PERAWATAN TURBO CHARGER TERHADAP KINERJA MESIN INDUK DI M T. AEK KANOPAN

 

KATA PENGANTAR

 

Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayahnya, maka penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini dengan baik guna mendapatkan ijazah Sarjana Saint Terapan Program Diploma III Teknika di Akademi Pelayaran Niaga Indonesia Semarang.

Dalam memenuhi karya tulis ini, penulis mengambil  judul CARA PERBAIKAN DAN PERAWATAN TURBO CHARGER TERHADAP KINERJA MESIN INDUK DI MT. AEK KANOPAN 88 Judul ini penulis memilih judul berdasarkan pengalaman dan pengamatan selama penulis praktek di MT. AEK KANOPAN 88, ditambah dengan berbagai disiplin ilmu yang penulis didapat dari buku-buku yang pernah penulis baca.

Dalam penulisannya penulis berusaha semaksimal mungkin untuk memecahkan masalah-masalah yang timbul sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan yang penulis miliki, baik pada saat penulis menimba ilmu di bangku sekolah maupun pengalaman selama melaksananakan praktek laut dikapal. Semoga karya tulis ini dapat bermanfaat untuk menambah pengetahuan bagi rekan-rekan pembaca yang belum memahami atau baru ingin mempelajari hal-hal yang ingin dibahas dalam karya tulis ini, penulis menyadari dalam menyusun karya tulis ini masih jauh dari sempurna baik dari segi pembahasan materi maupun dari segi pemilihan kata dan penyusunan kalimatnya. Oleh sebab itu penulis sangat mengharapkan adanya tanggapan-tanggapan berupa kritik dan saran yang bersifat membangun guna melengkapi dan menyempurnakan.

Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dari berbagai pihak, penulis tidak akan dapat menyelesaikan karya tulis ini. Untuk itu pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1.       Yang Terhormat Capt Ahmad Sulistyo. MM. Mar, selaku Direktur Akademi Pelayaran Niaga Indonesia Semarang.

2.       Yang Terhormat Bapak Ali Khamdillah, MA. selaku Ketua Jurusan Teknika Akademi Pelayaran Niaga Indonesia Semarang.

3.       Nahkoda, Chief Enginer serta perwira-perwira dan semua crew di MT. AEK KANOPAN 88 yang banyak memberikan pengetahuan dalam penyusunan karya tulis ini.

4.       Yang Terhormat Ibu Santhi Wilastari, ST, MT, selaku dosen pembimbing materi penulisan karya tulis yang dengan sabar dan tanggung jawab telah memberi dukungan, bimbingan dan pengarahan dalam penyusunan karya tulis ini.

5.       Bapak Ibu tercinta yang telah memberikan dukungan dan dorongan kepada penulis selama penulisan karya tulis ini.

6.       Kekasih saya Lilis Haryanti yang telah memberikan semangat memotifasi dan memberikan inspirasi dalam pengerjaan karya tulis ini.

7.       Rekan-rekan Se-angkatan  47 dan se-almamater di AKPELNI Semarang.

8.       Semua pihak yang telah membantu sehingga saya dapat menyelesaikan karya tulis ini tepat pada waktunya.

Akhir kata penulis mohon maaf apabila terdapat kesalahan dan kekurangan di dalam penulisan. Dan penulis berharap semoga dapat bermanfaat dan berguna bagi pembaca yang budiman.

 

Semarang,   Juni 2015

 

 

                    WAWAN SETYAWAN

                          NIT. 11.47.2209/ T

DAFTAR ISI

 

HALAMAN JUDUL....................................................................................... i

LEMBAR PENGESAHAN.................................................................................... ii

KATA PENGANTAR ................................................................................    iii

ABSTRAK……………………………………………………………..............    v

DAFTAR ISI ……………………………………………………………..........    vi

DAFTAR GAMBAR...........................................................................................    vii

BAB I PENDAHULUAN....................................................................................    1

1.1    Latar Belakang................................................................................    1

1.2  Identifikasi Masalah.........................................................................    2

1.3  Ruang Lingkup Masalah...................................................................    3

1.4  Tujuan dan Manfaat.........................................................................    3

1.5  Metode Pengumpulan Data..............................................................    3

1.6  Sistematika Penulisan......................................................................    4

BAB II LANDASAN TEORI..............................................................................    5

2.1    Kajian Teori....................................................................................    5

2.2    Kerangka Berfikir........................................................................... 17

BAB III PEMBAHASAN ...................................................................................  18

3.1    Deskripsi Data.............................................................................. . 18

3.2  Pembahasan.................................................................................... 20

BAB IV PENUTUP ............................................................................................  29

4.1    Kesimpulan………………………………………………............. 29

4.2    Saran…………………………………………………………… . 29

DAFTAR PUSTAKA..................................................................................   30

LAMPIRAN ................................................................................................  31

 

DAFTAR GAMBAR

 

 

Gambar 2.1 TurboCharger.................................................................................... 5

Gambar 2.2 Skema Turbocharger............................................................................. 6

Gambar 2.3 Komponen Turbocharger....................................................................... 8

Gambar 2.4 Cara kerja Turbocharger........................................................................ 12

Gambar 2.5 Auxilary Boiler................................................................................. 14

Gambar 2.6 Kerangka Berfikir.................................................................................. 17

Gambar 3.1 Turbocharger MET 35........................................................................... 20

Gambar 3.2 Interooler........................................................................................ …. 22

Gambar 3.3 Scavenging Air Trunk............................................................................. 25

Gambar 3.4 Bosch Pump.................................................................................... 26

Gambar 3.5 Turbin Side...................................................................................... 28

 

 

 

 

 

DAFTAR LAMPIRAN

 

 

 

1.      Crew list MT. AEK KANOPAN 88

2.      Ship particular MT.AEK KANOPAN 88

3.      Ship’s particular Main engine akasaka 6uet 45/75c 3800 hp

4.      ABSTRAK

5.       

6.      Penelitian yang berjudul “Cara Perbaikan dan Perawatan Turbo Charger Terhadap Kinerja Mesin Induk di MT. AEK KANOPAN 88”. Masalah dalam penelitian ini adalah: Sering timbulnya kerusakan pada turbo charger. Pengoperasian sistem pendukung turbo charger yang tidak sesuai dengan instruksi dari manual book. Sebagai masinis atau perwira mesin diharapkan mampu mengoprasikan seluruh pesawat yang berada pada engine room sekaligus dituntut untuk mengetahui proses kerja dan perawatan.

