat mencapai temperatur dan kelembaban yang sesuai dengan yang diharapkan terhadap kondisi udara dari suatu ruangan yang akan didinginkan (Engkos Kokasih, 1983).
3. Tujuan dari Mesin Pendingin.
Tujuan mesin pendingin yang ada di atas kapal menurut Engkos Kokasih (1983) adalah :
1. Untuk mendinginkan bahan-bahan makanan atau barang-barang lainnya (refrigerated cargo) dibawah suhu udara luar.
2. Agar bahan makanan dapat bertahan lama atau tidak cepat busuk.
3. Sedangkan untuk bahan-bahan kimia, bahan-bahan yang mudah terbakar, agar tidak mudah rusak.
4. untuk mendinginkan ruangan tidur, salon-salon, ruangan makan di dalam kapal untuk menambah gairah kerja.
4. Perawatan mesin pendingin
Perawatan yang dilakukan secara sempurna akan sangat membantu dalam memperpanjang umur peralatan, karena kurangnya perawatan yang diberikan terhadap komponen-komponen pada instalasi mesin pendingin dapat menyebabkan kerusakan-kerusakan ataupun gangguan-gangguan pada komponen-komponen mesin pendingin yang saling terkait satu sama lainnya menurut (Engkos Kokasih, 1983).
5. Pengertian-Pengertian Komponen
a. Kompresor
Suatu pesawat bantu yang berfungsi menghisap dan menekan freon, dari tekanan rendah menjadi tekanan tinggi.
b. Oil separator
Pemisah minyak yang berfungsi memisahkan minyak lumas yang terbawa oleh freon.
c. Kondensor
Pesawat bantu yang berfungsi mengubah gas freon (vapour) menjadi cairan freon (liquid)
d. Dehydrator (dryer)
Suatu alat pengering yang berfungsi menyerap kadar air yang terbawa oleh freon.
e. Solenoid valve (katup solenoid)
Katup ini berfungsi mengontrol secara otomatis dalam menghentikan dan meneruskan aliran freon yang masuk ke evaporator.
f. Expansion valve (katup expansi)
Katup ini berfungsi untuk mengatur jumlah freon yang masuk ke dalam evaporator dan sekaligus berfungsi menurunkan tekanan freon.
g. Evaporator
Pipa penguap yang berfungsi menguapkan cairan freon dan menyerap panas di ruangan pendingin.
h. Thermostatic switch (thermostat)
Saklar kontrol temperatur yang berfungsi mempertahankan suhu dalam ruangan pendingin pada batas yang ditentukan.
i. High and low pressure switch
Saklar pemutus tekanan ini berfungsi sebagai pemutus arus listrik apabila tekanan isap terlalu rendah dan tekanan keluar kompresor terlalu tinggi melebihi batas yang ditentukan.
6. Prinsip Kerja Mesin Pendingin menurut Engkos Kokasih (1983).
Pertama freon dipampatkan oleh kompresor, dan pada saat dikompresor, dan pada saat proses ini freon yang masuk ke kompresor harus berwujud gas, Setelah melewati proses pemampatan, freon akan masuk ke dalam kondensor yang kemudian akan terjadi proses kondensasi yaitu perubahan wujud gas freon menjadi cairan freon dengan cara penyerapan panas yang dilakukan oleh air pendingin dalam hal ini air laut. Setelah itu cairan freon akan berkumpul di receiver (penampung), Setelah proses kondensasi terjadi dan cairan tertampung di receiver kemudian freon akan melewati dehydrator yang fungsinya menyerap uap air apabila pada freon terdapat kandungan udara, kemungkinan ini bisa tejadi pada saat pengintalasian pertama dari sistim tersebut maupun pada saat pengisian ulang atau penambahan freon,Untuk kelanjutan dari proses pendinginan ini setelah freon melewati dehydrator freon akan masuk ke dalam evaporator (pipa penguap) dengan melewati katup solenoid sebagai pengatur otomatis untuk menghentikan dan meneruskan aliran freon ke dalam evaporator. Setelah itu freon melewati katup expansi, pada katup ini cairan freon seakan-akan dicekik (throttled) sehingga terjadi penurunan tekanan secara mendadak, katup ini juga berfungsi sebagai alat kontrol yang mengatur sedikit-banyaknya freon yang masuk ke dalam evaporator dengan bantuan thermo bulb sebagai alat sensor yang dipasang di pipa keluaran evaporator, setelah freon diexpansikan, freon masuk ke dalam evaporator dalam bentuk partikel-partikel kecil yang menguap sehingga akan lebih mudah menyerap panas disekitar ruang pendingin, setelah melakukan proses penyerapan panas freon berubah wujud menjadi gas (vapour), lalu freon kembali lagi dihisap oleh kompresor.
Sedangkan thermostatic switch sebagai kontrol temperatur berfungsi mempertahankan suhu dalam ruang pendingin pada batas (range) yang telah ditentukan. Alat ini bekerja berdasarkan sensor (thermo bulb) yang akan memberi tanda kepada contact point (saklar) untuk memutus atau menghubungkan arus listrik ke katup solenoid. High and low pressure swich berfungsi sebagai saklar pemutus arus ke electro motor apabila tekanan isap terlalu rendah dan tekanan keluar kompresorterlalu tinggi.
Bagan perawatan Instruction Manual book, PMS menurut Kobe, 2003

B. KAJIAN PENELITIAN YANG RELEVAN
Dalam kajian ini perlu adanya beberpa hasil contoh penelitian yang diambil dari karya tulis akademi lain untuk memastikan bahwa tidak ada kesamaan dalam hasil penelitian.
Penelitian pertama dengan judul optimalisasi pola perawatan dan perbaikan terencana sistem pendingin freezer di kapal KM. POPEYE oleh taruna AMNI Tri Yogi, 2015.
Hasil penelitian tersebut adalah dengan menambah jam kerja, memberlakukan work list, serta memberikan pengarahan dalam proses meningkatkan perawatan mesin pendingin bahan makanan sesuai dengan buku pedoman perawatan sistim instalasi mesin pendingin. Persamaan penelitian sebelumnya dengan penelitian penulis adalah sama-sama meneliti tentang perawatan mesin pendingin makanan. Perbedaannya adalah bahwa penelitian sebelumnya membahas tentang optimalisasi pola perawatan dan perbaikan fenomena sistem pendingin freezer.
Penelitian kedua dengan judul optimalisasi pola perawatan dan perbaikan terencana sistem pendingin AC di kapal KM. OBELIX oleh taruna STIP Jakarta (Jedi Harsono, 2015)
Hasil penelitian tersebut adalah dengan menambah jam kerja, memberlakukan work list, serta memberikan pengarahan dalam proses meningkatkan perawatan mesin pendingin AC atau pendingin ruangan sesuai dengan buku pedoman perawatan sistim instalasi mesin pendingin. Persamaan penelitian sebelumnya dengan penelitian penulis adalah sama-sama meneliti tentang perawatan mesin pendingin. Perbedaannya adalah bahwa penelitian sebelumnya membahas tentang perawatan dan perbaikan sistem pendingin AC, sedangkan penelitian yang penulis teliti adalah tentang meningkatkan perawatan sistem instalasi mesin pendingin guna mencapai suhu ruangan pendingin bahan makanan.
KERANGKA PEMIKIRAN
1. Keadaan yang terjadi
Permasalahan yang pernah terjadi pada instalasi mesin pendingin di atas kapal adalah tidak dinginnya ruangan daging, ikan, dan sayuran sesuai dengan temperatur yang diinginkan.
2. Penyebab
Penyebab tidak dinginnya ruangan daging, ikan, dan sayuran sesuai dengan temperature yang diinginkan diakibatkan karena:
a) Ikutnya minyak lumas kedalam sistim.
b) Terdapatnya u dara dalam sistim.
c) Oil Separator sangat kotor.
d) Pipa balik minyak lumas dari oil separator ke crank case compressor buntu
e) Drayer tidak b erfungsi dengan baik.
f) Kurangnya perawatan terhadap instalasi mesin pendingin.
3. Akibat
Akibat yang ditimbulkan dari masalah tersebut adalah dapat mengakibatkan tidak tercapainya suhu pada tiap-tiap ruang pendingin yang sesuai dengan nilai batas yang telah ditentukan dan juga akan mempengaruhi kelancaran dalam pengoperasian kapal.
4. Pemecahan masalah
a. Melakukan penceratan minyak lumas di evaporator.
b. Pembuangan udara dari dalam sistim.
c. Melakukan perawatan terhadap dehydrator.
d. Peningkatan perawatan secara terencana tehadap instalasi mesin pendingin.
5. Tujuan
Adapun suatu tujuan yang akan dicapai dalam tindakan pemecahan masalah yang timbul adalah untuk menjaga kualitas dari bahan makanan dan juga untuk memperlancar pengoperasian dari kapal.
PEMBAHASAN
A. DESKRIPSI DATA
Pada saat melaksanakan praktek berlayar (prala) di atas kapal, pernah mengalami beberapa permasalahan yang terjadi pada sistim instalasi mesin pendingin diantaranya :
1. Tidak dinginnya ruangan daging, ikan dan sayuran
Hal itu terjadi pada saat kapal melakukan suatu pelayaran ketika melakukan pengecekan rutin terhadap semua permesinan baik itu mesin utama maupun permesinan bantu, termasuk instalasi mesin pendingin. Saat pengecekan dilakukan pada instalasi mesin pendingin didapati kelainan pada ruangan pendingin, dimana pada ruang daging dan ikan suhu tercatat –16°C dan pada ruang sayuran suhu yang tercatat +6°C seharusnya pada keadaan normal (suhu air laut 320C) suhu pada ruang daging dan ikan adalah –20°C dan pada ruang sayuran adalah +2°C.
