IDENTIFIKASI MANFAAT UDARA BILAS PADA MOTOR DIESEL KAPAL DI KM. DWI BUDDYARTO ”

 

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur kami panjatkan kehadiran Allah SWT atas rahmatdan hidayah-Nya sehingga penyusun dapat menyeleseikan karya tulis ini dengan baik yang berjudul: “ IDENTIFIKASI MANFAAT UDARA BILAS PADA MOTOR DIESEL KAPAL DI KM. DWI BUDDYARTO

K arya tulis ini diajukan untuk memenuhi kewajiban serta memenuhi persyaratan dalam menyelesaikan Program Pendidikan Diploma III di AKADEMI PELAYARAN NIAGA INDONESIA SEMARANG.

Penyusun karya tulis ini tidak lepas dari banyak pihak yang mendukung, sehingga pada kesempatan ini penyusun akan terima Kasih Kepada:

1.      Bapak Kapten Ahmad Sulistyono M.Mar selaku d irektur Akademi Pelayaran Niaga Indonesia .

2.      Bapak Ali Khamdillah, MA. Selaku dosen dan kepala jurusan teknika.

3.      Dosen materi pembimbing Bapak Eka Darmana , ST, MT .

4.      Bapak / Ibu Dosen dan seluruh jajaran penguji AKPELNI Semarang.

5.      Ayah/Ibu tercinta selalu memberi dorongan semangat sehingga Karya Tulis ini dapat diselesaikan.

6.      Crew KM. DWI BUDDYARTO yang membantu taruna dalam melaksanakan prala.

7.      Rekan-rekan Taruna angkatan 47 dan seluruh pihak yang telah membantu baik secara langsung maupun tidak langsung sehingga tersusunnya karya tulis ini.

Semarang,.......................2015

 

 

Teguh Winarto

NIT.11.47.2195

 

 

ABSTRAK

 

Dalam peranan dan fungsinya, motor diesel pada kapal merupakan bagian yang sangat penting dalam menunjang proses kelancaran dalam pelayaran dan kapal itu sendiri. Untuk menjaga agar motor diesel kapal tetap baik dan dapat memberikan manfaat yang maksimal perlu adanya perawatan. Salah satunya dengan diadakan pembilasan. Dimana pembilasan ini berguna untuk mengeluarkan gas-gas bekas dan silinder dan menggantinya lagi dengan bahan bakar (udara) baru. Dengan demikian silinder tetap bersih sehingga dapat menunjang kelancaran gerak kapal itu sendiri.

 

Pada penelitian ini metode yang digunakan dalam pembahasan masalah menggunakan metode observasi / pengamatan secara langsung yang berpedoman pada metode studi pustaka untuk mengetahui teorinya terlebih dahulu, hal ini dilakukan guna memperoleh data-data serta penjelasan yang akurat untuk dijadikan bahan dalam penulisan karya tulis ilmiah.

Berdasarkan hasil study yang telah didapatkan melalui suatu penelitian dan pembahasan pada bab sebelumnya, selanjutnya dianalisa dan ditinjau lebih lanjut, maka penulis membuat suatu kesimpulan penyebab timbulnya gangguan-gangguan terhadap rendah / menurunnya tekanan pada udara bilas adalah penyerapan panas yang kurang baik pada intercooler yang disebabkan karena intercooler yang kotor dan kurangnya supply air pendingin ke intercooler, serta rendahnya tekanan udara bilas dan melakukan perawatan untuk menghindari masalah yang timbul pada udara bilas mesin diesel.

Kata kunci : udara bilas, intercooler, langkah kerja mesin diesel.

 

 

 

DAFTAR ISI

         Halaman

HALAMAN JUDUL   .................................................................................         i

HALAMAN PENGESAHAN.......................................................................         ii

KATA PENGANTAR        iii

MOTTO DAN PERSEMBAHAN................................................................        iv

ABSTRAKSI................................................................................................        v

DAFTAR ISI   .............................................................................................        vi

DAFTAR GAMBAR....................................................................................        vii

BAB I PENDAHULUAN.............................................................................        1

1.1   Latar Belakang Masalah...............................................................        1

1.2   Batasan Masalah..........................................................................        2

1.3   Tujuan Penulisan Karya Tulis........................................................        2

1.4   Kegunaan Penulisan.....................................................................        2

1.5   Metode Pengumpulan Data..........................................................        3

1.6   Sistematika Penulisan...................................................................        3

BAB II LANDASAN TEORI.......................................................................        5

2.1 Pengertian Umum Motor Diesel....................................................        5

2.2 Pengertian Pembilasan Dan Intercooler.........................................        9

2.3 Tujuan Pembilasan Dan Intercoler.................................................        15

2.4 Pompa Bilas.................................................................................        16

2.5 Macam-macam Sistem Pembilasan...............................................        17

BAB III  PEMBAHASAN............................................................................        21

            3.1 Deskripsi Data.............................................................................        21

3.2 Data Permasalahan.......................................................................        24

3.3 Pembahasan Masalah...................................................................        24

BAB IV PENUTUP......................................................................................        33

4.1 Kesimpulan..................................................................................        33

4.2 Saran...........................................................................................        33

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................        35

LAMPIRAN

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 LATAR BELAKANG MASALAH

Dengan berkembangnya dunia ilmu pengetahuan dan teknologi, sangatlah mutlak diperlukan tenaga-tenaga yang terampil dan professional guna memenuhi kebutuhan untuk menciptakan peralatan yang canggih dan modern sesuai dengan perkembangan dunia ilmu pengetahuan dan teknologi. Khususnya dan segi transportasi laut, sangatlah efisien untuk memenuhi sarana angkutan dan satu negara ke negara lain. Dalam hal ini kapal laut mempunyai peranan yang sangat penting untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Sesuai dengan ketentuan dunia ilmu pengetahuan dan teknologi, dalam pengoperasian kapal diperlukan tenaga-tenaga yang professional. Begitu juga dalam perawatan alat-alat yang ada di atas kapal dan yang menunjang kelancaran gerak kapal. Salah satunya adalah perawatan terhadap motor diesel kapal.

