PENGARUH TERGANGGUNYA SIRKULASI FREON TERHADAP MESIN PENDINGIN
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puja dan puji syukur kehadirat ALLAH SWT. Yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya,sehingga saya sebagai penulis dapat menyelesaikan penyusunan Karya tulis ini dengan baik, guna sebagai syarat menyelesaikan kuliyah Program diploma III (D III) Akademi Pelayaran Niaga Indonesia Semarang.
Dalam menyelesaikan Karya tulis ini penulis berdasarkan dari sumber-sumber buku dan pengetahuan yang selama ini penulis pelajari diatas kapal. Serta masukan yang didapat dari masinis/crew serta pengalaman yang penulis rasakan selama praktek di kapal.
Karya tulis yang berjudul “ PENGARUH TERGANGGUNYA SIRKULASI FREON TERHADAP MESIN PENDINGIN DI MT. LINA 101 “ salah satu karya tulis berdasarkan pengalaman yang sering dialami/terjadi diatas kapal selama melaksanakan prola.
Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada piahk-pihak yang terkait dalam menyelesaikan tugas karya tulis ini, anatara lain:
1. Drs Djajari ,M.si selaku Direktur Akademi Pelayaran Niaga Indonesia Semarang.
2. Bapak Dalsih Setiono ATT I selaku Ketua Jurusan Teknik Akademi Pelayaran Niaga Indonesia Semarang.
3. Bapak Chandra Widjaja ATT 1 selaku dosen penguji
4. Kedua orang tua Ayah dan ibundaku yang senantiasa mendo’akan dan memberi dukungan untuk meraih cita-cita.
5. Seluruh perwira dan crew kapal MT. LINA 101.
6. Taruna-taruna serta rekan-rekan yang ikut serta membantu dalam penyelesaian karya tulis ini.
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .................................................................................... i
LEMBAR PENGESAHAN .......................................................................... ii
KATA PENGANTAR ................................................................................. iii
ABSTRAK .................................................................................................. v
DAFTAR ISI ............................................................................................... vii
DAFTAR GAMBAR ................................................................................... ix
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang ........................................................................... 1
1.2 Perumusan masalah .................................................................... 3
1.3 Batasan masalah ........................................................................ 3
1.4 Tujuan dan manfaat penelitian ..................................................... 4
1.5 Metode pengumpulan data ......................................................... 5
1.6 Sistematika penulisan ................................................................. 5
BAB II LANDASAN TEORI
2.1 Kajian teori ................................................................................ 6
1. Teori dasar pendinginan ......................................................... 6
2. Sirkulasi pendinginan ............................................................. 7
3. Komponen – komponen mesin pendingin ............................... 8
4. Alat – alat kontrol pada mesin pendingin ................................ 12
5. Alat - alat keamanan pada mesin pendingin ............................ 13
2.2 Kerangka berfikir ....................................................................... 15
BAB III PEMBAHASAN
3.1 Deskripsi data ............................................................................ 16
3.2 Pembahasan .............................................................................. 17
3.2.1 Masuknya minyak lumas kedalam system Freon .............. 18
3.2.2 Terjadinya kebocoran freon dari sistem ........................... 25
3.2.3 Jenis kebocoran freon dan akibatnya .............................. 27
3.2.4 Berikut adalah cara melakukan pumping down .............. 28
3.2.5 Kurang optimalnya proses kondensasi ............................ 30
3.2.6 Perawatan mesin pendingin ............................................. 31
BAB IV PENUTUPAN
4.1 Kesimpulan ............................................................................. 35
4.2 Saran ...................................................................................... 35
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 37
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pelayaran akan dapat mencapai tujuannya dengan sukses, tepat waktu, aman dan selamat apabila seluruh prasarana dan komponen pendukung yang ada tercukupi dengan baik. Komponen-komponen pendukung tersebut dapat berupa prasarana yang langsung berhubungan dengan alat operasional bongkar muat, navigasi, permesinan dan juga dapat berupa penunjang kesejahteraan dan kesehatan anak buah kapal. Salah satu penunjang yang sangat vital dan berhubungan dengan kesejahteraan dan kesehatan adalah kualitas dan kuantitas bahan makanan. Bahan makanan itu harus tetap berkualitas meskipun dalam penyimpanan yang lama. Bahan makanan itu tidak banyak yang rusak atau busuk. Apabila kebutuhan akan bahan makanan itu terpenuhi berapa lama kita akan berlayar, kita tak perlu khawatir akan kelaparan di atas kapal. Dan juga bila makanan tercukupi, kita akan punya tenaga dan kemampuan untuk tetap berkarya dengan baik.
Agar bahan makanan tersebut tetap berkualitas dalam penyimpanan, kita memerlukan alat yang mendukungnya. Kita perlu memiliki mesin pendingin yang memenuhi standart kerja. Untuk sayur dan buah yang berkualitas, tentu sayur dan buah tersebut masih segar, tidak layu atau tidak susut dan rasanya tidak berubah. Untuk daging dan ikan yang masih baik adalah tidak lembek, tidak busuk dan saat disimpan dapat membeku seluruhnya dan bila perlu sampai mengkristal. Agar buah dan sayur tersebut tetap baik, kita perlu suhu penyimpanan antara 10oC sampai 12oC, dan bila perlu sampai 4oC. Menurut Hara Supratman (1994) “untuk penyimpanan daging dan ikan kita perlu suhu kerja antara -12oC sampai -10oC. Bila untuk mengkristalkannya kita perlu suhu sampai -300C ".