2. Terdapatnya gumpalan es pada pipa isap kompressor
Selain kelainan yang terjadi pada ruangan pendingin didapati juga kelainan pada pipa isap dari kompresor dimana pada pipa isap tersebut terdapat gumpalan es yang membungkus.
3. Gumpalan es pada pipa setelah katup expansi
Pada waktu yang berlainan juga pernah terjadi hal yang serupa yaitu tidak tercapainya suhu pada ruangan pendingin dengan set point yang telah di tentukan, selain itu juga ditemukan pipa isap setelah katup expansi terbungkus oleh gumpalan es.
4. Tekanan keluar kompresor tinggi
Pada waktu yang bersamaan juga didapati pada manometer tekanan kompressor terjadi kelainan yaitu penunjukan jarum yang berubah – ubah dengan tekanan keluar kompressor tinggi, yang seharusnya pada temperature normal ( suhu air laut 320C ) tekanan keluar kompressor 1.5 Mpa, tapi pada kejadian tersebut mencapai 1.8 Mpa bahkan hampir mencapai 2 Mpa.
Tindakan yang mengambil melakukan pem-vacuuman sistim dengan cara mengumpulkan cairan freon di receiver, lalu melakukan pengecekana dan membersihkan oil separator, melakukan pembuangan udara (purging) melalui katup cerat, melakukan pemeriksaan terhadap dehydrator dan mengganti silica gel yang terdapat dalam dehydrator tersebut. Agar mesin pendingin tersebut berjalan sesuai dengan fungsinya dan dapat mendinginkan ruangan pendingin bahan makanan sesuai dengan yang diinginkan.
B. ANALISA
1. Mengoptimalkan proses penyerapan panas pada instalasi mesin pendingin
Tidak optimalnya proses penyerapan panas pada mesin pendingin dapat terjadi dikarenakan oleh:
a. Masuknya minyak lumas ke dalam sistim, awalnya permasalahan ini dapat terjadi disebabkan oleh kurang disiplinya masinis dalam melakukan perawatan terhadap oil separator sehingga mengakibatkan buntunya pipa pengembalian untuk minyak lumas menuju ke crank case oleh lumpur (sludge) sehingga minyak lumas tersebut masuk ke dalam sistim dan berkumpul di evaporator yang mengakibatkan terhalangnya penyerapan panas yang dilakukan oleh freon, sehingga freon baru akan melakukan penyerapan panas pada permukaan dari pipa isap, karena pada permukaan pipa isap tersebut terdapat udara luar yang mengandung uap air, oleh karena itulah permukaan dari pipa isap tersebut terbungkus oleh gumpalan es dan proses penyerapan panas oleh evaporator jadi terhambat. Masuknya minyak lumas ke dalam sistim dapat terjadi karena pada saat pengisian minyak lumas ke dalam crank case masinis hanya memperhatikan gelas duga yang ada pada kompresor tanpa memperhatikan kemungkinan minyak lumas yang telah terkumpul di oil separator, terkumpulnya minyak lumas di oil separator disebabkan karena tersumbatnya lubang laluan untuk kembalinya minyak lumas ke dalam crank case kompresor. Oleh karena itu hal inilah yang akan memungkinkan minyak lumas dapat masuk ke dalam sistim.
b. Terdapatnya udara didalam sistim sehingga menyebabkan kurang dinginnya ruangan pendingin untuk daging, ikan dan sayuran yang tidak sesuai dengan temperatur pada kondisi normal.
Kurangnya pendinginan pada tiap-tiap ruang pendingin tersebut disebabkan oleh terhambatnya aliran freon yang masuk ke dalam evaporator hal ini dapat terjadi dikarenakan buntunya sistim pada pipa setelah katup expansi oleh gumpalan es, terbentuknya gumpalan es ini diakibatkan masuknya udara yang mengandung uap air ke dalam sistem.
Penunjukkan jarum di manometer kompresor yang berubah-ubah disebabkan karena masuknya udara kedalam sistem, udara yang masuk ke dalam sistem jika dikompresikan akan menghasilkan panas dan temperaturnya akan naik hal ini yang akan mengakibatkan tekanan keluar kompresor menjadi tinggi, bila hal ini dibiarkan terlalu lama maka air yang ada dalam udara dapat menyebabkan korosi dan akan menyebabkan rusaknya kompresor. Hal-hal yang memungkinkan udara dapat masuk ke dalam sistem adalah pada saat dilakukannya pergantian minyak lumas dan pengisian freon.
2. Cara melaksanakan perawatan mesin pendingin sesuai dengan buku petunjuk perawatan instalasi mesin pendingin
Permasalahan-permasalahan yang terjadi pada mesin pendingin pada dasarnya disebabkan oleh perawatan yang dilakukan kurang terencana serta tidak mengikuti prosedur perawatan yang sesuai dengan buku petunjuk instalasi mesin pendingin tersebut. Sebenarnya perawatan terhadap instalasi ini sudah dilaksanakan oleh masinis
Apabila pola perawatan yang terencana dan terjadwal telah dilakukan dengan baik dan sesuai dengan prosedur yang terdapat pada buku petunjuk yang ada di atas kapal KM. DORAEMON, maka instalasi mesin pendingin ini akan dapat bekerja sesuai dengan fungsinya yaitu menjaga atau mempertahankan kualitas dari bahan makanan serta akan memperlancar pengoperasian kapal.
C. ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH
Berdasarkan permasalahan yang terjadi di kapal KM. DORAEMON serta telah dianalisa pada sub bab diatas, maka perlu suatu pemecahan masalah yang harus dilakukan.
1. Tidak optimalnya penyerapan panas pada instalasi mesin pendingin dilakukan dengan cara:
a. Melakukan penceratan minyak lumas
Minyak lumas yang ikut kedalam sistim akan menghalangi penyerapan panas yang dilakukan oleh freon di evaporator. Penceratan minyak lumas yang ada di dalam evaporator harus dilakukan agar proses peyerapan panas di evaporator dapat berlansung dengan baik.
b. Melakukan perawatan terhadap oil separator
Pada waktu minyak lumas dipakai untuk melumasi bagian-bagian yang bergerak di dalam kompresor maka sebagian kecil dari minyak lumas akan terbawa oleh gas freon, oleh karena itu pada instalasi mesin pendingin perlu dipasang sebuah komponen yang bernama oil separator sebagai sebuah alat pemisah minyak yang akan mengembalikan minyak lumas ke crank case kompresor.
Dalam hal ini kita harus mengetahui kapan waktu untuk melakukan perawatan terhadap oil separator tersebut dan cara melakukan pekerjaan perawatannya dengan baik dan benar. Apabila hal ini dilakukan secara terjadwal maka masalah yang timbul akan dapat dihindari.
Prinsip pemisahan dari komponen ini adalah berdasarkan perbedaan berat jenis, dimana dua jenis cairan akan berpisah apabila berbeda berat jenisnya, cairan yang lebih besar berat jenisnya akan berada di bawah dan yang lebih kecil berat jenisnya akan berada di atas, sehingga di dalam oil separator ini freon akan berada di atas sedangkan minyak lumas berada di bawah.
Selain itu pada oil separator juga terdapat sebuah pelampung yang dihubungkan dengan sebuah katup keluar untuk minyak lumas yang kembali menuju crank case, fungsi kerja dari pelampung ini adalah apabila minyak lumas yang terkumpul di bagian bawah sudah cukup banyak maka pelampung tersebut akan terangkat ke atas sehingga minyak lumas yang terkumpul akan mengalir menuju crank case kompresor, minyak lumas dapat mengalir menuju crank case dikarenakan tekanan yang ada di oil separator lebih besar dari tekanan yang ada di crank case kompresor.
c. Melakukan pembuangan udara dalam sistem
Masuknya udara ke dalam sistem dapat mengakibatkan terhambatnya aliran freon yang menuju ke evaporator. Sehingga hal ini akan berpengaruh juga terhadap proses pendinginan di ruangan pendingin (provision chamber). Untuk itu perlu dilakukan pembuangan udara dari dalam sistem dengan cara membuang udara melalui katup cerat (air purge plug) yang terdapat di atas kondensor, pembuangan udara ini dilakukan dengan cara mematikan (stop) kompresor, menutup katup setelah receiver, jalankan (start) kembali kompresor dan biarkan freon terkumpul di receiver, setelah itu matikan kembali kompresor dan tunggu beberapa saat sampai kita yakin bahwa udara dan cairan freon dalam kondensor terpisah (terpisahnya udara dan cairan freon ini dapat terjadi karena adanya perbedaan berat jenis dimana udara yang lebih ringan akan berada di bagian atas), kemudian setelah itu pembuangan udara dapat dilakukan dengan membuka katup cerat secara perlahan, apabila dari katup cerat tersebut sudah keluar freon segera tutup kembali katup tersebut.