Dalam peranan dan fungsinya, motor diesel pada kapal merupakan bagian yang sangat penting dalam menunjang proses kelancaran dalam pelayaran dan kapal itu sendiri. Untuk menjaga agar motor diesel kapal tetap baik dan dapat memberikan manfaat yang maksimal perlu adanya perawatan. Salah satunya dengan diadakan pembilasan. Dimana pembilasan ini berguna untuk mengeluarkan gas-gas bekas dan silinder dan menggantinya lagi dengan bahan bakar (udara) baru. Dengan demikian silinder tetap bersih sehingga dapat menunjang kelancaran gerak kapal itu sendiri.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka timbul keinginan penulis untuk mengetahui lebih banyak tentang pembilasan.
Dalam rangka mempelajari proses dan prosedur penggunaan dan fungsi-fungsi pembilasan lebih dari itu penulis ingin mengenal :

1.   Bagaimana manfaat pembilasan serta proses pembilasan.

2.   Pekerjaan-pekerjaan apa saja yang harus dilakukan oleh crew kapal.

3.   Dasar dan prinsip kerja pembilasan.

4.   Dan hasil akhir proyek darat akhirnya penulis simpulkan dan sajikan dalam bentuk karya tulis ini sebagai syarat menempuh ATT III.

 

1.2 BATASAN MASALAH

Dengan beraneka ragam dan jenis dan pesawat dan kegunannya di atas
kapal, maka penulis membatasi masalah-masalah agar tidak menyimpang dari
tema dan judul yang penulis tentukan. Adapun pembatasannya yaitu :

a.       Proses penyerapan panas yang kurang baik dalam intercooler.

b.      Penyebab rendahnya tekanan udara bilas.

c.       Langkah-langkah perawatan untuk menghindari masalah pada udara bilas mesin diesel

 

1.3 TUJUAN PENULISAN KARYA TULIS

Sesuai dengan judul yang di ajukan, maka  penulis mempunyai tujuan sebagai berikut :

d.      Untuk mengetahui proses penyerapan panas yang kurang baik dalam intercooler.

e.       Untuk mencari penyebab rendahnya tekanan udara bilas

f.        Upaya melakukan perawatan untuk menghindari masalah yang di alami oleh udara bilas mesin diesel.

 

1.4 KEGUNAAN PENULISAN

Sedangkan kegunaan penulisan dan karya tulis ini adalah sebagai berikut :

1.   Sebagai penambah pengetahuan dan untuk membimbing apabila suatu saat terjun dalam dunia kerja.

2.   Penulis dapat mengetahui lebih lanjut hal-hal yang berhubungan dengan pembilasan pada motor diesel kapal.

3.   Pembaca bisa mengetahui dan memahami pentingnya pembilasan pada motor diesel kapal.

 

 

 

1.5 METODE PENGUMPULAN DATA

Metode yang penulis gunakan untuk memperoleh data yang diperlukan dalam Praktek Darat yaitu dengan cara :

1.   Metode Observasi (Pengamatan)

Adalah suatu metode yang penulis pakai dengan mengadakan pengamatan secara langsung pada obyek yang diteliti dan penulis melibatkan diri dalam pengoperasiannya.

2.               Metode Interview (Wawancara)

Adalah penulis melaksanakan dengan mengadakan wawancara secara langsung atau mengajukan pertanyaan antara penulis dengan pimpinan, pejabat teras, staff, karyawan atau pelaksana lapangan.

3.   Metode Studi Kepustakaan

Adalah memperoleh data yang diperlukan dan buku-buku pedoman sebagai petunjuk sehingga data yang didapatkan menjadi lebih tepat dan akurat.

4.   Metode Questioner

Adalah mengajukan pertanyaan yang sifatnya tidak menguji yang berhubungan dengan judul karya tulis.

 

1.6 SISTEMATIKA PENULISAN

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka sistematika penyusunan
karya tulis adalah sebagai berikut:

      BAB I     :    PENDAHULUAN

Bab ini menjelaskan latar belakang masalah, pembatasan masalah, tujuan pemilihan judul, metode pengumpulan data dan sistematika penulisan.

BAB II   :    LANDASAN TEORI

Bab ini membahas tentang : pengertian mesin Diesel, cara kerja mesin Diesel 2 tak dan 4 tak, pengertian pembilasan dan intercooler, tujuan pembilasan dan intercooler, pengertian pompa bilas, macam-macam sistem pembilasan.

 

BAB III :     PEMBATASAN MASALAH

Bab ini membahas tentang : diskripsi data, analisis data, alternatif analisa pemecahan masalah, evaluasi pemecahan masalah.

BAB IV   :    PENUTUP

Merupakan penutup daripada penyusunan karya tulis ini.

 

 

 

BAB II

LANDASAN TEORI

 

2.1 PENGERTIAN UMUM MOTOR DIESEL

1.   Pengertian Motor Diesel

Pada motor torak dengan pembakaran dalam, sifat - sifat khasnya terutama di tentukan oleh cara pencampuran bahan bakar dengan udara yang diperlukan untuk pembakaran.

Udara yang diperlukan untuk pembakaran di kompresi di dalam silinder oleh torak, sedangkan bahan bakar dalam bentuk halus di semprotkan ke dalam udara panas akibat kompresi akan bercampur udara dan bahan bakar dengan baik pada akhir langkah kompresi.

2.   Prinsip Kerja Motor Diesel

Menurut prinsip kerjanya, motor diesel terbagi menjadi dua jenis yaitu 2 tak dan 4 tak.

A.     Motor Diesel 2 tak adalah motor yang prosesnya memerlukan dua langkah torak dan satu kali putaran poros engkol.

 

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhGjA1XK_AXdhpxkcOF8A_5vlQADu_Nk4zO-sN4cx-HD2xwIuL6sHHbNCKjiTo1Z0v-enSRx09nVeu__qoJ-k01zvGUjU0U30zpW7qvoR-kqph8J4qW409bDgbCeexzq3gy5w2CNP_1o5aR/s400/diesel+2+tak-hisap.gifhttps://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhof2_6NdZrMHlEUCF2mO-iTt3umZFwEFgLwKPIKh54Pw1g2isLdQWxdgqpsPjUscJbJqFQQBMnoQuiACSb1e2X5tz1tNDlfFsUINYVX0u3Omk8dLw4hnMqGyReQNVhyphenhyphenC49OOkeA_ct-4oh/s400/diesel+2+tak-kompresi.gif

Gambar 2.1 Langkah Kompresi Dan Langkah Isap

 

 

a.   Langkah kompresi dan langkah isap

Pada awal langkah ke atas torak akan menutup terlebih dahulu pintu-pintu bilas dan pada saat bersamaan katub buang akan tertutup. Pada akhir langkah kompresi terjadi penyemprotan bahan bakar.