Agar mesin pendingin dapat bekerja memenuhi suhu yang disyaratkan tersebut, perlu adanya perawatan yang baik, yang terdiri dari komponen utama dan komponen pendukung antara lain: Kompressor, kondensor, oil separator, dryer, expantion valve, evaporator, sistem saluran refrigerant dan sistem kontrol listriknya. Alat – alat tersebut harus dirawat dengan konsisten sesuai dengan instruction manual book. Atau dengan memperhatikan setiap jam jaga, bila ada kelainan segera diambil tindakan untuk mencegah terjadinya kerusakan fatal. Karena apabila sampai terjadi kerusakan fatal akan merugikan sekali buat awak kapal dan juga perusahaan. Dengan kerusakan fatal akan mengakibatkan jam kerja awak kapal harus ekstra dan biaya produksi untuk operasional kapal dan perawatan.
Selain permasalahan di atas, berdasar pengalaman saya selama praktek kurang lebih satu tahun di atas kapal MT. LINA101. Banyak permasalahan yang terjadi pada mesin pendingin, seperti; pendinginan pada kondensor selalu kurang sehingga kondensor jadi panas dan kompressor sering mati akibat tekanan air pendingin kurang, freon cepat habis, kerusakan fatal pada kompressor, juga kurang optimalnya kerja dari thermo expantion valve dan juga pernah crankshafnya patah. Akibat terparah yang terjadi dari rusaknya mesin pendingin tersebut adalah hampir dari separuh bahan persediaan makanan membusuk. Semua permasalahan tadi berawal dari kurangnya rasa tanggung jawab masinis yang berwenang. Dan juga, akibat kurang konsistennya masinis menanggapi setiap masalah yang ada. Bila hal ini terus dibiarkan akan sangat merugikan sekali bagi awak kapal pada khususnya dan juga bagi perusahaan sebagai pihak yang bertanggung jawab.
Disamping permasalahan-permasalahan diatas yang sifatnya sangat umum dan kompleks, ada satu permasalahan yang sangat mendasar yang sering terjadi di kapal penulis. Permasalahan tersebut berhubungan langsung dengan maksimalisasi dan efisiensi kerja dari mesin pendingin tersebut. Dimana sirkulasi gas refrigerant terganggu, yang mengakibatkan sering terjadinya bunga es yang banyak pada sepanjang pipa saluran, baik pipa tekanan tinggi dan pipa tekanan rendah. Yang paling parah terjadi dimana pada pipa-pipa evaporator seluruhnya tertutup dengan bunga es yang mengakibatkan suhu ruang pendingin menjadi panas dan kompressor sering mati dengan sendirinya. Terganggunya sirkulasi gas refrigerant tersebut disebabkan karena adanya kebocoran freon dari sistem dan juga minyak lumas ikut beredar kedalam sistem, sehingga dalam pipa akan terjadi endapan-endapan minyak dan gelembung-gelembung udara.
Dengan mencermati permasalahan di atas, maka saya selaku peneliti dan penulis sangat tertarik untuk mengajukan judul:“PENGARUH TERGANGGUNYA SIRKULASI FREON TERHADAP MESIN PENDINGIN MAKANAN DI MT. LINA 101‘’
Dari permasalahan yang akan dibahas, diharapkan agar setiap masinis yang bertanggung jawab atas mesin pendingin benar-benar mampu melaksanakan tugas dan tanggung jawab dalam melakukan perawatan mesin pendingin dengan baik. Perawatan yang dilakukan harus konsisten, sesuai instruction manual book. Disamping itu setiap masinis harus dapat mengidentifikasi dengan cepat setiap kelainan yang terjadi. Agar kerusakan fatal pada mesin pendingin tidak terjadi. Bila hal itu terjadi akan mengganggu opaerasional dan menyebabkan produktivitas kerja menurun.
1.2. Perumusan Masalah
Dengan mencermati latar belakang dan judul yang sudah ada, maka saya selaku penulis merumuskan masalah yang meliputi:
1. Apakah akibatnya bila lubrication oil (minyak lumas) ikut beredar bersama sistem freon ?
2. Apakah pengaruh kebocoran Freon terhadap kerja kompressor mesin pendingin ?
3. Apakah pengaruhnya bila kondensor kotor ?
1.3. Batasan Masalah
Dikarenakan permasalahan yang ada masih sangat luas, sehingga masih sulit untuk dapat dibahas secara langsung. Maka, untuk mempermudah dalam melaksanakan penelitian, permasalahan tersebut saya buat batasannya. Mengingat mesin pendingin merupakan sistem permesinan yang sangat komplek dan banyak komponen yang harus diperhatikan operasinya. Disamping itu untuk mencegah meluasnya masalah. Untuk itu dalam penelitian, penulis batasi khusus bagaimana menjaga dan melakukan perawatan terhadap mesin pendingin dengan baik, agar suhu ruang pendingin selalu optimal kerjanya. Penulis akan membahas ruang lingkup penelitian meliputi:
1. Lingkup Materi
Hanya pada masalah pengaruh terganggunya sirkulasi media pendingin (freon) terhadap mesin pendingin.
2. Ruang Lingkup dan Tempat
Lokasi penelitian dilakukan di kapal MT. LINA101.
3. Lingkup Waktu
Waktu penelitian dilaksanakan pada waktu taruna melaksanakan Praktek Laut (PRALA) yaitu bulan APRIL 2013- APRIL 2014
1.4. Tujuan Dan Manfaat Penelitian
A. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui akibat dari tidak normalnya sirkulasi freon terhadap mesin pendingin.