Cara lain yang bisa digunakan untuk mengeluarkan udara dalam sistem adalah degan internal vacuum dan external vacuum seperti yang telah diuraikan pada halaman.
d. Melakukan perawatan terhadap dehydrator
Masuknya udara ke dalam sistem akan mengakibatkan terhambatnya aliran freon menuju evaporator karena dalam udara tersebut terdapat uap air yang apabila diekspansikan uap air tersebut akan membeku menjadi gumpalan es. Pada instalasi mesin pendingin terdapat sebuah dehydrator yang berfungsi untuk menyerap uap air yang tedapat dalam udara, komponen ini dapat bekeja karena di dalamnya tedapat zat pengering (silica gel). Silica gel yang baik mempunyai sifat-sifat seperti tidak menghisap atau menyerap freon, tidak menyerap minyak lumas, mudah menyerap air dan tidak mudah hancur menjadi bubuk.
Untuk mengetahui apakah silica gel sudah bersifat jenuh, akan dapat terlihat dari wujudnya yang sudah berwarna pucat, selain itu cara lain yang bisa digunakan adalah dengan cara mengambil satu buah silica gel dan kemudian letakkan di lidah kita, apabila silica gel ini terasa menggigit itu berarti silica gel ini masih dalam keadaan baik, tetapi apabila sudah tidak terasa menggigit lagi berarti silica gel ini sudah jenuh dan harus diganti dengan yang baru.
Penggantian silica gel dapat dilakukan dengan langkah-langkah yang tertera pada halaman.
2. Cara melaksanakan perawatan instalasi mesin pendingin sesuai dengan buku petunjuk.
Terjadinya permasalahan-permasalahan pada instalasi mesin pendingin di atas pada dasarnya adalah disebabkan karena kurang dilaksanakannya perawatan secara terencana dan tidak sesuai dengan buku petunjuk perawatan terhadap instalasi mesin pendingin yang ada di atas kapal tersebut, oleh karena itu harus dilaksanakan usaha peningkatan perawatan terhadap instalasi mesin pendingin yang sesuai dengan buku petunjuk perawatan instalasi mesin pendingin tersebut agar proses pendinginan terhadap bahan makanan dapat berjalan dengan baik.
Untuk mengatasi permasalahan ini peningkatan perawatan yang harus dilakukan adalah :
a. Pola perawatan sesuai buku petunjuk manual
Pada buku petunjuk manual telah dituliskan prosedur perawatan yang harus dilakukan terhadap instalasi mesin pendingin. Oleh karena itu sebaiknya prosedur ini harus dilakukan agar kinerja dari instalasi mesin pendingin ini selalu dalam keadaan baik.
Dibawah ini akan dituliskan pola perawatan menurut buku petunjuk manual tersebut :
1. Perawatan harian
a) Pemeriksaan level minyak lumas di kompresor dan di oil separator
b) Pemeriksaan banyaknya freon di receiver
c) Pemeriksaan tekanan isap dan keluar di kompresor
d) Pemeriksaan temperatur pada tiap-tiap ruangan pendinginan.
e) Pemeriksaan temperatur air pendingin untuk condensor
2. Perawatan mingguan
a) Melakukan pemeriksaan kebocoran pada instalasi mesin pendingin (dengan menggunakan gas leak detector atau dengan soap suds/busa sabun)
b) Pemeriksaan kondisi dari tiap-tiap ruangan pendingin.
3. Perawatan bulanan
a) Memeriksa dan melakukan defrosting (perontokan) bunga es di evaporator
b) Mengganti minyak lumas di kompresor
4. Perawatan setiap tiga bulan
a) Pengecekan kebuntuan pada pipa-pipa di dalam kondensor (sogok kondensor apabila terjadi kebuntuan)
b) Pengecekan zink anoda di kondensor (ganti apabila sudah rusak)
c) Pembersihan saringan-saringan pada sistem.
5. Perawatan setiap enam bulan
a) Pemeriksaan dan pembersihan oil separator
b) Peyetelan alat-alat kontrol otomatis seperti, thermostatic switch, high and low pressurde switch sesuai dengan petunjuk.
c) Pemeriksaan dan pengecekan katup ekspansi dan katup solenoid.
b. Pola dengan sistem perawatan berencana (PMS)
Pola perawatan yang baik adalah pola dengan sistem perawatan berencana (Plan Maintenance System) sistem perawatan berencana ini terdiri dari banyak elemen seperti, rencana kerja, kontrol persediaan, informasi dan instruksi. Tujuan dari sistem ini adalah untuk membantu kita di atas kapal dalam menyusun rencana dan operasional kerja di atas kapal agar dapat mencapai maksud yang sudah ditetapkan oleh manajer di kantor pusat, selain hal tersebut yang terpenting dari dilaksanakannya sistem ini adalah memberikan kesinambungan perawatan sehingga perwira kapal yang baru naik dapat mengetahui apa yang telah dikerjakan dan apa lagi yang harus dilakukan dalam melaksanakan perawatan terhadap permesinan yang bersangkutan.
Salah satu cara untuk melakukan analisa atau evaluasi terhadap hal-hal yang sudah dilakukan sebelumnya adalah dengan cara melakukan pencatatan. Tujuannya adalah agar dapat dilakukannya analisa yang mengacu pada peningkatan perencanaan dan untuk perencanaan di masa mendatang. Perencanaan perawatan harus selalu didasarkan atas pengalaman yang didapat dari pekerjaan perawatan sebelumnya. Karena awak kapal selalu berganti pada jangka waktu yang telah ditentukan maka penting pengalaman ini secara sistematis dicatat agar dapat terjadi kesinambungan kegiatan dalam melakukan perawatan. (Darmawan Danuasmoro, 2002) Menjelaskan bahwa perawatan berencana dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu :
1) Perawatan pencegahan, ditujukan untuk mencegah kegagalan atau berkembangnya kerusakan, atau menemukan kegagalan sedini mungkin. Hal ini dapat dilakukan melalui penyetelan secara berkala, rekondisi atau penggantian alat-alat (berdasarkan pemantauan kondisi).
2) Perawatan korektif, ditujukan untuk memperbaiki kerusakan yang sudah diperkirakan, tetapi bukan untuk mencegah karena ditujukan bukan untuk alat-alat yang kritis atau yang penting bagi keselamatan dan penghematan. Strategi perawatan ini membutuhkan perhitungan atau penilaian biaya dan ketersediaan suku cadang kapal yang teratur.
Biasanya perawatan yang dilakukan terhadap instalasi mesin pendingin di atas kapal adalah perawatan insidentil, yaitu perawatan yang dilakukan apabila kerusakan atau permasalahan telah timbul atau terjadi.
Karena itu perawatan secara berencana harus dilaksanakan di atas kapal agar permasalahan-permasalahan yang akan terjadi dapat dicegah sedini mungkin. Dalam hubungannya dengan instalasi mesin pendingin bilamana hal ini dilakukan maka proses pendinginan bahan makanan dapat berlangsung dengan baik dan kelancaran dari operasional kapal tidak terganggu.
D. EVALUASI PEMECAHAN MASALAH
1. Mengoptimalkan proses penyerapan panas pada instalasi mesin pendingin
Tidak optimalnya proses penyerapan panas pada instalasi mesin pendingin terjadi dikarenakan oleh dua hal, yaitu karena masuknya minyak lumas dan udara ke dalam sistem. Maka untuk mengatasi hal ini adalah :
1) Melakukan penceratan minyak lumas yang ada di dalam evaporator.
2) Melakukan perawatan terhadap oil separator
3) Melakukan pembuangan udara yang terdapat dalam sistem
4) Melakukan perawatan terhadap dehydrator
2. Cara melaksanakan perawatan mesin pendingin sesuai dengan buku petunjuk perawatan instalasi mesin pendingin
Untuk melakukan peningkatan perawatan terhadap instalasi mesin pendingin dilakukan dengan cara :
a. Pola perawatan sesuai buku petunjuk manual
Cara seperti ini baik untuk dilakukan karena pada setiap permesinan yang ada di atas kapal pasti memiliki buku petunjuk manual untuk pengoperasian dan perawatan dari permesinan tersebut.
b. Pola dengan sistem perawatan berencana (Plan Maintenance System)
Cara ini dilakukan sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh pihak perusahaan mengenai manajemen perawatan yang dilakukan oleh pihak kapal, karena dengan pola tersebut kita dapat melakukan perawatan berdasarkan keadaan permesinan yang harus dirawat, dengan memperhatikan pekerjaan-pekerjaan yang paling mahal berkaitan dengan waktu dan material sehingga pelaksanaan pekerjaan dapat dilakukan secara sistematis dan ekonomis.
PENUTUP
A. Simpulan
Dibawah ini penulis akan memberikan beberapa simpulan yang berkaitan dengan permasalahan yang diangkat.
1. Tidak tercapainya suhu ruangan pendingin untuk daging, ikan dan sayuran sesuai dengan temperatur yang diinginkan.
Permasalahan tersebut di sebabkan karena tidak optimalnya penyerapan panas oleh instalasi mesin pendingin yang terjadi di evaporator. Sehingga perlu dilakukannya pengoptimalan proses penyerapan panas pada instalasi mesin pendingin dengan cara sebagai berikut :
1. Penceratan minyak lumas di evaporator
2. Perawatan terhadap oil separator
3. Pembuangan udara yang terdapat di dalam sistem
4. Perawatan terhadap dehydrator
2. Kurangnya perawatan instalasi mesin pendingin..
Perawatan yang tidak sesuai dengan buku petunjuk perawatan dan kurangnya perawatan secara terencana terhadap instalasi mesin pendingin mengakibatkan buntunya pipa pengembalian minyak lumas ke kompresor dan silica gel yang tidak dapat berfungsi lagi menyerap uap air yang terdapat dalam udara. Karena itu perlu dilakukan peningkatan perawatan terhadap instalasi mesin pendingin yang sesuai dengan buku petunjuk perawatan yang terdapat di atas kapal dan pola sistem perawatan yang terencana (Plan Maintenance System), hal ini bertujuan agar instalasi mesin pendingin dapat selalu terkontrol dalam perawatan dan pengoperasiannya sehingga instalasi ini akan dapat bekerja secara maksimal yang sesuai dengan fungsinya yaitu menjaga atau mempertahankan bahan makanan di atas kapal.