 

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjM8jheWFP305KIcuzGfb6YaHNlkxnvdSdi28HVCHVAf8Mf3VLGj7T1_Yr3y1A-hy0bpM83rMgeBzGREOjncNcU3AKuLqu62Dgowla8H6sJkOC3mPnIpjb0Khx5eB5lnwkaB_RI3nHQEIcl/s400/diesel+2+tak-usaha.gifhttps://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhNYCcvRYFn48h8LTFADbNT1nwW7PH2rz6xwArSuPbGQSbhqh6rRf0lQSC1VK_4z4eGdTVAsge1CWpMIH5NOI1B1gMTUN00Cy08a1uh3jwNjS7orLg-tgDG8mL2UpYPH6cXNSAVXgQbCra1/s400/diesel+2+tak-buang.gif

Gambar 2.2 Langkah Kerja Dan Langkah Buang

 

b.   Langkah kerja dan langkah buang

Setelah terjadi pembakaran torak akan bergerak turun sehingga katub buang terbuka oleh nok buang, sehingga sebagian besar dan gas sisa pembakaran mengalir kesaluran gas buang.

Tekanan gas dalam silinder akan menurun dengan cepat dan pada saat torak membuka pintu-pintu bilas, tekanan dalam silinder sudah agak rendah dan tekanan bilas dan proses pembilasan dapat dimulai kembali.

Pada motor 2 tak juga dihasilkan langkah kompresi negatif dan pada langkah kerja positif. Penggantian gas seakan - akan tidak memerlukan kerja, akan tetapi untuk menyerahkan udara pembilas dan udara pembakaran di perlukan pompa bilas yang digerakkan oleh motor.

B.   Motor diesel 4 tak adalah motor yang prosesnya memerlukan 4 langkah torak dan dua kali putaran poros engkol.

 

Gambar 2.3 Langkah Masuk / Isap

 

a.   Langkah masuk / isap

Torak bergerak dan TMA (titik mati atas) ke TMB (titik mati bawah) oleh engkol akan terjadi penurunan tekanan akibat penambahan volume diatas torak. Katub hisap terbuka sehingga secara mekanis udara dihisap masuk ke silinder. Tekanan dalam silinder akan lebih rendah dan tekanan atmosfir/udara luar.

Gambar 2.4 Langkah Kompresi

b.   Langkah Kompresi

Pada saat torak sampai di titik mati bawah (TMB) arah gerak akan membalik katub masuk tertutup dan udara dalam silinder akan di kompresi pada langkah lebih lanjut dari torak. Tekanan udara akan meningkat hingga 35 bar 40 bar. Sedangkan suhunya akan meningkat hingga 550°C

Pada akhir langkah kompresi bahan bakar udara panas, campuran udara dan bahan bakar akan menyala dengan segera.

 

Gambar 2.5 Langkah Kerja / Usaha

 

c.   Langkah Kerja / Usaha

Setelah torak mencapai TMA lagi dan mulai dengan langkah ke bawah, tekanan gas dalam silinder masih meningkat hingga 45 bar atau 50 bar sedangkan suhu meningkat hingga 1.500°C atau 1.600°C. Setelah pembakaran akan berekspansi dalam silinder sebagai akibat volume yang meningkat di atas torak. Tekanan dan suhu akan menurun dengan cepat, menjelang akhir langkah kerja, katub buang terbuka dan gas pembakaran akan mengalir keluar dari silinder ke saluran gas buang.

Gambar 2.6 Langkah Buang

 

d.   Langkah Buang

Torak bergerak kembali ke TMA, gas yang masih tertinggal di desak keluar melalui katub buang yang terbuka. Tekanan gas lebih besar sedikit dan tekanan atmosfir. Sebelum langkah buang berakhir katub masuk telah terbuka dan setelah torak mencapai TMA proses akan dimulai lagi.

Gas pembakaran akan mengadakan kerja positif pada torak selama langkah kerja dan akan menerima kerja dan torak selama langkah buang (kerja negatif). Resultante kerja oleh udara dan gas pembakaran pada torak selama keempat langkah, adalah positif dan diteruskan melalui poros engkol kepada pesawat yang digerakkan oleh motor.

 

2.2 PENGERTIAN PEMBILASAN DAN INTERCOOLER

a.    Pengertian Pembilasan

Merupakan proses pembersihan silinder dan pengisian silinder dengan udara baru. Udara pembilasan dalam hal ini disalurkan melalui pintu-pintu dalam dinding silinder, dengan pintu tersebut dibuka dan ditutup dengan torak.

Gambar 2.7 Pembilasan Motor Diesel 2 Tak

 

Pembilasan dan silinder dimulai pada saat torak membuka pintu masuk dan selama seluruh periode pembilasan maka tekanan pintu masuk dan selama seluruh periode pembilasan maka tekanan bilas atau tekanan pengisian harus lebih besar dan tekanan dalam saluran gas buang.

                             Harga maksimum dan efek pembilasan ini ditentukan oleh beberapa faktor. Supaya sebanyak mungkin gas pembakaran dan proses sebelumnya dapat dikeluarkan disalurkan kedalam silinder harus lebih besar dari volume silindernya sendiri.

b.    Area Pembilasan

 

Gambar 2.8 Ruang Pembilasan (Scavenge Trunk)

 

Pembuangan gas - gas bekas dari  dalam silinder setiap kali sesudah pembakaran, dan mengisinya lagi dengan gas baru adalah salah satu bagian yang penting dari proses motor bakar. Bagian yang penting ini disebut pembilasan yang dilaksanakan selama 20 % terakhir dari langkah usaha, dan 10 % pertama dari langkah kompressi. Saat untuk pembilasan ini sangat singkat, hingga sulit mengusahakan agar pembilasan terebut dapat dilakukan dengan baik. Untuk mengeluarkan gas - gas bekas dari dalam silinder dan mengisinya lagi dengan udara segar atau gas baru  (pada motor 2 tak) mula - mula dipakailah katup - katup yang ditempatkan pada kepala silinder .

Tetapi bila putaran poros engkol naik, ternyata katup - katup tadi tidak cukup memberikan kebebasan bagi gas - gas bekas untuk keluar dari dalam silinder. Kecepatan gas - gas bekas menjadi terlalu tinggi, yang mengakibatkan gesekan atau hambatan besar yang berarti mengakibatkan kerugian tenaga motor. Lagi pula akibat kecepatan tinggi dari udara segar atau gas baru yang  masuk kesilinder, sebagian udara segar atau gas baru akan tercampur dengan gas - gas bekas, sehingga pengisian silinder tidak lagi bersih.