2. Untuk mengetahui penyebab terganggunya sirkulasi freon.
3. Agar dapat mengatasi masalah penyebab tidak normalnya sirkulasi freon.
B. Manfaat Penelitian
1. Bagi setiap masinis dapat digunakan sebagai acuan bahwa dalam melakukan perawatan mesin pendingin harus selalu konsisten agar setiap pekerjaannya efektif dan efisien.
2. Bagi penulis dapat dijadikan sebagai penambah pengalaman dan wawasan yang dapat dijadikan modal untuk menjadi masinis yang professional nantinya dan juga menjadi seorang yang ahli dalam menangani mesin pendingin.
3. Bagi pembaca pada umumya, sebagai wawasan agar memahami prinsip kerja sistem pendinginan pada umumnya dan mengetahui fungsi mesin pendingin secara khusus serta bagaimana merawat dengan baik agar tetap optimal kerjanya.
1.5. Metode Pengumpulan Data
Adapun metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
a. Metode penelitian lapangan (Field Research)
Merupakan metode yang dipakai untuk mengumpulkan data yang actual melalui pengamatan di lapangan.
b. Metode survey (Observasi), yaitu suatu cara untuk mendapatkan data melalui pemantauan ke unit-unit sasaran penelitian.
c. Metode wawancara (Interview), yaitu suatu cara untuk mendapatkan data melalui temu wicara dan wawancara langsung dengan KKM kapal atau pihak-pihak yang terkait.
d. Metode penelitian pustaka (Library Research)
Merupakan metodeyang digunakan melalui Study keperpustakaan, literatur yang ada kaitannya dengan masalah ini baik melalui buku-buku, laporan penelitian, artikel dan lain-lain.
1.6. Sistematika Penulisan
Dalam penyusunan skripsi penulis menggunakan sistematika penulisan sebagai berikut:
BAB I : Merupakan pendahuluan yang terdiri dari latar belakang, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metode pengumpulan data, sistematika penulisan
BAB II : Merupakan landasan teori yang berisi tentang kajian teori dan kerangka pemikiran
BAB III : Merupakan bagian pembahasan yang berisi tentang deskripsi data dan pembahasan
BAB IV : Merupakan bagian penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Kajian Teori
Asal mula adanya sistem pendinginan adalah dari teori ilmiah yang sangatsederhana. Dari teori tersebut dikembangkanlah suatu sistem yang dapat digunakan untuk mendinginkan ruangan atau menjaga kondisi udara.
Berikut yang merupakan teori teori yang mendukung system pendinginan:
1. Teori Dasar Pendinginan
a. Ketika alkohol d tempelkan pada kulit maka kulit akan terasa dingin. Hal ini terjadi, karena penguapan yang menyerap panas dari kulit. Seperti proses pada gambar berikut.
b. Dari melakukan percobaan dalam sebuah bejana dan dimasukkan kedalam kotak terisolasi. Cairan yang mudah menguap dimasukkan ke dalam bejana. Apabila dibuka, maka cairan yang berada di dalam bejana tersebut akan menguap, karena tekanan dan suhu dalam bejana sama dengan keadan atmosfir di luar bejana. Pada saat inilah temperatur dalam kotak menjadi lebih dingin dari keadaan sebelumnya, yang hasilnya dapat dilihat dengan thermometer yang terpasang. Hal ini terjadi karena adanya proses penguapan yang menyerap panas yang ada dalam kotak, sehingga temperaturnya jadi lebih rendah. Seperti pada gambar 2.2.
2. Sirkulasi Pendinginan
Berdasarkan teori diatas, kemudian dikembangkanlah suatu alat pendingin yang sangat penting sekali keberadaannya. Dalam sistem pendinginan, media pendingin yang digunakan wujudnya selalu berubah-ubah. Dari gas menjadi cair atau sebaliknya. Dalam sistem pendingin perubahan wujud zat terjadi, karena adanya perbedaan tekanan. Sehingga media pendingin dapat bersirkulasi.
Pembagian tekanan kerja dalam sirkulasi pendinginan:
a. Tekanan Tinggi : pada daerah ini media pendingin berwujud cair dan gas, daerah ini mulai dari setelah katup tekan kompressor, kondensor sampai katup ekspansi.
b. Tekanan rendah : pada daerah ini media pendingin juga berwujud cair dan gas, daerah ini mulai katup ekspansi, evaporator sampai katup isap kompressor.
Dalam sistem mesin pendingin yang ada sekarang ini, banyak peralatan yang dipasang untuk menunjang kelancaran kerja dan efisiensi dalam pemakaian. Dengan adanya peralatan-peralatan tersebut, kerja mesin semakin maksimal. Alat-alat yang ada dalam sistem pendinginan adalah: kompresor, kondensor, oil separator, dryer, katup ekspansi, evaporatordan alat-alat kontrol otomatis
3. Komponen-komponen Mesin Pendingin
a. Kompresor
Dalam buku teknik pendingin yang ditulis Drs. Daryanto (1994) dinyatakan bahwa:“Kompresor adalah alat menekan refrigerant (freon) dari tekanan dan temperatur yang rendah menjadi tekanan dan temperatur tinggi“.