B. Saran
1. Proses penyerapan panas yang tidak optimal oleh instalasi mesin pendingin yang terjadi di evaporator dapat di lakukan dengan cara:
a. Kita harus memperhatikan kapan harus melakukan perawatan terhadap oil separator dan dehydrator sebagai salah satu penyebab tidak terjadinya penyerapan panas di evaporator.
b. Kita harus mengetahui cara atau langkah-langkah pembuangan udara yang masuk ke dalam sistem.
c. Kita harus mengetahui bagaimana cara melakukan penceratan terhadap minyak lumas yang telah terikut keadalam sistem dan mengumpul di evaporator.
d. Laporan mengenai kerusakan yang terjadi di atas kapal harus selalu dilaporkan kepada pihak perusahaan.
e. Pihak perusahaan harus menanggapi laporan yang diberikan oleh pihak kapal dengan baik yang berhubungan dengan kerusakan dan suku cadang untuk menghindari kesulitan melakukan perawatan akibat tidak tersedianya suku cadang.
2. Tidak melakukan perawatan sesuai dengan buku petunjuk perawatan
Di atas kapal kita harus melaksanakan perawatan terhadap instalasi mesin pendingin sesuai dengan buku petunjuk perawatan dan perbaikan yang terdapat di atas kapal serta melakukan perbaikan secara berencana dan berkesinambungan dengan menggunakan pola perawatan berencana (Plan Maintenance System).
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia sebagai negara berkembang yang terdiri dari beribu-ribu pulau yang mempunyai nilai investasi besar dibanding sumber daya alam berupa minyak dan gas bumi, baik yang dihasilkan di laut atau didarat, dengan demikian sarana sektor perhubungan laut menjadi sangat penting dalam menunjang kelancaran pengangkutan minyak dan gas bumi. Dalam hal ini kapal tanker merupakan salah satu sarana transportasi angkutan laut yang merupakan alat untuk mengangkut muatan cair tersebut. Dalam pengoperasian kapal tanker keprofesionalan dan loyalitas awal kapal sangatlah berpengaruh terutama dalam menyelesaikan pelaksanaan bongkar muat muatan minyak, serta mencegah agar tidak terjadi kontaminasi minyak oleh sisa-sisa minyak lain sehingga akan menurunkan kualitas minyak tersebut. Untuk itu diatas kapal tanker harus diperlukan mualim-mualim dan anak buah yang cakap dan tanggap untuk dapat melaksanakan pemuatan dan pembongkaran dengan baik agar tetap menjaga mutu serta kondisi yang diinginkan dengan demikian kemungkinan kerugian yang terjadi dapat dihindari, sehingga dengan adanya hambatan-hambatan tersebut maka penulis memilih judul : “UPAYA MENCEGAH TERJADINYA KONTAMINASI DALAM PENANGANAN MUATAN MINYAK GORENG CURAH DENGAN GRADE YANG BERBEDA DI MT.SAMUDRA SINDO 38.PT.SAMUDRA SINDO DI RENGAT RIAU.”
Adapun maksud dan tujuan agar supaya persiapan pemuatan dan pembongkaran minyak goreng curahyang di angkut dengan kapal tanker dapat berjalan dengan lancar. Semua itu didukung dengan kemampuan para perwira dan ditunjang manfaat praktis dengan pengalaman yang ada. Di samping itu bermanfaat bagi perusahaan pelayaran karena pengoperasian kapal dapat berjalan dengan lancar.
B. Identifikasi Masalah
Dalam hal ini pokok-pokok permasalahan yang penulis cantumkan antara lain :
1. Hal-hal apa saja yang menyebabkan terjadinya kontaminasi?
2. Upaya-upaya apa yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya kontaminasi?
C. Ruang Lingkup Masalah
Mengingat luasnya permasalahan dalam seluruh kegiatan pada persiapan pembongkaran dan pemuatan yang di angkut dengan kapal tanker yang beraneka ragam, maka penulis akan menceritakan seluruh kegiatan persiapan pemuatan dan pembongkaran yang menitik beratkan pada peranan awal kapal serta menjaga mutu dari muatan minyak tersebut, khususnya yang terjadi di atas kapal MT. SAMUDRA SINDO 38.
D. Pemecahan Masalah
1 Tujuan Penelitian. :
1. Sosialisasi cara pencegahan kontaminasi kepada ABK(.Anak Buah Kapal) agar dapat kerjasama dengan baik sesame crew kapal dikapal MT.SAMUDRA SINDO 38.
2. Melakukan penambahan peralatan untuk membersihkan tanki yang kurang bersih akibat muatan lain atau karat dan penggunaan peralatan yang efisien dalam persiapan ruang muatan untuk mencegah terjadinya kontaminasi di MT.SAMUDRA SINDO38..
3. Memperhatikan perawatan tanki ruang muatan atau palka dengan penuh perhatian dan tanggung jawab sebagai ABK (Anak Buah Kapal) dikapal MT.SAMUDRA SINDO 38.
2.Manfaat Penelitian
Di dalam penelitian ini, penulis berharap akan beberapa manfaat yang dapat dicapai, dan berguna bagi berbagai pihak, antara lain:
1.Untuk Pihak Kapal
a. Sebagai usulan dan saran agar muatan yang di muat tidak terkontaminasi oleh zat yang berbeda.
b. Juga sebagai gambaran dan pengetahuan bagi perwira junior dan anak buah kapal pemula, untuk lebih tanggap dan memahami kontaminasi muatan di atas kapal dan cara penanganannya.
2.Untuk Penulis
a. Memenuhi persyaratan kelulusan dari program Diploma III jurusan nautika di Akademi Pelayaran Niaga Indonesia(AKPELNI) Semarang.
b. Melatih penulis untuk menuangkan pemikiran dan pendapat dalam bahasa yang deskriptif yang dapat di pertanggung jawabkan.
3.Untuk Perusahaan Pelayaran
a.Dengan teratasinya kendala kontaminasi di atas kapal maka pihak perusahaan sebagai operator kapal dapat terhindar dari klaim dan dapat mengurangi waktu kegiatan sandar kapal yang akirnya secara langsung menekan biaya operasional kapal.
b.Dengan prestasi dari karyawan kapalnya yang mampu menangani muatan dengan lancar maka pihak perusahaan akan mendapatkan image yang baik pihak Charterer (penyewa atau pengguna kapal) sehingga operasional perusahaan akan semakin lancar.
E.Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data pada penulisan kajian ini menggunakan metode yang dapat menggambarkan tentang permasalahan yang dihadapi dalam upaya mencegah terjadinya kontaminasi dalam penanganan muatan minyak goreng curah dengan grade yang berbeda di MT.SAMUDRA SINDO 38. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu:
1.Observasi
Observasi yang dilakukan dengan pengamatan selama praktik laut atau training diatas kapal MT.SAMUDRA SINDO 38 selama satu tahun sebagai deck cadet.Dengan demikian secara langsung dapat melihat atau mengalami kekurangan dan kenyataan yang ada diatas kapal.
2.Wawancara
Penulis melakukan wawancara dengan Mualim I dan Anak Buah Kapal bagian deck untuk memperoleh informasi mengenai proses anak buah kapal dalam pembersihan ruang muat agar kapal dapat dikatakan siap untuk dimuati.Wawancara juga dilakukan untuk mengetahui kendala yang dialami crew kapal dalam melaksanakan persiapan ruang muat.
3.Studi Dokumen
Studi dokumen dilakukan dengan cara mempelajari dokumen-dokumen yang ada kaitannya dengan pembahasan kajian ini.Dokumen yang digunakan adalah daftar kondite crew deck MT.SAMUDRA SINDO 38 yang berupa penilaian-penilaian yang dilaksanakan oleh Mualim I yang menggambarkan kemampuan kerja para crew yang bisa menjadi acuan pembahasan kajian ini.
4.Peralatan
Peralatan pencegahan pencemaran tumpahan minyak yang ada diatas kapal harus sesuai dengan peraturan yang berkala yaitu MARPOL (Marine Pollution)1973/1978.
ISM-CODE dimasukkan dalam SOLAS dengan resolusi no.A-741
5.Studi Pustaka
Teknik ini dilakukan dengan cara mengambil referensi dari buku-buku yang relevan dengan permasalahan yang akan dibahas dalam karya tulis ini.
Referensi diambil dari beberapa buku tentang upaya mencegah terjadinya kontaminasi dalam penanganan muatan minyak goreng curah dengan grade yang berbeda di MT.SAMUDRA SINDO 38.