 

Gambar 2.9 Pintu Pembilasan (Scavenge Chamber)

 

Pembuatan pintu - pintu bilas pada dinding silinder adalah suatu perbaikan, walaupun dalam hal ini masih ada kekuranganya. Pada motor -motor yang memakai pintu - pintu bilas toraknya harus dibuat panjang, hingga pembukaan dan penutupan pintu - pintu tersebut dapat diatur oleh torak. Tinggi pintu - pintu buang kurang lebih 20 % dari langkah torak, sedangkan tinggi pintu - pintu bilas kurang lebih 20 % dari langkah torak. Sehingga kompressinya baru mulai sesudah 20% dari permulaan langkah, akibatnya pada akhir langkah kompressi dalam silinder terdapat udara segar atau gas baru yang juga 20% kurangnya.

Umumnya diketahui bahwa banyaknya udara segar dalam ruang bakar menentukan banyaknya bahan bakar yang dibakar, sedangkan hasil pembakaran menentukan besar kecilnya tenaga motor yang dapat diberikan untuk tiap proses usaha.

Untuk pembilasan yang sempurna dibutuhkan udara sebanyak 1,5 kali volume silinder. Hal ini tidak cukup diperoleh dengan mempergunakan torak dan ruang poros engkol saja, karena ternyata torak dan ruang poros engkol tidak dapat meghasilkan udara lebih dari  volume silinder dikurangi dengan volume ruang bakar ( volume kompressi ).

Pembilasan dengan perantara ruang poros engkol dan torak bagian bawah terdapat pada beberapa motor kecil saja. Untuk memperoleh pembilasan yang sempurna, umumnya dipakai pompa  pompa bilas dalam bentuk pompa bertorak atau rotasi. Pompa - pompa ini digerakan oleh poros engkol motor itu sendiri, atau kadang - kadang juga dengan tenaga listrik.

 

http://i853.photobucket.com/albums/ab91/doha77/turbo-plumbing.gif

                                                Gambar 2.10 Intercooler

 

 

 

 

 

c.    Pengertian Intercooler

Pada saat didorong masuk oleh turbo, tekanan udara akan meningkat, demikian pula dengan suhunya. Untuk mesin, pemanasan udara masuk ini berdampak buruk. Pertama, menaikan temperatur ruang bakar. Kedua, panas akan membuat udara memuai sehingga kerapatan udara berkurang. Disinilah intercooler dibutuhkan sebagai penyeimbang. Intercooler ialah suatu pesawat yang berfungsi mendinginkan udara yang dihasilkan oleh turbocahrger supaya massa jenis udara tekan naik sehingga berat kepadatan udara meningkatan dan menurunkan suhu gas buang dan beban panas yang diterima mesin induk, semacam radiator namun bukan untuk mendinginkan engine coolant, melainkan mendinginkan udara masuk yang melaluinya. Dengan menurunnya suhu yang masuk ke mesin ini ada dua manfaat yang di peroleh yaitu temperatur ruang bakar yang rendah dan kerapatan udara yang meningkat, jadi volume udara dapat masuk lebih banyak kedalam silinder.

Intercooler yang kotor menyebabkan kurangnya jumlah udara murni yang masuk kedalalm ruang silinder. Masa jenis udara menentukan masa bahan bakar yang dapat dibakar setiap langkah dalam silinder dan menetukan daya maksimal pada mesin. Jika masa udara dalam setiap langkah meningkatkan besar pula masa bahan bakar pada setiap silinder yang dapat dibakar.

Pembakaran lebih sempurna karena udara didinginkan di intercooler sehingga udara lebih padat dengan oksigen. Jumlah udara masuk  kedalam silinder lebih banyak sehingga tekanan udara masuk lebih tinggi dari pada tekanan udara luar. Untuk pembakaran yang sempurna dari bahan bakar yang disemprotkan kedalam silinder, maka perlu sekali tersedia sejumlah udara pembakaran tersebut tergantung dari susunan kimia dari bahan bakar diesel.

 

 

 

2.3 TUJUAN PEMBILASAN DAN INTERCOOLER

Sesuai dengan judul yang di ajukan, maka  penulis mempunyai tujuan sebagai berikut :

a.    Untuk mengetahui tujuan dari pembilasan.

               Pembilasan untuk menjamin gas dibuang didalam silinder dapat terbuang dengan sempurna.

b. Manfaat proses pembilasan dan cara kerja udara bilas.

     - Membuang gas-gas sisa hasil pembakaran keluar  dari silinder.

     - Mendinginkan dinding silinder dan kepala silang.

     - Membersikan ruang pembakaran.

Cara kerja udara bilas di mulai pada saat torak membuka pintu masuk, udara bilas akan masuk kedalam ruang pembakaran dan mendorong gas sisa hasil pembakaran, selama periode pembilasan maka pintu masuk dan tekanan bilas atau tekanan pengisian harus lebih besar dalam saluran gas buang.

c.    Tujuan dari adanya intercooler

Tujuan dengan adanya intercooler yaitu untuk mendinginkan udara bilas karena berat jenisnya bertambah naik maka beratnya bertambah pada volume yang sama. Dengan demikian memungkinkan pembakaran bahan bakar lebih banyak dengan perbandingan oksigen lebih besar. Makin padat udara maka tekanan yang dihasilkan semakin besar sehingga tenaga mesin juga bertambah.

Sealain itu fungsi intercooler dalam Turbo adalah sebagai penurunan suhu ruang pembakaran mesin yang sangat tinggi setelah dibuang melalui katup buang. Sesuai kebutuhan dan perkembangannya. Intercooler didesain berbagai bentuk. Pertimbangan desainnya lebih di utamakan untuk mengoptimalkan pendinginan udara tanpa perlu banyak mengurangi tekanan turbo.

Sebagai pendingin udara panas yang dihasilkan oleh turbocahrger yang melaluinya supaya massa jenis udara tekan naik sehingga berat kepadatan udara meningkatkan dan menurunkan suhu gas buang serta beban panas yang diterima mesin induk, dengan suhu yang menurun dalam mesin akan didapatkan manfaat bagi mesin yaitu :

1.      Temperatur di dalam ruang bakar rendah.

2.      Kerapatan udara meningkat, maka udara akan dapat masuk lebih banyak ke dalam silinder.

 

2.4 POMPA BILAS

Sebelum penulis membahas tentang pembilasan, terlebih dahulu penulis akan membahas mengenai pompa bilas.

Sebuah pompa udara diperlukan untuk menyediakan udara bagi pembilasan. Pompa udara ini dinamai “Pompa Bilas”. Daya yang diperlukan untuk menggerakkan pompa udara itu diambil dan daya yang dihasilkan oleh mesin itu sendiri. Perbandingan tekanan udara keluar dan masuk pompa udara dinamai “Perbandingan tekanan”. Untuk mesin dua langkah tanpa super changer, biasanya dipakai pompa bilas dengan perbandingan tekanan sekitar 1,3 bar.