7.            Penelitian ini bertujuan untuk menjaga kinerja dari mesin induk agar tetap baik selama mesin beroperasi, untuk mengetahui tentang penyebab turunnya kinerja turbo charger, untuk mengetahui tentang upaya yang dilakukan untuk mengoptimalkan kinerja dari turbo charger.Dalam penelitian ini metode pengumpulan data yang digunakan penulis yaitu dengan menggunakan metode observasional yang merupakan suatu metode pengumpulan data dengan melakukan pengamatan langsung terhadap subjek penelitian dan metode studi pustaka yaitu teknik yang dilakukan untuk mendapatkan data atau informasi berdasarkan beberapa sumber tertulis.

8.            Berdasarkan hasil observasi bahwa turbo charger memiliki peranan yaitu turbo charger sangat membantu dalam proses pembakaran bagi main engine, maka sebagai masinis 1 wajib selalu mengkondisikan turbo charger siap digunakan saat main engine bekerja.  Main engine akan bertambah tenaga yang lebih apabila turbo charger bekerja secara sempurna. Jika mengalami masalah maka segera lakukan perbaikan supaya tidak menjalar pada main engine.

9.      Kata Kunci: Turbo Charger, MT. AEK KANOPAN 88, Manual Book, Engine Room.

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1    Latar Belakang

Pengoperasian, perawatan, dan perbaikan mesin di kapal MT. AEK KANOPAN 88 dilakukan oleh seluruh anak buah kapal bagian mesin. Namun pertanggung jawaban sepenuhnya oleh chief engineer. Dalam pelaksanaanya di atas kapal, kepala kamar mesin hanya mengawasi kinerja permesinan dan melaporkan kebutuhan spare part ke pihak perusahaan. Laporan - laporan tentang spare part tersebut selanjutnya akan diserahkan kepada masing masing engineer di atas kapal sesuai dengan tanggung jawabnya.

Pada MT. AEK KANOPAN 88 tempat taruna melaksanakan prola, First Engineer bertanggung jawab penuh atas main engine, Perawatan merupakan prioritas utamanya, dan turbo charger merupakan bagian dari main engine yang memerlukan perawatan rutin sesuai dengan running hours nya.

Mesin kapal adalah mesin yang memerlukan tenaga yang besar. Jika hanya dengan pembakaran normal maka akan memerlukan banyak sekali bahan bakar, dan pembakaran menjadi tidak sempurna karena udara yang diperlukan untuk pembakaran tidak mencukupi. Dengan alasan tersebut maka diperlukanlah turbo charger.

Turbo charger memanfaatkan tekanan exhaust gas untuk memutar turbin side yang seporos dengan blower side yang akan mendorong masuk udara ke dalam udara bilas, yang selanjutnya terjadi pembakaran di ruang bakar bersamaan dengan disemprotkanya bahan bakar ke dalam silinder.

Dengan putaran turbo yang tinggi maka udara yang masuk ke dalam ruang udara bilaspun akan semakin banyak sehingga pembakaran akan lebih sempurna. Jika suatu mesin beroperasi dengan pembakaran yang sempurna maka akan menghasilkan tenaga yang maksimal dan bahan bakar yang lebih efisien.

Sering timbulnya kerusakan pada turbo charger merupakan akibat dari perawatan yang tidak mengacu pada standar yang telah di anjurkan, selain itu pengoprasian sistem pendukung turbo charger yang tidak sesuai dengan instruksi dari manual book, sebagai masinis atau perwira mesin diharapkan mampu mengoperasikan seluruh pesawat yang berada pada engine room sekaligus dituntut untuk mengetahui proses kerja dan perawatanya, karena dengan perawatan yang baik permesinan dapat bekerja secara maksimal dan didapat hasil yang sesuai dengan kebutuhan.

Oleh sebab itu kita sebagai calon masinis di atas kapal dituntut untuk lebih peka terhadap kinerja dari mesin mesin yang beroprasi agar kita dapat mengetahui gangguan-gangguan yang terjadi sedini mungkin dan secepatya dapat mengambil tindakan yang diperlukan. Hal ini sangat penting guna menjaga kinerja dari mesin.

 

1.2.Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas terdapat beberapa identifikasi masalah antara lain :

1.      Sering timbulnya kerusakan pada turbo charger.

2.      Pengoperasian sistem pendukung turbo charger yang tidak sesuai dengan instruksi dari manual book.

3.      Sebagai masinis atau perwira mesin diharapkan mampu mengoprasikan seluruh pesawat yang berada pada engine room sekaligus dituntut untuk mengetahui proses kerja dan perawatan.

 

1.3.  Ruang Lingkup Masalah

Dikarenakan permasalahan yang masih sangat luas dan keterbatasan pengetahuan, serta kurangnya pengalaman dan sedikitnya data-data, sehingga masih sulit untuk dibahas secara langsung. Maka untuk mempermudah dalam melaksanakan penelitian, penulis membatasi permasalahan pada pengaruh perawatan turbo charger terhadap kinerja mesin induk.

 

1.4.  TujuanPenulisan Karya Tulis

Setelah melakukan Praktek Laut (PRALA) selama satu tahun penulis dapat mengambil kesimpulan mengenai tujuan dari penulisan karya tulis adalah :

1.4.1.      Memahami pentingnya perawatan terhadap turbo charger mesin induk, untuk mendapatkan kinerja mesin yang efisien dan menghindari terjadinya kerusakan pada turbo charger.

1.4.2.      Memahami tentang kendala yang sering terjadi pada turbo charger dan penanggananya.

 

1.5.  Metode Penggumpulan Data

Dalam menyelesaikan karya tulis ilmiah ini penulis menggunakan dua metode dalam penggumpulan data, yaitu :

1.5.1.      Metode observasional yang merupakan suatu metode pengumpulan data dengan melakukan pengamatan langsung terhadap subjek penelitian.

1.5.2.      Metode studi pustaka yaitu teknik yang dilakukan untuk mendapatkan data atau informasi berdasarkan beberapa sumber tertulis.

 

1.6.Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan karya ilmiah ini terdiri dari empat bab, yang pada setiap babnya terdiri atas sub-sub bab, yaitu :

1.6.1.      Bab I. Pendahuluan

Dalam bab ini akan membahas mengenai latar belakang masalah, identifikasi masalah, ruang lingkup, tujuan dan manfaat penulisan, metode pengumpulan data, sistematika penulisan.

1.6.2.      Bab II. Landasan Teori

Digunakan sebagai dasar acuan dalam pengembangan permasalahan yang diambil. Bab ini membahas mengenai kajian teori yang berisikan teori-teori yang sudah diperoleh dari pustaka maupun dari buku-buku penelitian yang sah / resmi dan membahas mengenai kajian teori yang relevan.

1.6.3.      Bab III. Pembahasan

Dalam bab ini akan membahas atau memecahkan masalah yang sudah teridentifikasikan dalam bab I, pemecahan masalah ini berdasarkan logika deduktif pernyataan yang logis atau benar bedasarkan teori-teori, aturan-aturan dan lain – lain yaitu deskripsi data dan pembahasan.