b. Kondensor
Menurut Drs, Daryanto (1994) dalam yang berjudul teknik pendingin. “Kondensor adalah sebuah alat dimana refrigerant (freon) dalam tekanan dan temperatur tinggi yang keluar dari kompresor didinginkan dan dirubah menjadi cairan”.Disini panas dari ruangan yang diserap oleh freon dipindahkan oleh air pendingin. Dalam kondensor tidak terjadi perubahan tekanan.
c. Freon
Dalam sistem pendinginan perlu adanya media pendingin yang diuapkan, dari penguapan digunakan untuk mendinginkan udara yang dihisap oleh blower didalam ruang evaporator sebelum diteruskan ke ruang pendingin.Untuk jenis media pendingin yang dipakai di kapal penulis adalah jenis Freon (R 22)
d. Oil Separator
Dalam sistem pendingin oil separator mempunyai peranan penting.Oil separator adalah sebuah alat yang berfungsi menyaring minyak lumas dengan freon sehingga minyak lumas tersebut kembali ke dalam oil carter (penampung minyak), dan freon terus dialirlan ke kondensor.
e. Fan (kipas angin)
Fungsi dari kipas angin (blower) digunakan untuk menghisap udara yang akan didinginkan dan memompa ke ruang pendingin.
f. Dryer Filter (Pengering)
Menurut Drs, Daryanto (1994) bahwa: “DryerAdalah sebuah alat yang berfungsi menyerap uap air dan membersihkan kotoran-kotoran dalam refrigerant (freon)”.
g. Evaporator
Evaporatoradalah alat dimana freon dalam keadaan temperatur dan tekanan rendah sekali mengambil panas udara sekitarnya sehingga freon akan menguap menjadi bentuk gas kembali.
4. Alat-alat kontrol pada Mesin Pendingin
a. Solenoid Valve (katup solenoid)
Solenoid valve adalah sebuah katup untuk berfungsi menutup aliran freon bila suhu ruang pendingin sudah mencapai proses terendah dan membuka kembali aliran freon bila suhu ruangan pendingin telah mencapai batas suhu tertinggi .
b. Expansi Valve (Katup expansi)
Katup ekspansi adalah sebuah katup yang berfungsi untuk mengatur jumlah freon masuk ke evaporator berdasarkan sinyal yang di kirim thermal bulb dan juga untuk menurunkan tekanan freon cair supaya dapat mudah menguap.
c. Dual pressure switch
Dalam sistem mesin pendingin terdapat alat kontrol untuk mengatur jalannya kompressor. Komressor akan mati jika tekanan isap sudah mencapai 0,2 kg/cm2 dan akan hidup lagi secara otomatis apabila tekanan 1,2 kg/cm2. Untuk tekanan keluarnya kompressor akan mati pada tekanan 19 kg/cm2. Peran ini di sandang oleh Dual Pressure Switch.
5. Alat-alat Keamanan pada Mesin Pendingin
a. Oil pressure protection switch.
Jika tekanan minyak lumas kompressor turun drastis, kompressor akan mati secara otomatis jika tekanan pelumas kurang dari1,5 kg/cm2. Hal ini untuk keamanan kompressor agar tidak terjadi kerusakan fatal
b. Safety valve
Untuk mencegah terjadinya ledakan dari kondensor jika tekanan kondensor naik terus perlu adanya alat keamanan. Karena jika ledakan terjadi sangat berbahaya.Hal ini biasa terjadi akibat jika high pressureswitchnya tidak bekerja. Safety valve bekerja pada tekanan 21 kg/ cm 2.
2.2 Kerangka Berfikir
Dalam sebuah ruang penyimpan bahan makanan. Apabila keadaan tersebut tidak dilengkapi dengan alat pendingin makan bahan akan cepat busuk dan rusak.Dengan adanya instalasi mesin pendingin udara di dalam ruangan tertutup diolah dengan cara dikondisikan dan dibersihkan berdasarkan kepada temperatur dan kelembaban yang dibutuhkan. Dimana kondisi udara yang sesuai dengan prinsip pengkondisian udara adalah untuk penyimpanan sayur dan buah antara 4-120 C dan untuk ikan dan daging sampai pada suhu -10 sampai -18 0 C.
Dalam pengoperasian instalasi mesin pendingin setiap harinya di kapal, sering ditemukan gangguan-gangguan yang menyebabkan kurang optimalnya fungsi kerja dari instalasi mesin pendingin. Gangguan yang terjadi pada instalasi mesin pendingin di kapal disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut:
1. Masuknya minyak lumas ke dalam sistem freon.
2. Terjadinya kebocoran Freon dari sistem.
3. Kurang optimalnya proses kondensasi, akibat dari kondensor yang kotor.
Dari masalah-masalah yang dialami pada instalasi mesin pendingin maka perlu diketahui penyebab masalahnya antara lain:
1. Masuknya minyak lumas ke dalam sistem
Permasalahan yang terjadi diasumsikan masuknya minyak lumas ke dalam sistem akan mengurangi temperatur pada evaporator menjadi rendah dan membuat kompresor bekerja lebih mengakibatkan kerusakan pada kompresor. Di instalasi mesin pendingin terdapat sebuah alat oil separator yang berfungsi menyaring minyak lumas dengan freon sehingga minyak lumas tidak ikut ke dalam sistem apabila alat ini tidak berfungsi dengan baik mengakibatkan gangguan proses penyerapan panas di evaporator dan temperatur ruang pendingin menjadi tinggi, karena oli ikut beredar dalam sistem Freon.