Kerja yang dibutuhkan untuk pompa suatu pompa pembilas pada suatu motor dianggap sebagai suatu kerugian kerja mekanik efektif. Untuk tiap 0,1 bar tekanan indikator, pompa pembilas membutuhkan 14% dan daya serendah mungkin harus diusahakan. (L. A. de Bruijn dan L. Muilwijk, 1994:108)

 

Gambar 2.11 Pompa Bilas Mode Roots

 

2.5 MACAM-MACAM SISTEM PEMBILASAN

 

Udara bilas/pembilasan pada umumnya dibagi dalam 4 kelompok yaitu :

1.      Pembilasan Melintang

Sistem pembilasan melintang diterapkan pada motor daya kecil. Oleh karena lubang pembilasan dan lubang pembuangan agak tinggi, maka langkah kompresi efektif menjadi kecil.

Sekalipun lubang pembilas diarahkan miring ke atas, akan ada juga udara pembilas yang mengalir langsung melalui lubang pembuangan keluar, sedangkan dalam silinder bagian atas tidak cukup terbilas, Pengaliran udara pembilas langsung ke luar disebut “kerugian hubungan singkat”.

Tempat yang tidak cukup dibilas disebut “Sudut‑sudut mati”. Setelah lubang pembilas ditutup udara masih dapat mengalir melalui lubang pembuangan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2.12 Pembilasan Melintang  Pada Mesin Diesel Sulzer

2.       Pembilasan Membalik

Dalam penerapan sistem pembilasan keliling, lubang pembilas dan lubang pembuangan ditempatkan di atas yang lainnya.

Aliran udara pembilas di desak ke dinding silinder dan dipaksa naik vertikal ke dalam kepala silinder. Juga pada sistem pembilasan ini terdapat kerugian hubungan singkat dan pengaliran ke luar.

Pada motor modern dipergunakan/dimanfaatkan gelombang tekanan di dalam saluran penutupan kemudian. Dengan demikian maka pada motor yang bekerja dengan pengisian tekan menurut sistem denyut dan dengan jumlah silinder merupakan kelipatan dari 3.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2.13 Pembilasan Membalik Pada Mesin Diesel MAN

 

3.      Pembilasan Memanjang

Pada sistem ini tidak terdapat kerugian hubungan singkat sebab udara pembilas mengalir sepanjang silinder. Kemungkinan terjadinya sudut‑sudut mati adalah kecil. Lubang‑lubang pembilas dapat diadakan pada seluruh keliling silinder. Dengan demikian diperoleh suatu laluan yang besar pada ketinggian kecil, hingga langkah kompresi efektif adalah besar. Katup pembuangan dapat dibuka dan ditutup lebih awal dari pada lubang pembilas, oleh karena katup ini diatur oleh hubungan tersendiri. Dengan penempatan lubang pembilas secara tangensial udara mendapat suatu gerakan putar, yang masih ada dikala langkah kompresi.

Rotasi ini berguna untuk campuran yang baik bagi bahan bakar dan udara pembakaran. Pada motor dengan penempatan pengebut pada titik tengah kepala silinder, ternyata rotasi udara pembilas mempunyai pengaruh yang merugikan. Sebabnya adalah karena udara pembilas oleh rotasi didesak ke keliling ruang bakar.

 

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2.14 Pembilasan Memanjang Pada Mesin Diesel BMW

 

4.        Pembilasan Memutar

Pada awal langkah ini udara masuk silinder melalui lubang masuk pembilasan (port scavenging) yang terdapat di bagian bawah silinder. Lubang ini akan terbuka saat torak bergerak ke bagian bawah mendekati TMB dan akan tertutup saat torak bergerak ke atas meninggalkan TMB. Pada saat lubang pembilasan tertutup oleh torak yang bergerak ke atas menuju TMA dan katup buang juga tertutup maka dimulailah proses kompresi. Gerakan torak ke atas akan menyebabkan tekanan udara dalam silinder meningkat sehingga temperatur udaranya juga naik. Dan beberapa derajat sebelum torak mencapai TMA bahan bakar mulai disemprotkan (dikabutkan) dengan injektor kedalam silinder, karena temperatur udara sangat tinggi sehingga bahan bakar yang dikabutkan tersebut akan terbakar.

Proses pembakaran ini akan menyebabkan kenaikan tekanan dan temperatur gas secara drastis, kondisi maksimal akan terjadi beberapa saat setelah torak mulai bergerak ke bawah. Gas bertekanan tinggi ini akan mendorong torak bergerak ke bawah dan melalui batang torak akan memutar poros engkol.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2.13 Pembilasan Memutar Pada Mesin Diesel

 

 

BAB III

PEMBAHASAN

 

3.1  Deskripsi Data

Salah satu pesawat yang membutuhkan perhatian khusus dalam pengoprasian suatu kapal adalah mesin penggerak utama atau mesin induk. Mesin induk sendiri didukung oleh intercooler.

Spesifikasi intercooler  yang digunakan dalam KM. DWI BUDDYARTO adalah sebagai berikut

Ø  Turbo charger

Type : MET – 35 x 2 Unit

 

TURBO-CHARGER-BBC-ABB-FOTO-221

 

                                      Gambar 3.1 Turbocharge

 

 

Ø  Intercooler VTR 200 8D

Type : Fin tube

DKC type

 

                     https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhtdY07GwTlpec-ws1-cc8Ajck1dRSmJpgCcXtlMw1YDOZc5nHcTz6s3_p2KfO2KCWIFoLe9INwbsZcIoGiO4gmWQKvufSIKJZTVlQujJAgf1EZzUIU-TXJEnUZMNfWcXR_R_zbSFJj4EM/s1600/HPIM1922.jpg

Gambar 3.2 Intercooler

 

            Intercooler berguna untuk mendinginkan udara bilas dari turbocharger menuju keruang silinder. Sehingga udara memegang peranan terpenting pada sistem pembakaran mesin induk untuk menghasilkan pembakaran dengan udara lebih. Jika jumlah udara didalam silinder besar maka pelayaran suatu kapal dari pelabuhan ke pelabuhan berikutnya  jarang mengalami adanya kendala-kendala yang dapat memperlambat proses pengiriman suatu muatan.