1.6.4.      Bab IV. Penutup

Pada bab ini disajikan untuk mengakhiri seluruh uraian dan pembahasan. Sub bab-nya terdiri dari kesimpulan dan saran yang berisi jawaban atas masalah dan saran sebagai sumbangan pemikir


 

 

BAB II

LANDASAN TEORI

 

2.1. Kajian Teori

A.     Pengertian Turbo Charger

Definisi turbo charger adalah sebuah unit yang berisi turbin gas dan sentrifugal blower (compressor) yang digerakkan oleh gas bekas dari motor diesel melalui pipa exhaust. Lokasi turbo charger adalah di atas motor diesel pada ujung bebas yang berlawanan dengan engine. Turbin dan blower di pasang menjadi satu pada shaft ujung yang berlawanan (rotorassy). Untuk menopang rotor assy dibutuhkan bearing BE (blowerside) dan bearing TE (turbine side) yang duduk pada turbin casing. Sedangkan blower casing berfungsi mengarahkan udara murni ke dalam cylinder motor diesel. Inlet flange berfungsi mengarahkan gas bekas ke turbin lewat nozzle ring sehingga rotor assy berputar.

Rotor assy pada ujung turbin setelah mendapat dorongan dari gas bekas terus berputar. Karena rotor assy berputar secara langsung compressor wheel assy juga ikut berputar karena satu shaft.

Gambar 2.1 Turbocharger

 

                  Gambar 2.2 Skema Turbocharger.

Dengan berputarnya compressor wheel (blower), maka udara luar dihisap dan ditekan ke dalam cylinder motor diesel melalui pendingin intercooler.

Fungsi turbo charger adalah:

1.      Untuk mensuplay jumlah udara murni yang cukup ke dalam cylinder motor diesel, guna pembakaran yang efektif untuk mendapatkan tenaga yang lebih dari motor diesel.

2.      Untuk pembilasan gas bekas secara langsung juga pendingin internal cylinder

 

Udara yang dihasilkan oleh turbo charger memiliki 2 fungsi:

1.      Udara pembakaran yang bertekanan mengandung lebih banyak oksigen per unit volume dari pada udara yang secara alami dihisap (ditarik dengan aksi piston). Menekan udara meningkatkan power mesin, karena lebih banyak bahan bakar yang dapat di bakar di setiap power stroke. Sehingga lebih banyak power yang dihasilkan dengan penggantian mesin-mesin tertentu.

2.      Selama bagian akhir exhaust stroke dan berlanjut kebagian pertama intake stroke, ada periode pada siklus pada saat intake valve dan valve saluran pembuangan terbuka. Periode ini disebut overlap (pembilasan), udara bertekanan yang masuk ke ruang pembakaran mengeluarkan gas buang dan mendinginkan bagian-bagian piston dan silinder. Suhu gas buang juga diturunkan dengan udara masuk pendingin selama periode overlap.

Ada berbagai macam bagian pada turbo charger, berikut ini adalah komponen pokok dari turbo charger :

1.      Rakitan casing turbin, bearing dan segel.

Casing memiliki empat kaki yang di baut ke free-end covermesin. Semua sub-rakitan dan bagian-bagian lainnya dikuni atau dipasang ke casing turbin.

2.      Rakitan rotor

Rakitan rotor terdiri dari rakitan turbin disk, rakitan roda compressor, poros baut, keran tekan, tutup, kuningan dan mur. Rakitan rotor berputar pada bearing rakitan casing turbin.

3.      Rakitan saluran masuk turbin

Rakitan saluran masuk turbin mencakup flense saluran masuk turbin, ring nozzle, penahan ring nozzle, rakitan ini di pasang di ujung casing turbin. Rakitan ini dikokohkan dengan empat kunci. Turbo charger yang digunakan dengan manifold buang empat pipa memiliki rakitan saluran masuk turbin empat port.

4.      Rakitan casing compressor

Rakitan casing compressor terdiri dari casing compressor, air-inlet dan diffuser. Rakitan ini dikunci ke casing turbin. Air-inlet dihubungkan ke supply udara untuk pembakaran mesin. Dua saluran pembuangan dihubungkan dengan pipa pembuangan udara turbo charger ke intercooler.

 

 

Gambar 2.3 komponen Turbocharger

 

Kita mengenal bahwa mesin diesel merupakan mesin dengan sistem  empat langkah (4tak), tetapi ada pula mesin diesel yang berjenis dua tak, sama seperti prinsip kerja mesin dua tak lainya yang mendapatkan usaha dengan sekali putaran poros engkol, bedanya pada mesin dengan kapasitas yang sangat besar ditambahkan blower bantu pada kedua sisinya yang berfungsi untuk membuat sirkulasi udara yang menuju ruang udara bilas menjadi lebih lancar.

Pada mesin dua tak yang sudah modern, penggunaannya turbo charger sangatlah penting atau sering disebut dengan super charger. Pada beberapa mesin yang dilengkapi dengan super charger ada yang menggunakan van belt untuk menggerakkan kipasnya yang berputar sedikit lebih tinggi dari putaran poros engkolnya. Jenis lainya adalah turbo charger yang memanfaatkan tekanan dari gas buang untuk menggerakkan turbinnya, tetapi memiliki kelemahan yaitu kurang responsif.

Turbo charger merupakan sebuah kompresor gas yang digunakan untuk induksi paksa dari sebuah mesin pembakaran internal. Sebuah bentuk super charger, turbo charger meningkatkan kapasitas udara yang masuk mesin untuk membuat lebih banyak daya. Turbo charger memiliki compressor atau juga Auxilary Bloower yang digerakkan oleh mesin sendiri atau elektro motor yang mendapat sumber dari luar.

Turbo charger ditemukan oleh seorang insinyur Swiss Alfred Büchi. Patennya untuk turbo charger diaplikasikan untuk dipakai tahun 1905.  Lokomotif dan kapal bermesin diesel dengan turbo charger mulai terlihat tahun 1920an. Sebuah kerugian dalam mesin bensin jika memakai turbo charger adalah rasio kompresi harus direndahkan (agar tidak melewat tekanan kompresi maksimum dan untuk mencegah knocking mesin) yang menurunkan efisiensi mesin ketika beroperasi pada tenaga rendah. Kerugian ini tidak ada dalam mesin diesel di turbo charger yang dirancang khusus. Namun, untuk operasi pada ketinggian, pendapatan tenaga dari sebuah turbo charger membuat perbedaan yang jauh dengan keluaran tenaga total dari kedua jenis mesin. Faktor terakhir ini membuat mesin pesawat dengan turbo charger sangat menguntungkan dan merupakan awal pemikiran untuk pengembangan alat ini.