2. Terjadinya kebocoran Freon dari sistem.
Apabila ada kebocoran freon dari sistem, maka freon dalam sistem akan berkurang jumlahnya. Sehingga kapasitas freon tidak mencukupi untuk proses pendinginan dan ruangan pendingin jadi panas. Disamping freon cepat habis juga akan menyebabkan adanya uap air dalam sistem freon. Selain itu, akan mempengaruhi kerja kompressor. kompressor akan sering hidup dan mati secara otomatis, karena sistem otomatis pengaman untuk tekanan bekerja.
3. Kurang optimalnya proses kondensasi, akibat dari kondensor yang kotor.
Apabila proses kondensasi terganggu maka jumlah freon yang dikondensasikan juga akan berkurang. Hal ini akan mengganggu proses evaporasi pada evaporator yang berakibat ruangan pendingin menjadi panas. Selain itu kondensor juga akan panas dan jika tekanan air pendingin kurang maka akan berakibat kompressor akan mati, jika hal ini terjadi maka proses pendinginan akan berhenti juga
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Deskripsi Data
Di atas kapal, mesin pendingin merupakan alat yang sangat vital keberadaannya.Dengan adanya mesin pendingin, bahan makanan yang dimiliki dapat disimpan dengan baik.Mesin pendingin merupakan salah satu pesawat Bantu yang bekerja berdasarkan pada prinsip thermodinamika dan pemindah panas. Dalam siklus mesin pendingin terdapat proses kompressi, ekspansi dan juga penyerapan kalor. Proses kompressi terjadi pada saat freon dimampatkan oleh kompressor. Proses ekspansi terjadi saat katup ekspansi menyemburkan freon untuk diuapakan di evaporator dan juga terjadi pada langkah isap kompressor. Untuk proses penyerapan panas terjadi pada proses kondensasi pada kondensor dan penguapan pada evaporator. Dengan dipadukannya beberapa proses tersebut dalam satu sistem, maka dapat dimanfaatkan menjadi alat pendingin.
Dari proses di atas, proses penguapan di evaporator yang dimanfaatkan untuk pendinginan suatu ruangan. Saat Freon dalam evaporator menguap, menyerap panas disekitar pipa kapiler evaporator, sehingga daerah disekitar evaporator menjadi lebih dingin. Karena proses penguapan dalam evaporator terjadi terus-menerus dan sangat cepat maka keadaaan disekitar evaporator menjadi semakin dingin. Dengan keberadaan blower yang dipasang dekat evaporator, udara dingin tersebut dihembuskan keseluruh ruangan pendingin sehingga ruangan pendingin menjadi semakin dingin.Pada operasional dilapangan bahwa mesin pendingin yang ada di atas kapal tidak selalu bekerja dengan maksimal.Bila hal ini terjadi secara terus-menerus sangat merugikan sekali pada seluruh awak kapal.Kurang maksimalnya kerja mesin pendingin dipengaruhi oleh banyak factor, baik factor internal seperti jumlah jam kerja mesin, keausan dan juga perubahan struktur material.Untuk faktor eksternalnya hal ini sangat terkait sekali dengan kecakapan masinis dalam merawat dan mengatasi setiap setiap gangguan dan kerusakan yang terjadi. Dalam penelitian yang penulis lakukan ada tiga faktor yang penulis akan bahas. Faktor-faktor tersebut sangat berpengaruh sekali dalam kelancaran operasional dari mesin pendingin. Tiga permasalahan pokok yang akan penulis bahas adalah:
1. Masuknya minyak lumas ke dalam sistemFreon.
Minyak lumas memiliki peran yang sangat penting bagi kompressor, tapi kompressor dapat juga menjadi penyebab terjadinya gangguan pada mesi pendingin. Hal ini terjadi jika minyak lumas ikut beredar ke dalam sistem freon.
2. Terjadinya kebocoran Freon dari sistem.
Freon merupakan media yang sangat penting dalam setiap sistem mesin pendingin. Dengan adanya freon proses penyerapan panas pada ruang pendingin atau evaporator dapat terjadi. Agar proses penyerapan panas sempurna maka jumlah freon dalam sistem harus mencukupi. Penyebab kurangnya jumlah freon dalam sistem adalah kebocoran.
3. Kurang optimalnya proses kondensasi, akibat dari kondensor yang kotor.
Syarat agar freon dapat menguap dengan baik adalah freon yang akan diuapkan adalah benar-benar cair dalam jumlah yang cukup. Untuk mendapat freon cair dalam jumlah cukup adalah proses kondensasi dalam kondensor harus baik, jumlah dan suhu air pendingin harus mampu menyerap kalor dari gas freon agar dapat mengkondensasi. Dalam hal ini aliran air dalam kondesor harus lancar.
Selain tiga permasalahan pokok beserta solusinya yang penulis paparkan dalam pembahasan masalah, juga akan penulis paparkan mengenai cara melakukan perawatan mesin pendingin sesuai dengan instruction manual book.
3.2 Pembahasan
Dari permasalahan yang sudah ada, berikut akan penulis bahas satu persatu agar memperoleh kebenaran yang akurat.