 

 
 Ketika melakukan pelayaran dari pelabuhan Surabaya menuju pelabuhan Kendari. Pada waktu terjadi pembakaran di dalam silinder temperatur keluar silinder sangat tinggi dari 370 OC mencapai 400 OC dilihat dari tekanan kompresi dan tekanan maksimum pembakaran dari hasil silinder satu sampai delapan yaitu 40-45 kg/cm2 sedangkan tekanan maksimum antara 50-55 kg/cm2 sehingga dalam kejadian itu pada jam jaga masinis satu pukul 16.00 - 20.00 masinis satu melakukan tindakan menurunkan kecepatan putaran mesin induk dari 170 rpm menjadi 150 rpm untuk mencegah terjadinya overheat pada exhaust valve dan masinis satu melaporkan pada chief engineer ( KKM ) dan mualim jaga dianjungan tentang kejadian yang ada dikamar mesin.  Hal atau kejadian membaranya Exhaust Manifold mesin induk masih terjadi, mesin induk masih dijalankan dengan putaran mesin diatas  kritis dengan RPM 140 dengan menggunakan bahan bakar diesel oil. untuk mencegah pemakaian DO berebih dan main engine harus di hentikan untuk mengganti exhaust valve. Setiba di Kendari masinis satu melakukan pengecekan pada mesin induk bahwa kejadian tingginya temperatur gas buang pada mesin induk nomor satu diakibatkan karena kotornya intercooler, yang mana udara masuk kedalam silinder tidak optimal jumlahnya pada waktu terjadi pembakaran dan pembilasan sehingga mengakibatkan tingginya temperatur pada Manifold Exhaust Gas mesin induk.

Kondisi ini dikarenakan tidak dilaksanakan perawatan secara berkala yang baik terhadap pendinginan udara yang disebut intercooler sehingga kebersihannya tidak terjaga (kotor). Akibatnya jumlah udara murni yang masuk kedalam silinder berkurang yang kemudian menyebabkan pembakaran tidak sempurna dan daya yang dihasilkan tidak maksimal.

Intercooler yang kotor ini sering diakibatkan karena kotoran (partikel selain air pendingin) yang menyumbat pipa-pipa pendingin intercooler. Kotornya intercooler udara mengakibatkan mesin induk tidak dapat beroperasi dengan maksimal. Kondisi ini akan menggangu proses perpindahan panas (overheat) antara udara dengan media pendingin.

Setelah kejadian diatas maka masinis dua segera memberitahukan kepada masinis satu penyebab tingginya temperatur pada Manifold Exhaust Gas, selanjutnya masinis satu dan dua melakukan overhaul dan membersihkan kotoran pada intercooler. Langkah pertama yang dilakukan adalah membuka cover air inlet dan menurunkanya dengan menggunakan takel pada sisi intercooler terdapat fins yang dimana fins tersebut digunakan sebagai penyaring udara yang dihasilkan dari turbocharger.

Fins tersebut dibersihkan dengan menggunakan chemical ACC-9, bahan ini khusus digunakan untuk membersihkan fins intercooler, saat fins intercooler dibersihkan ceratan udara pada intercooler dibuka untuk mengalirkan air maupun chemical yang sedang digunakan kemudian fins disemprot menggunakan air agar kotoran dapat jatuh melalui lubang ceratan udara yang telah dibuka.

Setelah proses pembersihan fins intercooler selesai maka cover inlet dipasang kembali, setelah itu katup indikator mesin induk dibuka guna untuk melakukan blow up supaya air yang ada didalam silinder akibat membersihkan fins intercooler terbuang. 

 

3.2    Data Permasalahan

Dalam analisa ini penulis mencari penyebab timbulnya masalah dan menghubungkan antara hal yang satu dengan hal yang lainnya sehingga mudah dalam pemecahan masalahnya. Faktor-faktor penyebab rendahnya tekanan udara bilas yaitu :

g.       Proses penyerapan panas yang kurang baik dalam intercooler.

h.       Penyebab rendahnya tekanan udara bilas.

i.         Langkah-langkah perawatan untuk menghindari masalah pada udara bilas mesin diesel.

 

3.3    Pembahasan Masalah   

Pada saat kapal berlayar dari Surabaya ke Kendari kapal mengalami masalah atau gangguan yang mempengaruhi tidak sempurnanya proses pembakaran. Gangguan banyak ditemukan dari supply udara yang kemudian berfungsi sebagai udara bilas. Seperti meningkatnya temperatur udara bilas dapat diakibatkan karena udara yang dihisap blower side pada turbocharger sudah bertemperatur tinggi. Hal ini karena suhu dari kamar mesin naik yang juga disebabkan suhu rata-rata didalam ruang silinder dan suhu gas buang tinggi sehingga panas disekitar mesin induk menjadi lebih tinggi dan ketika ditekan oleh turbo blower suhunya akan semakin tinggi.

Dimana suhu udara yang masuk kedalam ruang silinder menjadi lebih tinggi, selain hal diatas juga dipengaruhi oleh :

1.      Proses penyerapan panas yang kurang baik dalam intercooler, hal ini disebabkan oleh tersumbatnya air laut yang melalui pipa-pipa pada intercooler. Penghambatan tersebut terjadi penumpukan sampah, lumpur serta binatang laut yang ikut terhisap kedalam intercooler. Kendala yang harus diperhatikan yaitu :

a.       Intercooler yang kotor

            Intercooler berfungsi untuk mendinginkan udara yang keluar dari sisi blower sebelum digunakan lebih lanjut. Apabila proses pendinginan ini tidak optimal maka akan menyebabkan naiknya temperatur udara bilas. Kenaikan temperatur berakibat pada berkurangnya jumlah udara atau kepadatanya. Keadaan demikian ini akibat dari kotornya intercooler. Beberapa indikator atau gejalanya yaitu peningkatan temperatur udara bilas  dari sisi blower menuju ke intercooler dan perbedaan tekanan udara bilas antara sebelum dan sesudah intercooler. Intercooler tersusun atas pipa - pipa kecil (fins tube) yang didalamnya mengalir media pendingin berupa air laut. Pipa-pipa tersebut sering tersumbat oleh kotoran sehingga menyebabkan proses pertukaran panas (heat exchanging) tidak dapat berlangsung dengan maksimal. Ada dua masalah yang kemungkinan dapat terjadi sehubungan dengan intercooler pertama, termometer air pendingin rusak dan kedua adalah terhalangnya aliran air laut yang masuk menuju intercooler. Kerusakan yang terjadi pada termometer dapat berupa patah atau ketidak sesuaian skala dengan ketinggian cairan penunjuk (air raksa). Dapat dikatakan bahwa tidak semua air laut dapat mengalir masuk kebagian pipa intercooler. Penyebabnya adalah air laut terhambat kotoran (lumpur). Lumpur yang tertingggal membentuk gumpalan kecil pada dinding. Kondisi seperti ini sering terjadi ketika kapal berada diperairan dangkal dan sungai. Udara bilas yang sudah didinginkan oleh air laut akan langsung masuk menuju sililnder sebagai pendorong gas buang sisa pembakaran atau pembilasan dan kemudian keluar leawat katup gas buang. Udara tersebut juga sebagai pembakaran dan media pendingin untuk katup gas buang dan kepala silinder  (cilinder head). Pendinginan udara dengan intercooler diharapkan dapat menurunkan rendemen thermis mesin induk. Intercooler yang kotor akan menghambat proses pertukaran panas (heat changing) antara air laut dan udara panas.