Komponen mesin ini memiliki tiga bagian penting: roda turbin, roda compressor dan rumah poros. Roda turbin yang bersudu-sudu ini berputar memanfaatkan tekanan gas buang keluar, kemudian melalui as terputarnya roda turbin ini berputar pula roda compressor dengan sudu-sudunya sehingga memompa udara masuk ruang bakar dalam massa yang padat. Mengingat komponen ini sering berputar melebihi 15.000 putaran permenit maka pelumasan yang baik sangat diperlukan.

Sudu-sudu turbin merupakan komponen yang sangat penting didalam turbo, sudu-sudu pada blower side berfungsi untuk menghisap udara dari luar dan menekannya ke dalam ruang udara bilas biasanya dibuat dari alumunium campuran sehingga ringan yang memudahkanya untuk melakukan putaran. Karena pesawat ini beroperasi dengan putaran yang sanggat tinggi maka setiap komponen di dalamnya harus dibuat dengan sangat teliti. Sudu turbin mempunyai ukuran, dan spesifikasi yang sangat presisi dengan ukuran-ukuran yang telah ditentukan oleh masing-masing maker dari setiap pabrikan yang membuat pesawat tersebut.

Untuk menjaga agar rotor turbo charger tetap sesuai dengan ukuranya maka diperlukan bearing. Journal bearing telah lama menjadi otot dari turbo charger, namun ball bearing sekarang menjadi kemajuan teknologi terjangkau yang memberikan peningkatan kinerja yang signifikan untuk turbo charger. Pada mesin mesin moderen ball bearing mempunyai tipe lengan tunggal yang berisi satu set bantalan bola kontak pada kedua ujung, sedangkan sistem journal bearing mempunyai satu set bantalan jurnal dan bantalan dorong. Hasil dari survey yang dilakukan menunjukkan bahwa turbo charger yang menggunakan ball bearing mempunyai respon yang lebih cepat dari pada yang menggunakan journal bearing pada mesin mesin jaman dulu.

Kelebihan dari journal bearing adalah lebih mudah dalam perawatan karana bantalan lebih mudah diperiksa dan penggantian komponen ini sangat mudah. Kelemahanya adalah journal bearing lebih lama untuk mencapai putaran kerja, yaitu diperlukan waktu 10-15 menit untuk mencapai kecepatan penuh. Pada  journal bearing hal-hal yang perlu diperhatikan adalah pendinginan dan pelumasannya karena bantalan akan lebih mudah aus apabila turbo charger mengalami overheat atau pelumasan yang berkurang. Tipe ini minyak lumasnya ditampung dalam suatu tanki dan akan disirkulasikan apabila turbo akan bekerja, sehingga memerlukan tambahan LO pump. Hal ini bertujuan untuk mengurangi gesekan yang terjadi pada saat putaran awal.

Ball bearing merupakan inovasi dari tipe sebelumnya yaitu journal bearing, tipe ini tidak memerlukan waktu yang lama untuk mencapai putaran penuh. Karena dengan ball bearing ass sudu-sudu dapat berputar dengan lancar pada putaran awal. Tipe ini memiliki sistem pendinginan yang digabung dengan pendinginan main engine, jadi pengontrolan temperaturnya dapat dilakukan dengan lebih baik. Kekurangan dari type ini adalah bola-bola pada bearing yang karena putaran tinggi dapat mengalami goresan atau luka tanpa diketahui, ini sangat berakibat fatal apabila dibiarkan terus menerus. Apabila bola-bola tersebut pecah saat turbo bekerja maka putaran sudu-sudunya akan tidak seimbang dan ass turbo dapat mengalami kebengkokan.

 

B.     Kajian penelitian

Turbo changer yang terdiri dari unit turbine dan unit kompresor (blower side), blower yang berfungsi untuk memampatkan udara digerakkan oleh ekspansi udara yang mempunyai kecepatan, temperatur dan tekanan tinggi yang merupakan udara hasil pembakaran dari motor, unit turbin dan unit kompresor akan ikut bergerak pula. Unit kompresor itu akan mendorong dengan paksa udara untuk masuk ke dalam rumah siput sehingga volume udara akan mengecil sehingga menghasilkan udara yang bertekanan tinggi. Bagian dasar pada langkah motor pembakaran dalam adalah supply udara segar dan pergantian gas sisa pembakaran (pembilasan).

Charging merupakan proses pengisian mesin silinder dengan mengisi atau mengganti dengan udara segar yang telah dikompresi (udara bilas). Dengan super charging akan lebih banyak massa udara yang disuply ke dalam silinder dengan perputaran pada kondisi dibawah tekanan. Pada mesin-mesin kuno, pengambilan udara segar hanya pada kondisi tekanan atmosfer. Pada mesin-mesin modern menggunakan gas keluaran sebagai penggerak turbo change untuk mensuplay udara segar yang bertekanan untuk proses scavange dan super change. Hal ini dapat di terapkan pada motor dua langkah maupun empat langkah. Kelebihan motor diesel dua langkah dibandingkan dengan motor diesel empat langkah adalah dengan ukuran dan daya yang sama maka motor diesel dua langkah memiliki tenaga yang lebih besar karena mesin dua langkah hanya memerlukan satu kali putaran poros engkol untuk menghasilkan usaha, berbeda dengan mesin empat langkah yang memerlukan dua kali putaran poros engkol untuk mendapatkan satu kali usaha.

Dengan pengertian di atas maka mesin dua langkah memiliki tenaga dua kali lipat dibandingkan dengan mesin empat langkah. Akan tetapi dikarenakan kerugian panas, gesekan, dan gas buangnya maka hanya diperoleh penambahan tenaga sebesar 30%. Ini berarti mesin dua langkah sangat efisien terhadap tempat yang tidak memerlukan tempat yang besar jadi menguntungkan jika diaplikasikan di kapal karena berhubungan terhadap kapasitas muatan. Kelemahan dari mesin dua langkah adalah pembakarannya yang tidak sempurna karena bahan bakar tidak sepenuhnya terbakar dalam ruang bakar. Para ahli enginnering menyimpulkan bahwa hal tersebut terjadi karena proses dari pembilasan yang terlalu lambat. Dengan alasan tersebut maka penambahan udara yang ditekan ke dalam ruang bakar dapat mengakibatkan pembakaran menjadi lebih sempurna dan tenaga yang dihasilkan pun menjadi lebih besar.

Gambar 2.4 Cara Kerja Turbo Charger

 

Jika kita perhatikan lagi pada materi kuliah mesin penggerak utama akan terlihat proses pembilasan pada motor diesel dua langkah tidak sempurna, disebabkan oleh panjangnya alur pembilasan dan besarnya volume udara yang harus dibilas, maka timbul pemikiran untuk membilas dengan menggunakan tekanan, sehingga proses pembilasan diharapkan berlangsung lebih bagus. Ternyata dengan penekanan tersebut massa oksigen yang terikat pada volume udara yang sama lebih besar, sehingga bahan bakar yang dibakar juga akan lebih banyak, jadi tenaga yang diperoleh dengan mesin yang sama akan menghasilkan tenaga yang lebih besar.