3.2.1 Masuknya Minyak Lumas Ke dalam Sistem Freon
Dalam sistem mesin pendingin fungsi dari minyak lumas adalah untuk melumasi kompressor. Minyak lumas tersebut ditampung di dalam crankcase (kotak engkol) kompressor. Bagian-bagian yang dilumasi antara lain: bearing, poros engkol, silinderliner dan bagian-bagian lain yang bergesekan. Agar minyak pelumas tersebut dapat beredar kebagian-bagian yang dilumasi, pada kompressor dipasang pompa untuk mengedarkan minyak lumas. Tetapi pada kenyataan operasional kerja mesin pendingin, minyak lumas tersebut dapat juga menjadi penyebab terjadinya gangguan pada mesin pendingin.Hal ini terjadi apabila minyak lumas ikut beredar kedalam sistemFreon. Bila hal ini terjadi aliran Freon dalam sistem terganggu, karena minyak lumas sangat beda karakteristiknya dengan Freon. Dengan ikut beredarnya minyak lumas ke dalam sistemFreonakan mengganggu proses pemindahan panas pada proses penguapan pada evaporator.Adapun penyebab dan akibat minyak lumas ikut beredarantara lain:
1 Keausan pada ring piston, piston dan silinderliner.
Jika ring piston, piston dan silinderlinertelah aus, maka gas Freon yang dimampatkan akan mengandung minyak. Hal ini terjadi karena minyak lumas yang melumasi dinding silinderlinertidak dapat terkikis habis oleh oil scraper ring( ring pengikis oli ) dengan sempurna. Kurang sempurnanya pengikisan minyak lumas akibat keausan sehingga kerapatan antara ring piston dengan dinding silinderliner tidak rapat lagi. Dengan ikutnya minyak lumas beredar dapat juga menyebabkan pelumasan dalam kotak engkol berkurang yang akan menyebabkan bantalan (metal) terbakar. Khusus pada masalah ini yang akan dibahas efeknya terhadap aliran Freon dalam sistem
2 Terlalu banyaknya minyak lumas yang ada dalam kompressor.
Apabila jumlah minyak lumas yang terdapat dalam ruang engkol kompressor melebihi batas maksimal yang ditentukan juga akan menggangu kerja dari sistem pendinginan. Dengan minyak lumas yang berlebih akan menyebabkan putaran kompressor lebih berat. Kompressor akan lebih berisik suaranya jika dibandingkan dengan keadaan dimana minyak lumas dalam level yang normal. Selain itu, minyak lumas juga akan dapat ikut beredar bersama Freon. Karena jika minyak lumas berlebih, saat torak bergerak turun kebawah minyak lumas tersebut akan dapat terdorong naik keatas piston. Apabila piston tersebut pada langkah tekan minyak yang ada akan ikut terdorong bersama Freon.
3 Tidak bekerjanya dengan baik oil separatornya (pemisah minyak lumas dengan Freon).
Faktor utama penyebab yang paling dominan minyak lumas ikut beredar bersama Freon ke dalam sistem adalah tidak bekerjanya oil separator (pemisah minyak). Gangguan yang terjadi pada oil separator adalah ketika saluran pengembalian minyak tersumbat.Saluran tersebut dapat tersumbat oleh kotoran, juga dapat tersumbat karena jarum tidak dapat bekerja.Tidak bekarjanya jarum disebabkan karena mekanisme pembuka dan penutup jarumnya yang terhubung dengan pelampung terhambat kerjanya. Hal ini akan dapat menyebabkan bantalan terbakar dan juga karena saluran minyak tersebut tersumbat, maka minyak lumas dalam tabung oil separator (pemisah minyak) levelnya akan bertambah semakin tinggi hingga mencapai saluran Freon. Apabila minyak lumas sudah sampai pada saluran Freon maka minyak lumas akan ikut beredar ke dalam sistem Freon. Dengan adanya minyak lumas yang ikut beradar akan menyebabkan saluran pipa kapiler akan menyempit, dan akan tejadi gumpalan-gumpalan minyak lumas. Hal inilah yang mengganggu sirkulasi Freon.
Cara Mengatasi:
Hal pertama yang harus diperhatikan untuk mengatasi masalah ini adalah level minyak dalam gelas duga. Apabila dalam operasi normal level minyak lumas turun terus menerus dapat dipastikan minyak lumas ikut beredar bersama Freon dan tidak kembali ke dalam ruang engkol kompressor.Indikasi dari ikut beredarnya minyak lumas adalah suhu ruang pendingin tidakakan optimal temperaturnya. Ruang pendinginakan menjadi semakin panas.menanggulangi hal ini cara-cara yang harus dilakukan adalah:
a. Untuk permasalahan yang disebabkan oleh ausnya komponen dari kompressor, maka untuk menanggulanginya kompressor tersebut harus di overhoul dan bagian-bagian yang sudah aus harus diganti.
Adapun langkah-langkah dalam melaksanakan overhoul:
· Proses mematikan kompresor secara otomatis:
1. Memvacum (mengumpulkan) Freon ke dalam kondensor dengan menutup katup keluar Freon cair dari kondensor.
2. Membiarkan kompressor mati secara otomatis setelah keadaan vaccum.
3. Mematikan blower dan pompa pendingin untuk kondensor.
4. Setelah kompressor mati, matikan sumber listrik pada main switchboard.
5. menutup semua katup yang berhubungan dengan kompressor (katup isap dan katup tekan)
6. Melepas semua pipa yang berhubungan dengan kompressor.
7. Melepas V belt yang menghubungkan kompressor dengan motor listrik.
8. Mengangkat kompressor dari dudukannya dan lakukan pembongkaran pada tempat yang leluasa.
· Pembongkaran kompresor:
1. Melepaskan silinder head cover dan mekanisme katupnya.
2. Mengeluarkan minyak lumas dari crankcase (ruang engkol) kompressor.
3. Membuka cover penutup crankcase (Ruang engkol).
4. Melepaskan baut pengikat Crankpin bearing (bantalan).
5. Mengambil/mencabut rangkaian piston dan batang piston dengan mendorong ke bagian atas silinder.
6. Mengeluarkan crankshaft (poros) dari crankcase dengan melalui sisi samping crankcase.
· Pemeriksaan:
Setelah kompressor dalam keadaan terbongkar, maka langkah selanjutnya adalah melakukan pemeriksaan dan pengukuran. Dalam pemeriksaan dan pengukuran yang perlu untuk diketahui adalah keausannya, keretakan, kehalusan dari silinderliner. Pada bagian poros dan bantalannya juga perlu diukur tingkat keausannya. Apabila dari komponen-komponen tersebut keausannya sudah melewati batas maksimal maka perlu untuk diganti baru. Dalam melakukan pengukuran hal terpenting yang harus diperhatikan selalu mengacu pada instruction manual book. Dalam melakukan pengukuran silinderlinerdan poros engkol harus mengacu pada table pengukuran.
· Pemasangan dan Pengetesan:
Setelah semua komponen diperiksa, langkah berikutnya yang harus dilakukan adalah memasang kembali komponen yang dalam keadaan terlepas. Dalam proses pemasangan ada banyak hal yang harus diperhatikan. Mulai dari prosedur, keselamatan kerja sampai bagian-bagian kecil seperti ring dan O ring yang sering terlupa. Adapun langkah dalam pemasangan kompressor adalah kebalikan dari proses pembongkaran.
· Pemasangan Kompressor:
1. Memasukkan crankshsft (poros) dari crankcase dengan melalui sisi samping crankcase.
2. Memasukkan rangkaian piston dan batang piston dengan mendorong ke bagian atas silinder.
3. Mengikat baut pengikat Crankpin bearing (bantalan).
4. Menutup cover penutup crankcase (Ruang engkol).
5. Mengisi minyak minyak lumas dari dalam crankcase (ruang engkol), isi minyak lumasnya ½ dari ukuran gelas duga.
6. Memasang silinder head cover dan mekanisme katupnya.
7. Setelah semua komponen terpasang langkah berikutnya adalah pengetesan. Sebelum kompressor dites kompressor harus dipasang dulu pada dudukannya. Saat kompressor dipasang pada dudukannya, baut pondasi harus diikat dengan kuat. Pasang V belt yang menghubungkan motor dengan kompressor, dalam pemasangan V belt tidak boleh terlalu kuat ataupun kendor. Pasang juga semua pipa-pipa dan valve Yang dilepas. Setelah kompressor terpasang dengan baik, langkah berikutnya adalah membuang angin dari sistem.
· Langkah-langkah pembuangan angin adalah:
1. Biarkan katup keluarnya Freon dari kondensor tetap tertutup.
2. Menutup saluran tekan Freon yang menuju oil separator atau kondensor.
3. Melepaskan manometer pengukur tekanan pada sisi tekan kompressor.
4. Menjalankan kompressor dengan cara manual, dan perhatikan tekanan manometer pada sisi isapnya.
5. Apabila tekanan isap kompressor sudah mencapai antara 0 kg/cm2 sampai 0,2 kg/cm2 dapat dipastikan udara dalam sistem sudah habis.
6. Mematikan kompressor dan pasang kembali manometer pada sisi tekannya.
7. Setelah angin dalam sistem dibuang langkah berikutnya adalah
8. Menjalankan kompressor. Untuk menjalankan kompressor adalah langsung dengan pada posisi otomatis.
· Langkah-langkah menjalankan kompressor adalah sebagai berikut:
1. Menjalankan Blower yang ada pada kamar pendingin.
2. Menjalankan pompa pendingin kondensor.
3. Membuka katup isap dan katup tekan kompressor, katupmasuknya Freon dan keluarnya pada kondensor
4. memposisikan Switch pada posisi Auto running, maka kompressor akan jalan dengan sendirinya.
5. Apabila kompressor belum juga jalan, tekan tombol reset pada switchboard.
6. Apabila mesin pendingin sudah berjalan, kita harus selalu memantau operasinya. Karena saat mesin pendingin baru berjalan belum dapat langsung memenuhi kebutuhan pendinginan pada ruang pendingin. Untuk dapat mencapai suhu optimal harus ditunggu sampai beberapa jam. Yang perlu diperhatikan juga adalah tinggi minyak lumas dalam gelas duga, jumlah Freon, tekanan isap, tekan, tekanan minyak lumas dan tekanan air pendingin. (Untuk proses penambahan minyak lumas dan Freon dijelaskan pada perawatan).
b. Untuk mengatasi permasalahan yang disebabkan oleh terlalu banyaknya minyak lumas adalah dengan mengurangi jumlah minyak yang ada dalam carter. Langkah-langkah memgurangi jumlah minyak lumas dari dalam carter:
· Mematikan kompressor, dengan cara menutup saluran keluar Freon dari kondensor.
· Apabila keadaan isap dari kompressor sudah vaccum maka kompressor akan mati dengan sedirinya secara otomatis.
· Mematikan sumber listrik pada Swicthboard panel.
· Menutup katup isap dan tekan kompressor.
· Mengeluarkan minyak lumas dari lubang drain yang ada pada sisi bawah carterkompressor, sampai batas ½ dari gelasduga minyak lumas yang ada pada kompressor.