 

gambar (25)

Gambar 3.3 Kisi – Kisi Udara (Fins) Intercooler

 

b.      Kisi-kisi ( fins ) intercooler yang kotor

Fins intercooler yang kotor menyebabkan menempelnya kotoran udara bilas yang dihasilkan turbocharger sehingga bila terus menerus maka akan menyebabkan terhambatnya supply udara bilas, kotoran yang menghambat proses penyerapan panas dari udara ke pipa-pipa air laut sebagai pendingin sehingga udara yang masuk ke ruang silinder adalah udara dengan suhu tinggi dan bertekanan rendah sehingga akan mengakibatkan suhu temperatur gas buang sangat tinggi dan tidak sempurnanya hasil pembakaran dalam ruang silinder yang dapat mengakibatkan pemborosan bahan bakar.

c.       Supply air pendingin ke intercooler kurang

pada bagian intercooler terdapat pipa-pipa cooler (fins tube) yang berfungsi untuk mendinginkan dan memadatkan jumlah udara bilas, akibat dari kurangnya udara bilas yang dapat menyebabkan panas yang berlebihan pada saat pembilasan gas buang yang menyebabkan panas yang berlebihan pada saat pembilasan gas buang yang menyebabkan temperatur pada Manifold Exhaust Gas sangat tinggi, yang disebabkan oleh kurangnya supply air laut yang masuk kedalam intercooler untuk mendinginkan udara bilas.

 

2.    Terjadi penurunan tekanan pada udara bilas

                Pada saat terjadinya penurunan daya pada mesin induk disebabkan kurangnya supply udara bilas dan kurang padatnya jumlah udara diruang silinder, turunya tekanan dan naiknya suhu udara bilas mengakibatkan udara yang masuk silinder menjadi kecil, sehingga jumlah bahan bakar yang terbakar menjadi lebih sedikit. Dengan sedikitnya jumlah bahan bakar maka tenaga yang dihasilkan lebih kecil dengan suhu gas buang tinggi. Hal ini disebabkan oleh suhu awal pembakaran yang tinggi karena suhu udara bilas yang tinggi, jika dari unsur udara bilas yang tidak sempurna akan mengakibatkan ketidakstabilan kerja dari mesin induk.

Berdasarkan analisis, kurang kesempurnaan pembakaran didalam silinder menyebabkan turunya daya putaran pada mesin induk. Turunya tekanan dan naiknya suhu udara bilas mengakibatkan udara yang masuk ke silinder menjadi kecil. Sehingga jumlah bahan bakar menjadi sedikit. Suhu gas buang yang tinggi disebabkan oleh suhu awal udara bilas untuk terjadinya pembakaran yang lebih tinggi.

Pada intercooler ditemukan kotoran pada kisi-kisi udara, kotoran-kotoran inilah yang menghambat aliran udara yang masuk kedalam ruang silinder. Selain menghambat aliran udara kotoran yang menempel pada kisi-kisi yang dilalui udara juga menghambat proses penyerapan panas dari udara pada air laut dalam pipa-pipa air laut sebagai media pendingin. Udara yang masuk ke ruang silinder adalah udara dengan suhu tinggi dan bertekanan rendah  dan juga pada ruang udara bilas ditemukan endapan-endapan lumpur minyak dan karbon yang melekat di dinding ruanga udara bilas yang mempengaruhi kebersihan udara yang masuk kedalam ruang silinder.

Pembakaran diruang silinder mesin induk dipengaruhi oleh sistem pengabutan bahan bakar, sistem kompresi, dan sistem pembilasan dengan demikiaan ketidaknormalan pembakaran yang terjadi sangat mungkin disebabkan karena adanya gangguan pada ketiga sistem tersebut , maka perlu diadakan perbaikan yang tepat serta menghindari pekerjaan-pekerjaan yang tidak perlu serta menghemat waktu perbaikan sehingga adanya penyebab dari :

a.       Sistem Pengabutan Bahan Bakar

Pengabutan bahan bakar merupakan hal yang utama dalam sistem mesin diesel. Pada pengabutan tersebut sangat kecil kemungkinanya karena telah dilakukan pengujian terhadap seluruh masing-masing silinder, berarti jam kerja pada pengabutan bahan bakar sangat pendek dan juga kenaikan gas buang yang rata dari masing-masing silinder, biasanya pada pengabutan bahan bakar kotor hanya sebagian yang mengalami kenaikan temperatur gas buang dan itupun tidak akan terjadi pada masing-masing silinder.

 

 

b.      Sistem Kompresi

Melihat dari data pengukuran tekanan kompresi dan tekanan maksimum pembakaran serta membandinngkannya dengan standar tekanan yang diinginkan ternyata untuk tekanan kompresi masih dalam batas normal. Dilihat dari perbedaan tekanan karena kondisi mesin yang cukup tua dan pengoprasian mesin tidak pada beban maksimal.

Hasil pembakaran dalam silinder menetukan tekanan maksimal pembakaran karena semakin banyak bahan bakar yang terbakar, maka besar pula pemuaian gas yang terjadi. Hal itu menghasilkan tenaga mesin yang lebih besar.

c.       Sistem Udara Bilas

Dari penjelasan diatas bahwa kedua sistem tidak mengalami masalah atau gangguan yang mempengaruhi tidak sempurnanya proses pembakaran. Gangguan banyak ditemukan dari supply udara yang kemudian berfungsi sebagai udara bilas. Seperti meningkatnya temperatur udara bilas dapat diakibatkan karena udara yang dihisap blower side pada turbocharger sudah bertemperatur tinggi. Hal ini karena suhu dari kamar mesin naik yang juga disebabkan suhu rata-rata didalam ruang silinder dan suhu gas buang tinggi sehingga panas disekitar mesin induk menjadi lebih tinggi dan ketika ditekan oleh turbo blower suhunya akan semakin tinggi.