Pada mesin kuno dahulu, turbo change biasanya hanya merupakan mesin tambahan saja, sehingga apabila turbo change nya rusak atau tidak dapat berfungsi kapal masih dapat berjalan dengan normal, hanya lebih lambat saja dari sebelumnya. Untuk mesin sekarang, karena terbukti dengan penggunaan turbo change dapat meningkatkan tenaga sampai 30% maka turbo change merupakan bagian dari desain, dengan kata lain tenaga yang sama dapat dihasilkan  dengan dimensi mesin yang 30% lebih kecil, hal ini sangat menguntungkan untuk aplikasi di kapal dimana masalah berat dan ukuran adalah sangat penting. Konsekuensi dari hal itu adalah apabila turbo changer rusak, maka boleh dikatakan mesin bekerja dengan tidak maksimal karena pasokan oksigen yang didesain untuk mesin tersebut tidak tercapai, mesin tidak dapat bekerja maksimal. 

Pada kondisi operasi normal, dimana kecepatan dan temperatur dari gas buang sudah mencukupi, operasi (kerja) dari blower untuk mensuplai udara sepenuhnya disuplai oleh turbin. Udara yang di tekan biasanya memanas, apabila hal tersebut dibiarkan maka udara akan mengembang kembali. Untuk mencegah hal tersebut, sebelum masuk ke engine dilewatkan dahulu kedalam intercooler (udara didinginkan oleh air laut yang disirkulasikan), pada kasus ini karena yang didinginkan adalah udara yang digunakan untuk pembakaran, maka pendinginnya disebut sebagai charge air cooler. Dengan ukuran yang sama mesin-mesin yang dilengkapi dengan intercooler memiliki tenaga yang lebih besar.

 

Pada saat motor diesel tidak dapat menghasilkan gas buang yang cukup (apabila kapal baru start, dan putaran mesin masih dibawah putaran kritis) temperatur, kecepatan, maupun tekanannya akan menurun sehingga tidak mampu memasok tenaga yang mencukupi bagi kompresor (blower) yang digunakan untuk pasokan udara pembilasan.

Maka dibutuhkan alat bantu Auxiiliary Blower, alat ini mempunyai penggerak sendiri yang berupa elektro motor, yang bekerja secara otomatis.

Gambar 2.5 Auxiliary Blower

 

C.     Surging Pada Turbo charger

Turbo charger merupakan salah satu komponen yang penting diatas kapal. Surging pada turbo merupakan fenomena pada turbo yang dapat mempengaruhi kinerja dari sebuah turbo charger. Surging pada turbo charger dapat didefinisikan sebagai getaran atau ledakan nada tinggi yang berasal dari ujung blower atau dari ruang udara bilasnya. Setiap kali pemecahan gas terjadi, pembalikan udara scavenging terjadi melalui defuser dan pisau-pisau impeler ke sisi blower yang menyebabkan surging. Surging harus dihindari karena dapat mengakibatkan kerusakan pada thrust bearing. Oleh karena itu turbo charger haruslah disesuaikan dengan kebutuhan udara dari suatu mesin dan pada masing-masing tekanan yang berbeda.

Surging dapat ditengarai dengan menurunya putaran dari turbo charger yang terjadi akibat tekanan reversal. Ketidak seimbangan pada putaran turbo dan getaran yang terjadi dapat mengakibatkan kerusakan berat pada turbo charger. Surging juga dapat terjadi karena perubahan beban dan putaran yang terjadi secara mendadak. Ada tiga hal yang mempengaruhi kerja dari sebuah turbo charger yaitu rasio kompresi, volume udara masuk, dan kecepatan kapal. Ketika udara sisa pembakaran mengenai sudu-sudu turbin maka akan menjadikan rotasi pada impeler yang semakin cepat dan mengakibatkan tekanan yang meningkat pada blower side.

Pada saat terjadi surging, udara dari udara bilas akan membalik dan mengakibatkan penurunan kecepatan pada turbo charger hal ini dapat mengakibatkan kerusakan pada sisi compressor. Jika aliran balik terjadi maka gas buang yang dihasilkan akan lebih sedikit karena udara kompresi pada silinder berkurang, hal ini mengakibatkan tendangan ke sudu-sudu berkurang. Hal ini menyebabkan getaran yang berlebih dan suara bising, yang dapat mengakibatkan rusaknya bagian blower side.

Ada beberapa hal yang dapat mengakibatkan suatu mesin mengalami surging, antara lain :

1.    Perbadaan tenaga pada masing-masing silinder yang berbeda-beda jika ada salah satu silinder ada yang menghasilkan tenaga tinggi dan ada silinder yang menghasilkan tenaga yang kurang. Hal tersebut terjadi karena konsumsi udara pada silinder yang menghasilkan tenaga besar dan silinder yang menghasilkan tenaga rendah berbeda hal tersebut dapat mengakibatkan surging.

2.    Kotornya bagian turbin side dan blower side, dalam hal ini jika filter udara mengalami pengotoran maka blower tidak akan mendapatkan pasokan udara yang cukup untuk pembakaran yang dapat mengakibatkan surging. Demikian juga pada sisi turbine kotor, jika nozzle ring, dan sudu-sudu terdapat kotoran maka tidak dapat mendapatkan pasokan udara yang cukup untuk pembakaran yang dapat menyebabkan surging.

3.    Sangat kotornya bagian exhaust gas buang dan economizer, hal ini jika dipaksakan akan mengakibatkan tekakan balik yang akan mengakibatkan surging.

4.    Hal lain yang dapat menyebabkan surging pada turbo charger adalah cuaca buruk, pada saat kapal beroperasi pada cuaca buruk mesin mendapatkan perubahan beban yang berubah-ubah karena baling-baling yang naik turun dan kadang terangkat ke permukaan air. Hal ini menyebabkan putaran turbo yang tidak beraturan dan dapat mengakibatkan surging.

Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat mencegah terjadinya surging pada turbo charger, tetapi perlu  diketahui bahwa beberapa item mungkin berbeda karena perbedaan pada konstruksi dan type dari masing-masing turbo charger :

1.    Jaga filter udara agar tetap bersih

Jika filter udara bersih maka udara dapat dialirkan secara baik ke dalam ruang bakar sesuai dengan kebutuhan dari mesin tersebut.

2.    Bersihkan bagian blower side dan turbine side secara rutin.

Hal ini dilakukan agar tidak terjadi sumbatan karena jelaga pada sudu-sudu dan nozzle ring yang dapat menghalangi aliran udara.

3.    Lakukan Shut blow

Lakukan shut blow dari waktu ke waktu secara rutin, hal ini dilakukan untuk menghilangkan jelaga atau kerak yang dapat mengakibatkan sumbatan pada exhaust gas buang dan pada economizer.