F.Sistematika Penulisan
Untuk memudahkan pembaca dalam memahami dan mengerti tentang penyajian karya tulis ini,maka kajian ini menggunakan sistematika sebagai berikut :
BAB I : PENDAHULUAN
Mengemukakan tentang masalah dan alasan pemilihan judul,maksud dan tujuan pembahasan serta permasalahan pokok yang timbul dalam kertas kinerja ini.Manfaat yang dapat diambil dari pembahasan kertas kerja ini ditujukan untuk perwira dan ABK kapal atau bagi kita yang masih duduk dibangku kuliah.Dalam pembahasan akan dijelaskan secara rinci dan teratur tentang upaya mencegah terjadinya kontaminasi dalam penanganan muatan minyak goreng curah dengan grade yang berbeda di MT.SAMUDRA SINDO 38 yang akhirnya ditemukan penyelesaian masalah tersebut.
BAB II : LANDASAN TEORI
Permasalahan tentang crew kapal yang kurang terampil dalam proses mencegah terjadinya kontaminasi dalam penanganan muatan minyak goreng curah.
BAB III : METODE PENELITIAN
Didalam bab ini penulis memaparkan fakta-fakta yang terjadi selama pemuatan yang dikarenakan ruang muat kurang bersih atau berkarat.
Ketwrampilan perwira dalam merencanakan pelaksanaan cleaning tanki dan kesungguhan para crew kapal untuk melaksanakan persiapan tanki tersebut sangat dibutuhkan.Perawatan terhadap tangki ruang muat yang baik akan mendukung kelancaran oprasional kapal.
BAB IV : PEMBAHASAN
Di dalam bab ini setelah dilakukan pembahasan suatu masalah,maka dapat diambil kesimpulan dan saran yang berguna bagi pembaca pada khususnya dan masukan untuk institusi dan perusahaan pelayaran pada umumnya.
BAB V : PENUTUP
Di dalam bab ini setelah dilakukan pembahasan suatu masalah,maka
dapat diambil kesimpulan dan saran yang berguna bagi pembaca pada khususnya
dan masukan untuk institusi dan perusahaan pelayaran pada umumnya.
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Kajian teori
Pemikiran untuk meningkatkan jaminan keselamatan di laut di mulai sejak 1914, karena saat itu mulai dirasakan semakin bertambah banyaknya kecelakaan kapal yang menelan banyak korban jiwa dimana-mana. SOLAS (Safety Of Life At See) merupakan peraturan yang mengatur keselamatan paling utama. Tahap awal dari peraturan ini dengan memfokuskan pada peraturan kelengkapan navigasi, kedepan dinding penyekat kapal serta peralatan komunikasi kemudian berkembang ke konstruksi dan peralatan lainnya. Peraturan-peraturan di dalam SOLAS mengalami penyempurnaan pada tahun 1974, konvensi baru SOLAS dengan prosedur baru bahwa setiap amandemen berlaku sesuai target yang di tentukan.
Ir.Pieter Batti (1995:16) menjelaskan di dalam bukunya tentang Dasar-Dasar Peraturan Keselamatan Pelayaran dan Pencegahan Pencemaran sejak peluncuran kapal pengangkut minyak yang pertama “GLUCKAUF” pada tahun 1885 dan penggunaan pertama mesin diesel sebagai penggerak utama kapal tiga tahun kemudian maka fenomena pencemaran laut oleh minyak mulai muncul. Sebelum perang dunia kedua sudah ada usaha-usaha untuk membuat peraturan-peraturan mengenai pencegahan dan penanggulangan pencemaran laut oleh minyak, akan tetapi baru mulai terpikirkan setelah terbentuk International Maritime Organitation (IMO) dalam Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 1948. Namun demikian pada saat itu usaha untuk membuat peraturan yang dapat di patuhi oelh semua pihak dalam organisasi tersebut masih di tentang oleh banyak pihak, baru pada tahun 1954 atas prakarsa dan pengorganisasian yang di lakukan oleh pemerintah Inggris (UK), lahirlah “Oil Polution Convention” yang mencari cara untuk mencegah pembuangan minyak dari pengoperasian kapal tanker dan dari kamar mesin. Cara tersebut dilakukan dengan :
1. Lokasi tempat pembuangan minyak atau campuran air dan minyak yang melebihi 100 ppn di perluas sejauh 15 NM dari pantai terdekat.
2. Negara anggota diharuskan menyediakan fasilitas penumpang di darat guna menampung campuran air dan minyak.
Selanjutnya disusul dengan amandemen tahun 1962 dan 1969 untuk menyempurnakan kedua peraturan tersebut. Jadi sebelum tahun 1970 masalah Maritime Polution baru pada tingkat prosedur operasi.
Sebagai hasilnya adalah International Convention For The Prevention Of Polution Of The Ship tahun 1973, yang kemudian disempurnakan dengan TSP (Tanker Safety and Polution Prevention) Protocol 1978 dan konvensi ini dikenal dengan nama MARPOL (Marine Polution) 1973/1978 yang masih berlaku sampai sekarang.
MARPOL (Marine Polution) 1973/1978 memuat 6 (enam) ANNEX, yaitu :
1. Annex I
Peraturan tentang pencegahan pencemaran oleh minyak.
2. Annex II
Peraturan tentang pencegahan pencemaran oleh cairan beracun dalam bentuk curah.
3. Annex III
Peraturan tentang pencegahan pencemaran oleh bahan berbahaya (Harmfull Subtances) dalam bentuk terbungkus.
4. Annex IV
Peraturan tentang pencegahan pencemaran oleh kotoran manusia/hewan (Sewage).
5. Annex V
Peraturan tentang pencegahan pencemaran oleh sampah
6. Annex VI
Peraturan tentang pencegahan pencemaran oleh udara.
Konvensi ini berlaku secara internasional sejak tanggal 2 Oktober 1983, dan menjadi keharusan (compulsory). Isi dari teks konvensi MARPOL (Marine Polution)1973/1978 sangat kompleks dan sulit untuk dipahami bila tidak ada usaha mempelajari secara intensif. Implikasi langsung terhadap kepentingan lingkungan maritime dari hasil pelaksanaannya memerlukan evaluasi berkelanjutan baik pemerintah atau industri suatu Negara.
Pada peraturan MARPOL (Marine Polution) 1973/1978 dapat dibagi dalam 3 (tiga) kategori :
1. Peraturan untuk mencegah terjadinya pencemaran
2. Peraturan untuk menanggulangi pencemaran
3. Peraturn untuk melaksanakan peraturan tersebut.
Data – data ISM CODE :
1. Check list tiba di pelabuhan
- Tali
- Winc
2. Check list cargo operatiomn
1) Check scuper plug -> lubang pembuangan
2) Spiz box : penampungan minyak dibawah manifol
3) Pemadam kebakaran (portable & air)
4) Sopep (serok, sapu, sprai, scop, pasir, serbuk gergaji)
5) Iritaia, max & topping rate
6) Kesepakatan channel radio
7) Pengecekan tanki cargo
3. Koordinasi dengan loading master
4. Stowage plan STOWAGE PLAN

| 200 |
|
| 250 | 250 |
| 250 | 250 |
| 200 | 200 |
| 100 | 100 |
95%
| FW : 30 T | TOTAL |
| MFD : 50 T | 2000 KL |
| HSD : 25 T | DRAF F : 48 |
| | A : 50 |
![]()
Setelah semuanya clear di adakan pemasangan selang IS GOT
INITIAL, MAXIMAL
5. Baru di lakukan pemuatan
6. Setelah pemuatan selesai di adakan pengecekan/penghitungan cargo dari 3 belah pihak
1. Kapal
2. Loading master
3. survayor
2.1 Definisi-definisi
a. Menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran, kapal adalah kendaraan air dengan bentuk dan jenis tertentu, yang digerakkan dengan enaga angin, tenaga mekanik, energi lainnya, diarik ata ditunda, termasuk kendaraan yang berdaya dukung dinamis, kendaraan di bawah permukaan air, serta alat apung dan bangunan terapung yang tidak berpindah-pindah.
b. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kapal tanker adalah kapal yang membawa minyak, kapal tangki.
c. Menurut Peraturan Menteri Perhubungan No KM 4 tahun 2005 Tentang Pencegahan Pencemaran dari kapal Bab 1 pasal 1, minyak adalah minyak bumi dalam bentuk apapun termasuk minyak mentah, minyak bahan bakar, minyak kotor, kotoran minyak dan hasil-hasil olahan pemurnian seperti berbagai jenis aspal, bahan bakar diesel, minyak pelumas, minyak tanah, bensin, minyak suling, naptha dan sejenisnya.
2.2 Teori tentang pencemaran minyak
Kapal merupakan sarana transportasi pengangkut yang dapat mengangkut minyak dalam jumlah besar, karena itu apabila terjadi tumpahan minyak dari kapal maka akan menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan.
Pencemaran menurut SK Menteri Kependudukan Lingkungan Hidup No 02/MENKLH/1998 adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan atau komponen lain ke dalam air/udara dan atau berubahnya tatanan (komposisi) air/udara oleh kegiatan manusia dan proses alam, sehingga kualitas air/udara menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya.