 

3.      Langkah-langkah perawatan untuk menghindari masalah pada udara bilas mesin diesel :

a.    Pembersihan pada sisi udara ( fins ) intercooler

 Langkah pertama yang dilakukan adalah membuka cover air inlet dan menurunkanya dengan menggunakan takel. Pada sisi udara terdapat fins yang dimana fins tersebut digunakan sebagai media penyaluran panas udara yang dihasilkan dari turbocharger. Fins tersebut dibersihkan dengan menggunakan chemical ACC-9, atau SHAFT ACID bahan ini khusus digunakan untuk membersihkan fins intercooler, saat fins intercooler dibersihkan ceratan udara pada intercooler dibuka untuk mengalirkan air maupun chemical yang sedang digunakan kemudian fins disemprot menggunakan air agar kotoran dapat jatuh melalui lubang ceratan udara yang telah dibuka.

Setelah proses pembersihan fins intercooler selesai maka cover inlet dipasang kembali, setelah itu katup indikator mesin induk dibuka guna untuk melakukan blow up supaya air yang ada didalam silinder akibat membersihkan fins intercooler terbuang. 

b.    Pembersihan intercooler pada sisi pipa-pipa air laut

Pemeriksaan awal dilakukan pada kondisi pompa air laut atau kondisi pompa baik maka dilakukan pembersihan pada saringan hisap air laut. Jika pipa yang menuju intercooler sudah berkarat dan bocor maka harus segera dilakukan pengelasan atau mengganti pipa tersebut dengan yang baru. Pemeriksaan yang dilakukan bermaksud agar mengetahui keadaan tekanan air laut dan dapat berjalan normal dengan tekanan ± 3bar.

Masalah perawatan dan kebersihan serta penangulangan terhadap tersumbatnya udara bilas pada intercooler yang diakibatkan kotoranya fins intercooler dan sistem pendinginan pada intercooler harus diperhatikan, guna penyempurnaan jumlah kepadatan pada udara bilas supaya tidak terjadi penurunan daya mesin induk akibat pembakaran yang tidak sempurna.

           Untitled-Scan-011

         Gambar 3.4 Pompa Bilas Mode Roots

 

1.         Perawatan Pompa Bilas

Yang perlu diperhatikan dalam perawatan pompa bilas, kita harus mengetahui dulu cara kerja dan jenisnya. Bila menggunakan sistem torak, maka perawatan perlu dilakukan pada sistem pelumasnya, untuk bagian-bagian yang bergerak seperti torak, poros engkol, sistem pendingin dan juga kerja klep isap dan tekan. Pompa bilas torak di pasang pararel dengan udara dari turbo charger, sehingga menghasilkan udara bilas dengan jumlah berat yang lebih besar.

Karena besar kecilnya udara yang masuk ditentukan dari kerja torak yang bagus, dan putaran porong engkolnya. Bila pelumasnya kurang baik maka akan mengurangi kerja dari pompa bilas itu sendiri. Dan pada kerja klep - klepnya, yaitu klep isap dan tekan. Jadi bila klep isap bekerja tidak normal karena tersumbat akibat kotor maka jumlah udara yang masukpun kurang dari apa yang dibutuhkan. Begitu pula pada klep tekan, udara yang akan ditekan ke silinder yang akan dibilas akan kecil.

Bila menggunakan system kipas/blower yang perlu diperhatikan adalah kebersihan rumah pompa. Mengingat sudu-sudu jalan merupakan jalan udara masuk pada saat pengisapan, maka perlu dijaga jangan sampai sudu-sudu jalan rusak. Electromotor pada pompa, juga klep pengaturan.

Pompa bilas rotary yang di gunakan elektromotor adalah pompa bilas bantu atau di sebut auxiliary scavinge blower dan berkerja otomatis, terutama dibutuhkan saat mesin standbay akan di sebut, dan electromotor akan baik bila tekanan turbo charge mencapai normal.

Jangan sampai electromotor menjadi kelebihan beban, maka dipasang afsluterpers untuk menganset pompa, jadi RPM electromotor dapat diatur dengan tekanan seluruhnya.

Pompa-pompa bilas ini digerakkan oleh motor induk melalui rantai dan roda-roda gigi. Untuk itu pelumasan rantai dan roda gigi perlu dilakukan. Sehingga tidak terjadi keausan pada roda - roda gigi dan rantai tersebut.

 

 

 

BAB IV

PENUTUP

 

4.1 KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengolahan data yang telah didapatkan melalui suatu penelitian dan pembahasan pada bab sebelumnya, selanjutnya dianalisa dan ditinjau lebih lanjut, maka penulis membuat suatu kesimpulan penyebab timbulnya gangguan-gangguan pada system pendingin udara intercooler   yang berpengaruh pada jumlah takanan udara pembakaran adalah sebagai berikut :

j.          Proses penyerapan panas yang kurang baik dalam intercooler hal ini disebabkan oleh tersumbatnya air laut yang melalui pipa-pipa pada intercooler, seperti kotornya pada intercooler dan kurangnya supply air laut pendingin.

k.       Penyebab rendahnya tekanan udara bilas dikarenakan kurangnya supply udara bilas dan kurang padatnya jumlah udara diruang silinder.

l.         Melakukan perawatan untuk menghindari masalah yang di alami oleh udara bilas mesin diesel kapal untuk menunjang kinerja yang lebih baik.

 

4.2  SARAN

 Setelah mengevaluasi dari hal-hal sebelumnya, maka saran yang perlu dipertimbangkan yang berhubungan dengan udara bilas mesin diesel, serta perawatan dan perbaikan pada kerusakan intercooler adalah sebagai berikut :

1.       Untuk setiap kegiatan dalam pengoperasian kapal dibutuhkan perawatan berkala pada intercooler agar permasalahan supply udara yang masuk kedalam silinder dapat tercukupi.

2.       Mengantisipasi adanya penurunan daya pada mesin induk yang disebabkan karena rendahnya tekanan udara bilas . Mengadakan penanggulangan dan upaya agar hal tersebut dapat segera mengatasi oleh crew mesin.

3.       Melakukan perawatan berkala pada pesawat - pesawat dan sistem - sistem pendukung lainya yang membantu dalam kinerja dari mesin induk.

4.       Mematuhi buku petunjuk petunjuk pengoprasian mesin induk.

 

 

Comments

Popular posts from this blog

latihan soal pasca att 3 (Use English in written and oral form)

latihan soal pasca att3 Maintance and repair of electrical and electronic equipment

Mengelolapengoperasianperalatanmesinpendorong(Managethe operationofpropulsion plant)