4.    Indikator tester

Lakukan pengecekan pada masing-masing silinder untuk mengetahui distribusi dan tenaga pada masing-masing silinder.

 

2.2.  Kerangka Berfikir

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Gambar 2.6 Kerangka Berfikir

 


 

BAB III

PEMBAHASAN

 

 

3.1    Deskripsi Data

A.     Gambaran Umum Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di kapal MT. AEK KANOPAN 88 pada bulan maret 2014 - maret 2015. Kapal ini merupakan kapal milik PT.FAJAR INDAH TIRTA ABADI, adalah kapal general cargo yang mengangkut Loog. Kapal ini mempunyai DWT 6.251,47 KT dengan main engine type AKASAKA MITSUBISHI UE DIESEL ENGINE, menghasilkan tenaga 3800 PS pada 230 Rpm. Kapal ini buatan tahun 1980 dengan enam silinder. Terdapat dua generator engine yang digunakan untuk bongkar muat dan penerangan kapal dengan type YANMAR 6MAL-HT, dengan frekuensi  180 KVA, 1200 rpm. Mampu mengeluarkan daya maksimal 230 Kw, generator dikapal MT. AEK KANOPAN 88 dilengkapi dengan dua turbo charger dengan type MITSUBISHI MET 35 dan MITSUBISHI MET 36.

Kapal ini mempunyai 4 lantai kamar mesin, lantai paling bawah terdapat pompa-pompa, dan auxiliary engine sebanyak dua buah. Main engine ada pada lantai paling dasar sampai dengan lantai dua, control room terdapat pada lantai 1, yang berdekatan langsung dengan main engine. Dari dalam control room kita dapar melihat purifier, tanki service dan tanki settling. Mesin induk yang sedang bekerja serta turbonya juga dapat diamati dari dalam control room. Bagian belakang lantai dua terdapat boiler dan economizer yang berhubungan dengan exhaust gas, pada lantai tiga terdapat berbagai jenis tanki, antara lain tanki service dan settling LO system dan tanki service dan settling LO sylinder. Setiap lantai dihubungkan menggunakan tangga besi yang digunakan untuk bekerja setiap harinya. Pada lantai dua terdapat tangga darurat yang  digunakan jika terjadi situasi atau keadaan yang berbahaya dalam kamar mesin.

 

B.     Hasil Observasi

Observasi dilakukan secara terus menerus selama 12 bulan. Yang menjadi obyek pengamatan adalah faktor-faktor yang mendukung pengoperasian dari sebuah turbo charger dan pengamatan terhadap turbo charger sendiri meliputi saringan pelumas, cooler oil turbo charger, main engine, inter cooler dan tekanan udara bilas turbo charger. Kemudian diadakan pengamatan dan pengawasan pada masing-masing alat tersebut. Dari hasil pengamatan yang telah dilaksanakan diketahui bahwa pada masing-masing komponen turbo charger memiliki keadaan yang berbeda-beda sehingga memerlukan perawatan yang berbeda pula.

Dari hasil pengamatan diambil data sebagai berikut :

1.   Turbo charger di kapal tempat taruna prola beroperasi 14.000 rpm sampai 15.000 rpm pada saat kapal  full speed.

2.   Pada saat M/E start, turbo charger memerlukan waktu selama kurang lebih sepuluh menit untuk mencapai putaran penuh.

3.   Jika bahan bakar fuel oil kualitasnya kurang bagus, atau temperaturnya kurang, maka putaran turbo charger akan sedikit lebih lambat dari biasanya.

4.   Auxiliary blower akan terus bekerja apabila tekanan pada udara bilas belum sesuai dengan kebutuhan mesin. Auxiliary blower akan mati secara otomatis apabila tekanan sudah lebih dari 0.6 kg/cm2. Pada tekanan tersebut putaran turbo sudah lebih dari 10.000 rpm.

5.   Semakin tinggi tekanan udara bilas, maka pembakaran akan lebih sempurna. Hal tersebut diketahui dari cerobong yang tidak mengeluarkan asap hitam tebal dan temperatur gas buang yang normal.

6.   Jika suhu gas buang tinggi karena ring yang sudah aus atau tekanan injektor yang tidak sesuai, dapat mengakibatkan terbakarnya ruang udara bilas.

 

 

 

3.2.  Pembahasan

A.     Identifikasi Masalah  Dalam Kapal

Gambar 3.1 Turbo Charger MET 35

 

Kerusakan pada turbo charger tentu tidak diinginkan. Namun ada beberapa keadaan pada turbo charger yang dapat berakibat fatal apabila tidak segera ditangani. Sebagai seorang enginer di atas kapal seseorang dituntut untuk peka terhadap semua kinerja dari permesinan yang sedang beroperasi. Berikut ini merupakan permasalahan yang sering terjadi pada pesawat turbo charger pada kapal tempat taruna prola dan hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi pada saat melakukan perawatan.

Dari hasil penyelidikan menunjukkan bahwa ada enam hal yang sering terjadi pada turbo charger yaitu :

1.    Tersumbatnya kotoran pada saringan pelumas

Dalam hal ini peranan pelumasan pada turbo charger sangat penting, penyumbatan yang terjadi dapat mengakibatkan rpm putaran dari turbo charger kurang maksimal. Langkah yang harus diambil lepas saringan dan ganti  dengan saringan yang baru.

2.    Tersumbatnya cooler ( pendingin ) oil turbo charger

Apabila minyak pelumas encer akibat pendingin yang tidak sempurna maka dapat mengakibatkan suhu dari gas buang menjadi tinggi pula. Dalam hal ini yang utama dalam pembersihannya kita tutup dahulu kran masuk dan keluarnya pendingin tersebut, lalu buka ikatan plant pada pipa baru buka cover LO cooler. Lihat lobang masuk dan keluarnya pendingin, pergunakan rotan atau kabel listrik yang sedikit longgar dari lobang cooler, sogok dengan perlahan supaya komponen dari pipa tembaga tidak mengalami kerusakan.

Pergunakan air untuk menyemprotnya supaya kotoran dapat keluar semua dan hasil yang baik. Perlu diingat apabila dalam langkah kita sogok cooler dengan hati-hati apabila merusak komponen pipa cooler dan terjadi kebocoran dapat mengakibatkan bercampurnya oil turbo dengan air.

3.    Lolosnya sistem pembakaran dari main engine

Untuk mendapatkan putaran turbo charger yang maksimal diharapkan main engine bekerja secara maksimal pula. Hal ini dapat dilihat pemakaian bahan bakar yang bersih tidak bercampur dengan lumpur, suara kasar, tekanan udara bilas yang kurang dapat mengakibatkan terjadinya penumpukan kotoran pada ruang udara bilas. Hal ini dapat mengakibatkan kebakaran di dalam ruang udara bilas dan menyebabkan rusaknya sistem pada turbo charger.