2.3 Teori tentang pencegahan pencemaran minyak
Upaya pencegahan pencemaran minyak untuk memastikan pembuangan keluar lambung kapal sesuai dengan peraturan pembuangan, maka perlu memperhatikan peralatan agar berfungsi dengan baik sesuai dengan ketentuan yang ada. Peralatan tersebut adalah sebagai berikut :
a. Oil Water Separator dari filter yang dapat bekerja pada kadar 15 ppm
b. Oil Discarging Monitoring dan System Control
c. Standart Sambungan Buangan
d. Oil Record Book
Peralatan yang diperlukan untuk kapal tanker adalah :
a. Crude oil washing and equipment manual
b. Oil record cargo book
c. Segregated ballast tank
d. Oil discharge monitoring
2.4 Peraturan pencegahan pencemaran oleh minyak
Peraturan pencegahan pencemaran oleh minyk diatur dalam Annex I-MARPOL (Marine Polution) 1973/1978. Terdiri dari 4 (empat) Chapter.
· Chapter I (General)
· Chapter II (Requirements for control of operational pollution)
· Chapter III (Requirements for minimizing oil pollution from oil tankers due to bottom damages)
· Chapter IV (Prevention of oil pollution emergency plane)
B. Kerangka berfikir

Penjelasan dari bagan.
Penanganan muatan dengan grade yang berbeda harus disosialisasikan dengan seluruh crew kapal dalam penanganan muatan ini terdapat kendala yang menghambat antara lain:
1. Kurangnya peralatan
2. Kurangnya keterampilan crew
3. Kurangnya ketelitian
kendala di atas dapat kita tangani dengan cara.
1. Menambah kualitas kerja
2. Menambah peralatan yang memadai
3. Menambah ketelitian dalam menangani muatan
setelah penanganan muatan dilakukan secara baik, maka kontaminasi muatan tidak akan terjadi.
C. Definisi Operasional
1. IMO : International Maritime Organization adalah badan organisasi maritime internasional di bawah naungan Perserikatan Bangsa -Bangsa.
2. ISGOTT : International Safety Guide For Oil Tanker And Terminal, merupakan referensi standar atas keselamatan operasi kerja kapal tanker dan terminal.
3. OCIMF : Oil Companies International Marine Forum , merupakan asosiasi perusahaan minyak yang peduli terhadap keselamatan dan pengoperasian kapal terhadap pencemaran lingkungan hidup.
4. MARPOL : Marine Pollution, merupakan konvensi mengenai peraturan pencegahan pencemaran di lingkungan maritime.
5. Terminal : Tempat di mana kapal tanker sandar di jetty atau tambat bouy untuk tujuan memuat atau membongkar muatan dari terminal atau dari kapal.
6. Ullage : Ruang kosong di atas cairan dalam tanki, atau tinggi ruang kosong dalam tanki yang diukur dari permukaan minyak sampai permukaan tanki.
7. Check List : Merupakan daftar pertanyaan yang harus di isi oleh kapal atau terminal untuk menjamin keselamatan kapal, terminal dan orang- orang yang terlibat. serta lingkungan di laut.
8. Reducer : Alat yang digunakan untuk menyambung antara manifold kapal dengan selang darat, bila terdapat perbedaan diameter ukurannya.
9. Manhole : lubang yang berada di atas tiap-tiap tanki muatan. mempunyai diameter 1 meter, sehingga lubang ini memungkinkan untuk digunakan sebagai jalan masuk ke tanki.
10. Deck Seal : lubang kecil dengan diameter kurang lebih 50 cm yang terdapat di atas tanki-tanki muatan. lubang ini digunakan untuk memasukkan butterworth atau alat penyemprot pada waktu pembersihan tanki.
11. Perwira : para awak kapal yang tercantum sebagai perwira dalam Sijil Anak Buah Kapal (suatu buku yang merupakan daftar dari anak buah kapal lengkap dengan catatan-catatan pribadi anak buah kapal dan disyahkan oleh Syahbandar).
12. Manifold : merupakan ujung dari pipa muatan atau cargo line utama, di mana ujung dari pipa ini digunakan sebagai sambungan dari pipa darat untuk kegiatan bongkar muat.
13. Stripping : suatu proses pengeringan tanki muatan dari sisa minyak di mana hal tersebut dilakukan karena pompa cargo sudah tidak bisa lagi menghisap cairan tersebut.
14. Blower : alat yang digunakan untuk memasukkan udara segar ke dalam tanki muatan sebelum dilakukan pengecekan di dalam tanki.
15. Sadel : alat penompang dari butterworth yang diletakkan di atas deck seal. Alat ini juga digunakan untuk mengunci serta mengatur panjang pendeknya selang yang digunakan pada butterworth sewaktu penyemprotan tanki.
16. API : suatu ketetapan yang digunakan dalam perhitungan muatan khususnya minyak
17. Volatile : suatu zat yang mudah menguap.
18. Vikositas : kandungan atau kekentalan suatu zat cair.
19. Bellmouth : suatu cekungan yang terdapat di dasar tanki biasanya terletak di pojok atau sudut dasar tanki muatan di mana di situ terletak ujung-ujung pipa penghisap dari pipa cargo dan stripping.
20. PV Valve : singkatan dari Presure Vakum Valve, yaitu merupakan pipa-pipa yang tegak diatas deck dengan ujungnya menggunakan non return valve (kran satu arah) yang berfungsi untuk mengatur tekanan di dalam tanki muatan dengan cara membuang atau menghisap udara luar. Hal ini sangat penting diperhatikan terutama pada saat bongkar muat
21. Butterworth : alat yang digunakan untuk membersihkan tanki minyak dengan menggunakan penyemprot air panas ± 72 ºC dan tekanan 13 atm, melalui pipa yang bergaris tengah 2,5 cm yang bergerak berdasarkan sistem segner. Pipa penyemprot berputar keliling poros tegak sehingga semua bagian tanki akan bersih, meskipun merk jenis mesin ini bermacam-macam namun karena yang mereka kenal pertama kali adalah merek butterworth maka alat pembersih tanki lazim disebut butterworth. [Istopo (1999 : 148)
22. Awak kapal : semua orang yang berada di kapal dan melakukan dinas di kapal, misalnya Nakhoda, perwira atau bawahan yang tercantum dalam Sijil Anak Buah Kapal dan telah menandatangani Perjanjian Kerja Laut.
23. Slop Tank : suatu tanki di kapal yang biasanya lebih kecil dari tanki muatan. Tanki ini digunakan untuk menampung minyak setelah dilakukan pembersihan tanki, atau untuk menampung minyak-minyak kotor yang tidak dapat dibuang ke laut karena dapat menyebabkan pencemaran laut.
24. Gas Freeing : suatu proses yang dilakukan untuk membuat tanki muatan bebas dari gas-gas beracun yang berbahaya. Gas freeing dapat dilakukan dengan memberikan ventilasi atau peranginan yang baik ke dalam tanki muatan. Hal ini dilakukan dengan maksud memberikan sirkulasi udara yang cukup sehingga terdapat kandungan oksigen yang bersih dan tidak mengandung zat berbahaya.
25. Loading arm : pipa darat yang digerakkan secara hidraulick yang dihubungkan dengan manifold di kapal.
26. Gas Indikation : alat yang digunakan untuk mendeteksi kandungan gas atau uap sebelum dilakukan pengecekan di dalam tanki.
27. Oxygenmeter : suatu alat yang digunakan untuk mendeteksi atau mengetahui kadar oksigen yang terdapat dalam tanki atau ruang tertutup lainnya.
28. CCR : Cargo Control Room, merupakan suatu tempat untuk mengoperasikan bongkar muat muatan pada kapal tanker. Jadi proses bongkar muat di dalam tanki dikendalikan di ruangan ini.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Metode Penelitian
Penelitian yang dipakai untuk menulis karya tulis ilmiah ini adalah jenis penelitian deskriptif. Menurut Drs. S. Margono dalam buku “metodologi penelitian pendidikan” (1996 ; 8), penelitian deskriptif berusaha memberikan dengan sistematis dan cermat fakta – fakta actual dan sifat populasi tertentu yang bertujuan untuk mengumpulkan data atau informasi untuk disusun, dijelaskan dan dianalisis. Penelitian ini biasanya tanpa hipotesis sehingga dalam skripsi ini penulis berusaha menyajikan data – data yang didapatkan selama melakukan penelitian di
B. Metode Pengumpulan Data
Menurut Riduwan (2003:51), metode pengumpulan data ialah teknik atau cara - cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data. Pengumpulan data dimaksudkan untuk memperoleh bahan - bahan yang relevan, akurat, dan nyata. Untuk memperoleh data - data tersebut, antara lain wawancara, observasi, dan kepustakaan. Masing - masing data memiliki kelebihan dan kekurangan sendiri-sendiri. Karena itu lebih baik mempergunakan suatu pengumpulan data lebih dari satu, sehingga semua dapat saling melengkapi satu sama lain untuk menuju kesempurnaan karya tulis ilmiah ini. Di dalam penelitian ini penulis menggunakan beberapa teknik pengumpulan data, antara lain:
1. Riset Lapangan.
Teknik pengumpulan data dengan mengadakan observasi langsung ke objek penelitian yaitu dengan melaksanakan praktek laut selama 12 bulan di atas kapal MT. SAMUDRA SINDO 38, sehingga data - data yang dikumpulkan sesuai dengan kenyataan yang ada pada saat penelitian berlangsung.
Dengan demikian akan didapatkan data yang diyakini kebenarannya, observasi yang penulis lakukan pada penelitian ini dilakukan dengan 2 (dua) cara, yaitu:
a. Metode wawancara
Wawancara adalah suatu cara pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh informasi langsung dari sumbernya. Wawancara merupakan proses tanya jawab secara lisan yang dilakukan seseorang saling berhadapan dan saling menerima serta memberikan informasi. Wawancara sebagai alat pengumpul data menghendaki adanya komunikasi langsung antara penelitian dengan sasaran penelitian.
b. Metode Observasi
Menurut Riduwan (2003:57), observasi yaitu melakukan pengamatan secara langsung ke objek penelitian untuk melihat dari dekat kegiatan yang dilakukan. Apabila objek penelitian bersifat perilaku dan tindakan manusia, fenomena alam (kejadian-kejadian yang ada di alam sekitar), proses kerja, dan penggunaan responden kecil. Teknik observasi digunakan dengan maksud untuk mendapatkan atau mengumpulkan data secara langsung selama melaksanakan praktek laut selama pengoperasian cargo control room di kapal, dimana penulis mengikuti dan terjun langsung pada kegiatan pengoperasian cargo control room sehingga setiap kejadian yang ada dapat diketahui secara langsung oleh penulis.
2. Studi Dokumenter
Teknik dokumenter adalah cara mengumpulkan data melalui peninggalan tertulis , seperti arsip-arsip dan termasuk juga buku-buku tentang pendapat, teori, dalil atau hukum dan lain-lain yang berhubungan dengan masalah penelitian. Metode dokumentasi ini sebagai pelengkap dari penelitian suatu penulisan, metode ini penulis laksanakan dengan cara melihat semua dokumen – dokumen yang berhubungan dengan masalah yang dibahas dalam skripsi ini, baik dokumen dari muatan yang telah dibawa oleh kapal ataupun dokumen tentang data – data kapal yang telah tersedia di kapal
C. Metode Analisa data
Dalam penulisan karya tulis ilmiah ini penulis menggunakan metode analisa data, dengan cara menganalisa data - data yang diperoleh dari hasil penelitian. Selanjutnya penulis membuat penyajian data, penyajian data ini merupakan penjabaran dari data-data yang diperoleh dari hasil penelitian sebelumnya yang telah disusun dengan urut sehingga diperoleh penyajian data yang mudah dipahami dan dimengerti oleh pembaca. Selain isi dari penulisan karya tulis ilmiah ini dapat dipahami, dimengerti sekaligus juga dapat menjadikan suatu pengetahuan / petunjuk yang mungkin dapat diterapkan di atas kapal nantinya.
1. Reduksi data
Reduksi dapat didefinisikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstraksian dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan.
2. Penyajian data
Penyajian data merupakan sekumpulan informasi yang telah tersusun secara terpadu dan mudah dipahami yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan mengambil tindakan.
3. Menarik simpulan
Menarik simpulan merupakan kemampuan seorang peneliti dalam menyimpulkan berbagai temuan data yang diperoleh selama proses penelitian berlangsung.
D. Prosedur Penelitian
Dari data-data yang diperoleh dari penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Penulis menganalisa data tersebut sehingga dapat diperoleh mengenai pembahasan masalah-masalah yang didapat, kemudian dari pembahasan masalah tersebut dapat diambil kesimpulannya dan penulis dapat memberikan saran-saran yang diperlukan.
Rancangan penelitian dalam penulisan karya tulis ilmiah ini memudahkan penulis dalam hal-hal yang berhubungan dengan penelitian. Rancangan penelitian ini meliputi pengumpulan data, membahas data dan disimpulkan yang kemudian dituangkan dalam kara tulis ilmiah ini. Pada bagian ini mempersoalkan tahap - tahap penelitian yang nantinya memberikan gambaran tentang keseluruhan perencanaan, pelaksanaan pengumpulan data, analisis data, sampai pada penulisan laporan.
E. Waktu dan lokasi Penelitian
Pada pelaksanaan proses penelitian ini penulis melakukan praktek lapangan yang penulis lakukan selama bulan Januari 2015 sampai bulan Januari 2016 di kapal MT. SAMUDRA SINDO 38 yang merupakan salah satu kapal yang dikelola oleh PT. Samudera Sindo yang berkantor di Jl. Syahrial, No.06 Rengat, Indragiri Hulu, Riau, Indonesia. Kapal ini merupakan jenis kapal tanker yang dibuat untuk mengangkut jenis muatan minyak goreng curah di mana proses bongkar muatnya dioperasikan di dalam cargo control room. Kapal MT. SAMUDRA SINDO 38 dibuat di Jepang.
Adapun data – data kapal sebagai berikut :
NAME OF VESSEL : MT. SAMUDRA SINDO 38
CALL SIGN : PNQK
PORT OF REGISTER : DUMAI
IMO NUMBER : 8910342
OWNER : PT. SAMUDRA SINDO
OPERATORS : PT. SAMUDRA SINDO
JL. Syahrial, No.06 Rengat, Indragiri Hulu, Riau Indonesia
BUILDERS :KORINOURA, DOCKYAND.CO.LTD.JAPAN
BILDERS YEARS : 1989
TYPE OF VESSEL : TANKER
CLASS : BKI
NRT : 690 TONS
GRT : 1002 TONS
DWT : 1999 TONS
LENGTH OVER ALL : 75.83 M
BREADTH : 11.50 M
DEPTH : 05.33 M
HIGH KEEL TO TOP OF MAST : 23.40 M
MAIN ENGINE : HANSHIN GEL 30.1800/300 Rpm
SPEED : 11.5 Kts
SEA TRIAL SPEED : 12.5 Kts
CARGO OIL TAN CAPACITY : 2.242.654 M3
WBT CAPACITY : 370.40 Mt
FRESH WATER TANK CAPACITY : 32.57 Mt
MDO TANK CAPACITY : 31.OO M3
MFO TANK CAPACITY : 105.09 M3
CARGO PUMP CAPACITY : 250 CuM/Hr
BALLAST PUM CAPACITY : 180 CuM/Hr
F. Sumber Data
Menurut Singarimbun dan Sofian Efendi (1995:11), data ialah bahan mentah yang perlu diolah sehingga menghasilkan informasi atau keterangan yang menunjukkan fakta. Berdasarkan cara memperolehnya, data yang diperoleh selama penelitian sebagai pendukung tersusunnya penulisan karya tulis ilmiah ini.
1. Data Primer
Data primer adalah data yang dikumpulkan dan diolah sendiri oleh peneliti langsung dari responden atau objek penelitian. Data ini hasil observasi langsung terhadap kegiatan operasional kapal, pada saat pengoperasian cargo control room. Juga dilakukan wawancara-wawancara di mana pertanyaan dilengkapi dengan bentuk variasi dan disesuaikan dengan situasi saat pengamatan dan kondisi yang ada.
2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang pengumpulannya bukan diusahakan sendiri oleh penulis. Jadi data sekunder dapat diartikan sebagai data yang berasal dari tangan kedua atau ketiga. Artinya data tersebut telah melewati satu pihak atau lebih selain penulis.
Untuk memperoleh gambaran secara lengkap, utuh dan menyeluruh maka di samping adanya data primer masih diperlukan adanya data tambahan yang dinamakan data sekunder. Jadi data sekunder ini bersifat mendukung dan melengkapi data primer. Adapun yang termasuk data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung.
Data sekunder yang diperoleh penulis melalui catatan-catatan log book , catatan perwira kapal atau mungkin hasil survei yang belum diolah dan dianalisa lanjutan dapat menghasilkan sesuatu yang amat berguna. Dan juga diperoleh melalui buku-buku yang berkaitan, hasil seminar, dan arsip peraturan baik nasional maupun internasional yang menunjang penelitian.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Objek Penelitian
1. Sejarah kapal Tanker MT. Samudra sindo 38
Kapal MT.Samudra Sindo 38 adalah sebuah kapal tanker yang dikelola oleh PT. Samudera sindo yang beralamatkan di Jln.syahrial,No.06.Rengat,Indragiri hulu,riau Kapal tanker MT.Samudra sindo 38 dicarter oleh Wilmar untuk membawa muatan product oi(Minyak goreng curah)l. Kapal ini biasanya diorder oleh Wilmar untuk membawa muatan minyak goreng curah.
2. Deskripsi Muatan Minyak Jadi
Selama pelaksanaan proses bongkar muat minyak jadi dikendalikan dari cargo kontrol room. Cargo Control Room di kapal MT. Samudra sindo 38 berada diruang akomodasi di deck pertama bagian depan. Dari dalam cargo control room tersebut kita bisa melihat kondisi di luar diatas tanki – tanki muatan dan juga aktifitas para crew yang berada di main deck tersebut. Di dalam cargo control room terdapat valve –valve yang digerakkan secara hidraulick dalam pengoperasian bongkar muat di dalam tanki,selain itu juga terdapat panel untuk melihat tinggi muatan, terdapat juga oil dischargo monitoring, dokumen – dokumen muatan dan dua buah komputer untuk menghitung pelaksanaan bongkar muat. Di dalam ruangan ini dipakai mualim satu untuk bekerja dan juga dipakai untuk pertemuan captain, mualim satu, loading master dan orang darat lainnya dalam pelaksanaan bongkar muat muatan.
Selama proses bongkar muat muatan yang berada di dalam cargo control room ialah mualim satu, mualim jaga dan bosun atau pumpman sedangkan juru mudi jaga dan cadet berada diatas deck tanki muatan. Jadi antara yang jaga di cargo control room dengan yang berada di deck harus saling bekerja sama agar pelaksanaan proses bongkar muat dapat berjalan lancar. Berikut ini adalah contoh perhitungan di dalam pelaksanaan proses bongkar muat selama pemuatan di Kumai.