4.    Penyumbatan pada intercooler

Dalam fungsinya intercooler bekerja sebagai pendingin udara bilas yang telah bersih bahan bakar yang tidak terbakar dan oil pelumasan dari main engine, yang dikarenakan ring piston yang sudah mulai aus dapat mengakibatkan saringan inter cooler menjadi buntu. Masalah ini sering terjadi sehingga sistem kerja dari turbo charger tidak dapat sempurna.

Gambar 3.2 Intercooler

 

5.    Suara kasar dan tekanan naik turun

Hal ini disebabkan karena bearing pada as turbin turbo sudah mulai goyang dan aus. Dapat dilihat dari tekanan udara bilas yang kurang dan rpm yang turun, bongkar atau overhoul turbo dengan cara lepas komponen-komponen pada mesin turbo changer. Cek bearing isap dan buang pada turbo bila terdapat rusak ganti dengan spare part yang dibutuhkan. Pasang kembali setelah selesai diganti dengan yang baru, setelah terpasang dengan baik jalankan auxiliari blower, bila tidak terdengar suara kasar dan berputar dengan baik pasang komponen-komponen turbo yang lain seperti filter dan rumah keong turbo charger.

6.    Terbakarnya ruang udara bilas

Jika ruang udara bilas kotor oleh lumpur FO yang sudah lama terkumpul karena ring compresi yang sudah mulai aus atau macet maka hal tersebut dapat mengakibatkan ring patah, sehingga api dari pembakaran dapat keluar dari ruang bakar dan membakar ruang udara bilas, jika hal ini terjadi maka turbo akan terjadi charging dan jika tidak tanggap dalam menangani turbine dalam turbo dapat meledak.

 

 

Permasalahan lain yang sering terjadi adalah timbulnya kerak atau jelaga pada sudu-sudu turbin, hal ini terjadi karena pembakaran yang tidak sempurna pada ruang bakar sehingga jelaga akan menggumpul pada sudu-sudu turbin. Hal ini dapat mengurangi putaran pada turbo, sehingga pasokan udara ke dalam udara bilas sedikit sehingga tenaga mesin berkurang. Hal ini dapat terjadi karena ring piston yang sudah aus atau kurangnya temperatur fuel oil yang masuk ke dalam ruang bakar. Jika sudu-sudu turbin tersumbat maka dapat diketahui dengan timbulnya suara berdesing saat mesin beroperasi dengan kecepatan penuh dan menerima beban yang besar.

 

B.     Keunggulan Pada Turbo Charger Type MET 35 dan MET 36

Obyek penelitian dalam karya tulis ilmiah ini adalah turbo charger pada kapal MT. AEK KANOPAN 88, dengan type MET 35 dan MET 36. Turbo ini menggunakan journal bearing untuk bantalan porosnya, sehingga lebih lama untuk mencapai kecepatan kerja tetapi desainnya yang efisien dan tenaga yang dihasilkan mencukupi untuk kerja main engine. Adapun keunggulan-keunggulan lain yang dimiliki oleh Turbo Charger type MET 35 dan MET 36 diantaranya yaitu :

1.      Tidak memerlukan tempat luas

Hal ini sangat menguntungkan bagi kapal-kapal niaga karena menghemat tempat sehingga akan menambah ruang muat dan akan menambah untung bagi ship owner yang mengoperasikan kapal tersebut.

2.      Mudah dalam perawatan

Turbo changer ini sangat mudah dalam perawatan baik secara berkala maupun emergency, yang perlu diperhatikan hanya saja turbo changer ini sistem pelumasan dan juga pendingin bagi oil pelumas tersebut, karena apabila cooler terjadi penyumbatan maka dapat menaikan suhu pelumas dalam turbo charger tersebut.

 

3.      Sistem perpipaan yang tidak banyak

Turbo charger ini tidak banyak membutuhkan banyak pipa karena sistem pelumasan dari tank oil turbo dialirkan ke cooler untuk didinginkan dan masuk kembali pada tank turbo.

 

C.     Perawatan Turbo charger

Perawatan pada setiap komponen turbo charger dapat harus dilaksanakan sesuai dengan jam kerja dari setiap komponennya. Jika sebelum jam kerjanya habis dan sudah terjadi kerusakan maka sudah menjadi kewajiban bagi seorang masinis untuk melakukan perbaikan.

perawatan rutin yang dilakukan antara lain:

1.    Membersihkan filter LO turbo

Turbo charger beroperasi dengan putaran yang sanggat tinggi, pada MT. AEK KANOPAN 88, putaran turbo pada saat kecepatan penuh adalah 12.500 - 15.000 rpm. Jadi pelumasan yang baik sangat diperlukan jika filter LO kotor maka tekanan minyak lumas akan turun jadi gesekan antar komponen akan semakin besar. Apabila tekanan minyak lumas sudah menunjukkan adanya penurunan maka kemungkinan filternya sudah kotor oleh jelaga. Filter LO dibersihkan sesuai jam kerjanya yaitu setiap 500 jam.

Hal lain yang dapat mempengaruhi turunnya tekanan LO adalah kurangnya pendinginan, hal ini dapat menyebabkan minyak menjadi encer karena viscositasnya menurun. Hal yang dapat dilakukan adalah memperbesar tekanan air pendingin atau membersihkan LO cooler yang mungkin buntu karena terdapat kotoran

2.    Memeriksa bantalan dan bearing turbo charger

Pada kedua sisi turbo yaitu blower side dan turbine side terdapat bantalan atau bearings yang berfungsi untuk menjaga ass pada turbo charger tetap dalam keadaan centre. Bantalan turbo dikatakan sudah tidak bagus apabila ass sudah kocak. Lakukan pengecekan setiap 10.000 jam dengan menhoverhoul turbo maka dapat diketahui bagian mana saja yang sudah aus atau mengalami kelonggaran.

Saat melakukan overhoul pada turbo dapat pula melakukan perawatan pada beberapa komponen yang lain seperti  membersihkan sudu-sudu turbin. 

3.    Membersihkan ruang udara bilas.

Ruang udara bilas bukanlah komponen dari turbo charger, akan tetapi menunjang kinerja dari tutbo, jika ruang udara bilas kotor maka akan mudah terbakar jika ruang udara bilas terbakar maka dapat terjadi ledakan pada turbo charger. Ruang udara bilas  menjadi kotor karena terjadi kompresi yang lolos peda salah satu silinder, hal itu dipengaruhi karena ring piston yang sudah aus atau tekanan injector yang tidak sesuai. Lakukan pengecekan secara berkala dan bersihkan setiap 1000 jam.

 

Gambar. 3.3 Scavengin Air Trunk

 

4.    Pengecekan Injector dan Bosc Pump

Sistem bahan bakar adalah sistem yang mempengaruhi kerja dari main engine dan juga turbo charger, tekanan dari bosc pump tidak boleh terlalu lemah dan tekanan injektor harus sesuai dengan manual book. Pada kapal tempat taruna prola tekanan dari injector adalah 310kg/cm2 . jika tekanan terlalu tinggi maka suhu gas buang akan tinggi dan dapat mengakibatkan pecahnya exhaust manifold, sedangkan jika tekanan terlalu rendah maka akan terdapat kotoran karena lumpur FO yang tidak terbakar pada ruang udara bilas.

 

Gambar 3.4 Bosch Pump

 

D.     Perbaikan Karena Trouble Saat Kapal Berlayar

Main engine dirancang untuk dapat bekerja walaupun tanpa turbo charger. Hal ini untuk mengantisipasi jika dalam situasi darurat di tengah laut turbo charger mengalami kerusakan maka kapal masih dapat melanjutkan pelayaran walaupun dengan tenaga yang lebih rendah karena mesin beroperasi di bawah putaran kritis. Trouble pada turbo charger sering terjadi karena surging dan ledakan yang mengakibatkan bengkoknya rotor turbo, hancurnya sisi turbine dan blower side.

Jika sudah terjadi hal seperti itu, chief enginer akan mengambil keputusan, melanjutkan pelayaran atau memperbaiki turbo jika kerusakan tidak terlalu parah. Pernah suatu keadaan trouble saat kapal berlayar pada kapal tempat taruna prola, kerusakan itu mengakibatkan hancurnya sisi blower side pada rotor sehingga rotor tidak dapat berputar. Langkah yang diambil yaitu turbo charger  harus di blank. Adapun caranya adalah sebagai berikut :

1.    Melepas rotor turbo charger dan menutup lubang rotor dengan packing.

2.    Menutup saluran tekan manifold turbo charger.

3.    Membuka saluran langsung yang melewati intercooler dan menutup lubang yang berasal dari turbo charger sehingga udara tidak melewati intercooler.

4.    Membuka deksel di bawah auxiliary blower untuk hisapan. Jika ada dua auxiliary blower maka cukup dibuka satu saja karena jika dibuka semuanya udara tidak dapat bersirkulasi.

Hal lain yang harus diperhatikan saat melakukan hal tersebut adalah semua deksel yang ditutup haruslah kedap udara, karena jika tidak kedap akan menjadikan main engine sulit saat dimulai. Jika mesin sudah bisa dimulai dengan keadaan tersebut ada beberapa hal hang harus diperhatikan karena mesin beroperasi di bawah putaran kritis sehingga banyak kotoran yang mengendap karena lumpur FO dalam ruang udara bilas. Kotoran yang terlalu banyak dapat mengakibatkan ruang udara bilas hal ini di tunjukkan dengan menurunnya rpm kemudian main engine akan mati. Hal hal yang harus diperhatikan adalah :

1.    Fuel oil yang masuk ke dalam ruang bakar temperaturnya harus sesuai (>100oC).

2.    Rack bosc pump tidak boleh terlalu tinggi, karena bahan bakar akan banyak yang tidak dapat terbakar.

3.    Pendinginan harus baik untuk menghindari overheating.

4.    Selalu cek auxiliary blower karena elektromotornya dapat terbakar setiap saat.

5.    Saat melaksanakan dinas jaga, hal yang harus diperhatikan adalah tekanan dari setiap manometer .

Jika kapal dalam kondisi seperti ini biasanya ruang udara bilas akan terbakar setiap dua atau tiga hari sekali, hal yang dilakukan adalah membuka deksel dan semprot ruang udara bilas dengan air.

Gambar 3.5 Turbine Side

 

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

 

 

4.1.  Kesimpulan

Dari penelitian yang telah dilakukan maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1.      Pentingnya perawatan terhadap turbo charger mesin induk,untuk mendapat kinerja mesin yang efisien, harusnya kita melakukan perawatan sebagai berikut, membersihkan Filter Lo agar turbo charger dapat bekerja secara maksimal dengan kecepatan 12,500-1500 rpm.

2.      Kendala yang sering terjadi pada turbo charger ialah sebagai berikut:

- Tersumbatnya kotoran pada saringan pelumasan.

- Tersumbatnya cooler (pendingin) oil turbo charger.

- Lolosnya sistem pembakaran dari main engine.

- Penyumbatan pada intercooler.

- Suara kasar dan tekanan naik turun.

- Terbakarnya ruang udara bilas.

                

2.2.  Kritik dan Saran

1.      Perawatan berencana sangat penting, perawatan sesuai dengan jam kerja sangat baik diaplikasikan untuk mengetahui keadaan dari setiap komponen turbo charger. Pemberian spare parts yang bagus akan menjadikan setiap komponen memiliki daya ekonomis yang lebih lama.

2.      Jagalah alat-alat yang menjadi tanggung jawab anda, lakukan perawatan secara berkala dan pastikan alat-alat anda dalam kondisi yang baik. Jika mengalami masalah atau kerusakan sebaiknya segera lakukan perbaikan saat itu juga bila perlu lakukan overhaul. Selalu lakukan kordinasi yang baik dengan sesama perwira maupun ABK. Terima segala masukan baik dari perwira maupun ABK, supaya tercipta kerjasama yang baik antar crew di atas kapal.

3.      Jangan menganggap masalah itu mudah karena dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain. Lakukan penanganan yang cepat, tepat dan prediksi yang baik, bila mendapatkan laporan baik dari ABK maupun perwira segera catat yang bermasalah kemudian berikan tindakan dan keputusan secepat mungkin.

4.      DAFTAR PUSTAKA

5.       

6.       

7.      Eri,D, 2013, Turbocharger, ilmuteknikpelayaran.blogspot.com, 09 Apri          2015  14.00 wib.

8.      Instruction Manual. 1980. Turbocharger Ltd. Japan

9.      Wawan S,2015, Cara Perbaikan dan  Perawatan turbocharger Terhadap Kinerja Mesin Induk Di MT. AEK KANOPAN 88

10.  Sukoco,R. dan Zainal,A. 2008. Teknologi Motor Diesel. Cetakan kesatu. Bandung: Alfabeta

11.  Technoart,S, 2011 , Komponen – komponen Turbocharger, artikel-teknologi.com, 09 april 2015 14.30 wib

12.  Van Maanen, P.  1999, Motor Diesel Kapal. jilid 1,Jakarta: Triasko madra           

13.   

14.   

 

Comments

Popular posts from this blog

latihan soal pasca att 3 (Use English in written and oral form)

latihan soal pasca att3 Maintance and repair of electrical and electronic equipment

Mengelolapengoperasianperalatanmesinpendorong(Managethe operationofpropulsion plant)