MT.SAMUDRA SINDO FROM : KUMAI
Voy. No : 29L/2015 To : SEMARANG
LOADING CONDITION SUMMARY
| No | Jenis minyak | Ullages/ Sounding | Volume Kl/M3 | Suhu Derajat C | Berat Jenis | Berat Bersih |
| 1S | ROSE | 446,0 | 132.004 | 31 | 131.963 | 119.281 |
| P | ROSE | 443,2 | 131.003 | 31 | 130.962 | 118.377 |
| 2S | ROSE | 444,8 | 282.533 | 31 | 282.445 | 255.302 |
| P | ROSE | 442,7 | 281.239 | 31 | 281.151 | 254.132 |
| 3S | ROSE | 434,0 | 275.148 | 32 | 275.071 | 248.444 |
| P | ROSE | 434,1 | 275.253 | 32 | 275.176 | 248.539 |
| 4S | ROSE | 388,9 | 245.366 | 31 | 245.289 | 221.717 |
| P | ROSE | 401,9 | 253.581 | 31 | 253.502 | 229.140 |
| 5S | ROSE | 380,7 | 145.231 | 31 | 145.186 | 131.234 |
| P | ROSE | 379,5 | 144.765 | 31 | 144.720 | 130.812 |
| | | Jumlah seluruh muatan | 1.956.978 | |||
| Jumlah menurut B/L | 1.899.866 | |||||
| Perbedaan kurang/lebih | +57.112 | |||||
| Atau | 3.01 % | |||||
B.Analisa Hasil Penelitian
3. Deskripsi Hasil Penelitian
Beberapa permasalahan tentang kontaminasi muatan yang merupakan hasil penelitian ini dapat memberikan gambaran tentang kejadian-kejadian yang penulis alami pada saat melaksanakan praktek laut dan penelitian di atas kapal MT.SAMUDRA SINDO 38..
a. Penyebab terjadinya kontaminasi
Dari hasil observasi terhadap objek secara langsung di lapangan, penulis banyak menemukan adanya kontaminasi muatan sehingga proses bongkar muat tidak berjalan secara lancar. Penyebab-penyebab terjadinya kontaminasi diantaranya adalah sebagai berikut:
1) Perwira jaga tidak mengetahui atau kurang teliti deck seal yang kurang tertutup rapat atau kurang kedap.
2) Tidak melaksanakan cleaning muatan pada pipa-pipa penghisap muatan sehingga muatan baru tercampur dengan muatan lama.
3) Tidak diketahuinya adanya kebocoran pada tanki ballast sehingga dapat mempengaruhi muatan yang dimuat.
4) Alat pengambilan sampel tidak di bersihkan terlebih dahulu sehingga muatan terpengaruh olah zat atau muatan lain.
5) Alat untuk mengetahui adanya air di dalam tanki tidak berfungsi dengan baik.
b. Adanya kendala – kendala dalam menangani kontaminasi muatan
Kendala- kendala dalam menangani kontaminasi muatan
1) Dari pihak pencarter (WILMAR) mendatangkan petugas dari terminal muat Kumai untuk menangani kontaminasi muatan dengan cara mencampurkan cairan kimia yang di sebut (STADIS) pada tiap-tiap tanki dengan ukuran yang sudah di tentukan.
2) Tidak adanya alat pengambil sampel yang sesuai prosedur dalam pengambilan sampel sehingga tetap menggunakan alat pengambil sampel yang tidak layak digunakan.
3) Kurangnya ketelitian dalam pembersihan pada alat pengambilan sampel yang akan digunakan untuk pengambilan sampel.
4) Kurang kedapnya penutup-penutup yang ada pada tiap-tiap tanki.
4. Analisa Data
Pelaksanaan penanganan kontaminasi dengan menerapkan prosedur yang benar merupakan bagian yang penting agar proses bongkar muat dapat berjalan dengan lancar. Dalam penanganan kontaminasi muatan ini tidak terlepas dari hambatan – hambatan yang ada misalnya kerusakan kurangnya ketelitian, kurangnya peralatan yang memadai dan lain sebagainya. Hambatan – hambatan ini dapat kita atasi bersama. Dalam penanganan kontaminasi muatan ini kita harus saling bekerjasama dengan baik agar penanganan kontaminasi muatan tersebut berjalan dengan baik akibatnya proses bongkar muat berjalan dengan lancar.
5. Pembahasan
a. Prosedur Penanganan kontaminasi muatan
Dalam penanganan kontaminasi muatan di kapal MT.Samudra sindo 38, perwira jaga harus mengetahui bagaimana prosedur dari penanganan kontaminasi muatan. Adapun prosedur dari penanganan kontaminasi muatan di atas kapal MT. Samudra sindo.
1) Persiapan
a) Pengecekan tanki dengan baik dan teliti
Seorang perwira jaga harus mengetahui tanki dalam keadaan bersih dan siap muat.
b) Pengecekan pipa – pipa
Kita harus mengetahui keadaan pipa yang benar-benar bersih dan siap muat sehingga tidak terjadi kontaminasi muatan.
c) Menyiapkan peralatan pengambilan sampel yang sesuai prosedur.
Mengganti alat yang sudah tidak layak pakai dengan yang baru dan siap di gunakan.
d) Menyiapkan handy talky
Handy talky ini sangat berguna untuk berkomunikasi dengan juru mudi atau cadet yang jaga muatan di atas deck tanki muatan. Apabila ada kontaminasi pada muatan maka dapat diinformasikan melalui handy talky tersebut.
2) Pelaksanaan
Setelah semua persiapan dilakukan maka penanganan kontaminasi muatan dapat dilakukan. Hal – hal yang harus diperhatikan sebelum melakukan penanganan kontaminasi muatan.
a) Apakah muatan benar-benar tidak kontaminasi oleh zat lain dan siap bongkar?
b) Apakah(ABK) juru mudi jaga atau cadet yang berada di atas deck tanki muatan sudah siap untuk melaksanakan dinas jaga?
3) Pengawasan
Pengawasan ini harus dilaksanakan secara terus menerus sampai selesainya penanganan kontaminasi muatan dengan cara pengecekan pada pipa-pipa dan tanki secara teliti. sehingga proses bongkar muat dapat berjalan dengan lancar.
b. Upaya-upaya untuk mengatasi kontaminasi muatan dikapal MT. SAMUDRA SINDO 38.
Dalam penanganan kontaminasi muatan tidak terlepas dari kendala – kendala yang ada. Untuk itulah kendala – kendala yang ada itu harus dapat diatasi.
Adapun cara yang dilakukan untuk mengatasi kendala – kendala tersebut antara lain.
1) Cleaning tanki dan pipa-pipa
Pada saat cleaning tanki juga melaksanakan pembersihan pipa-pipa sehingga muatan lama tidak tersisa lagi pada pipa-pipa sehingga tidak terjadi kontaminasi pada muatan.
2) Merawat alat pengambilan sampel dengan baik
Alat sampel harus di jaga kebersihannya agar tetap dapat digunakan dengan baik dan terhindar dari zat lain yang dapat mempengaruhi muatan.
3) Menambah ketelitian awak kapal dalam penanganan kontaminasi muatan
Nahkoda diharuskan mengadakan pengarahan pada seluruh awak kapal agar menambah ketelitian dalam penanganan kontaminasi muatan agar proses bongkar muat berjalan lancar.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Kontaminasi minyak jadi oleh sisa-sisa minyak lain akan menurunkan kwalitas minyak tersebut. Adapun penyebab kontaminasi muatan tersebut antara lain:
a) Perwira jaga tidak mengetahui atau kurang teliti deck seal yang kurang tertutup rapat atau kurang kedap.
b) Tidak melaksanakan cleaning muatan pada pipa-pipa penghisap muatan sehingga muatan baru tercampur dengan muatan lama.
c) Tidak diketahuinya adanya kebocoran pada tanki ballast sehingga dapat mempengaruhi muatan yang dimuat.
d) Alat pengambilan sampel tidak di bersihkan terlebih dahulu sehingga muatan terpengaruh olah zat atau muatan lain.
e)Alat untuk mengetahui adanya air di dalam tanki tidak berfungsi dengan baik.
2. Upaya-upaya yang di lakukan untuk mencegah kontaminasi muatan antara lain:
a) Cleaning tanki dan pipa-pipa sampai benar - benar bersih.
b) Merawat alat pengambilan sampel dengan baik.
c) Menambah ketelitian awak kapal dalam penanganan kontaminasi muatan.
B. Saran-saran
1. Bagi kapal-kapal tanker yang melaksanakan pekerjaan pembersihan tanki (tank cleaning) seharusnya dari pihak perusahaan harus melengkapi peralatan yang memadai menurut kebiasaannya. Pihak kapal perlu meminta kekurangan-kekurangan peralatan sebelum melaksanakan tank cleaning. Agar dalam pemuatan tidak terjadi kontaminasi minyak dengan sisa-sisa minyak lain dengan minyak yang baru dimuat atau juga minyak dengan sisa air yang ada di dalam pipa-pipa muatan, pembersihan dari pengecekan plug-plug sangat diperlukan agar pemuatan berjalan dengan sebagaimana mestinya.
2. Sebaiknya awak kapal lebih meningkatkan perhatian terhadap pemeliharaan dan pengecekan setiap peralatan muat bongkar, serta perusahaan pelayaran lebih selektif dalam menerima awak kapal.
Comments
Post a Comment