Dengan permasalahan yang disebabkan oleh tidak optimalnya kerja dari oil separator adalah harus dengan melakukan pembongkaran dan pembersihan terhadap oil separator.
Langkah-langkah pembongkaran Oil Separator adalah sebagai berikut:
a. Memvaccum (mengumpulkan) Freon ke dalam kondensor dengan menutup katup keluar Freon cair dari kondensor.
b. Biarkan kompressor mati secara otomatis setelah keadaan vaccum.
c. Mematikan blower dan pompa pendingin untuk kondensor.
d. Setelah kompressor mati, matikan sumber listrik pada main switchboard
e. Menutup katup yang menghubungkan saluran masuk dan keluar oil separator
f. Melepaskan oil separator dari hubungannya dengan kompressor dan kondensor.
g. Melakukan pembongkaran terhadap oil separator.
h. Dalam proses pembongkaran yang perlu diperhatikan adalah kondisi dari pelampung, jarum saluran minyak, engsel pelampung. Dan juga bersihkan semua kotoran yang menempel pada dinding oil separator, saluran kembalinya minyak lumas ke carterkompressor.
i. Setelah proses pembongkaran dan pemeriksaan selesai, langkah selanjutnya adalah memasang dan mengetesnya. Untuk melakukan pengetesan langkah yang dilakukan pertama adalah membuang angin yang ada dalam sistem. Kemudian proses selanjutnya adalah sama seperti saat melakukan pengetesan terhadap kompressor.
Dengan mencermati, begitu besar efek yang ditimbulkan akibatikut beredarnya minyak minyak lumas dalam sistemFreon, makaperawatan terhadap mesin pendingin, khususnya sistem freonnya harus benar-benar konsisten dan sebaik mungkin.Karena adanya minyak lumas ikut beredar, tidak tertutup kemungkinan ada sisa-sisa minyak lumas dalam pipa-pipanya, dan minyak tersebut harus dikeluarkan. Untuk mengeluarkan minyak lumas dapat dilakukan dengan mendorongnya dengan freon bertekanan tinggi.
3.2.2 Terjadinya Kebocoran Freon dari Sistem.
Freon merupakan media yang sangat penting dalam sistem mesin pendingin. Dengan adanya Freon proses pemindahan panas dapat berlangsung. Pada dasarnya, freon dalam sistem sifatnya adalah abadi. Karena Freon hanyalah disirkulasikan dari tekanan rendah ke tekanan tinggi dan seterusnya.Untuk menunjang kelancaran dari kerja mesin pendingin dan suhu pendinginan dapat tercapai secara maksimal jumlah Freon yang ada juga harus mencukupi kapasitas pendinginan.Namun, seiring dengan operasional yang terus menerus adakalanya Freon yang ada dalam sistem dapat berkurang jumlahnya.Berkurangnya Freon dari sistem terjadi karena adanya kebocoran.
1 Indikasi Terjadi Kebocoran Freon:
a. Terjadinya Penurunan Level Freon pada gelas duga.
b. Tekanan keluar kompressor sangat rendah.
c. Tekanan isap kompressor terlalu rendah (tidak dapat mencapai vakum)
d. Suhu ruang pendingin panas (tidak dapat mencapai suhu optimal yang diinginkan)
e. Kompressor beroperasi terus menerus (tidak dapat mati secara otomatis)
f. Ampere kompressor turun, karena beban turun akibat kurangnya Freon yang ada dalam sistem.
2 Cara Mengetahui Kebocoran Freon
a. Dengan menggunakan nyala api (Halyde light gas detector)
Mencari kebocoran dengan alat ini adalah menggunakan nyala api yang berasal dari bahan bakarnya alcohol, propane. Cara penggunaannya adalah dengan mendekatkan nyala api ketempat yang dicurigai (pipa atau sambungan pipa) terdapat kebocoran. Nyala api yang terjadi akan berubah- ubah warnanya sebagai berikut:
· Biru jika tidak ada kebocoran
· Hijau jika ada sedikit kebocoran
· Ungu jika ada kebocoran besar
b. Dengan menggunakan air sabun
Cara ini merupakan cara yang paling murah jika digunakan dan juga merupakan metode terakhir yang dapat digunakan. Cara penggunaannya cukup dengan mengoleskan busa sabun dengan kuas pada bagian- bagian yang di curigai terdapat kebocoran. Jika terdapat kebocoran maka akan terdapat gelembung-gelembung dari busa sabun tersebut. Cara ini juga kurang efektif, karena jika cara ini digunakan pada sisi tekanan tinggi tidak akan timbul gelembung-gelembung, karena busa tersebut akan pecah terhembus oleh tekanan tinggi.
3.2.3 Jenis Kebocoran Freon dan Akibatnya
Dalam sistemfreon mesin pendingin, kebocaran yang sering terjadi adalah pada daerah pipa-pipa yang dibengkokkan dan pada nipel-nipel sambungan antar pipa. Berdasar pada sistem tekanan pada mesin pendingin kebocoran dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
1 Kebocoran pada daerah tekanan rendah.
Kebocoran pada tekanan rendah adalah kebocoran yang terjadi pada daerah sesudah katup ekspansi, evaporator sampai pada sisi isap kompressor. Daerah pada tekanan rendah adalah berkisar antara tekanan 1,2 kg/cm2 sampai 0,2 kg/cm2. Apabila tekanan isap dari kompressorsudah mencapai dibawah 1 atm (1 kg/cm2), maka hal ini akan menyebabkan udara akan dapat ikut masuk kedalam sistem Freon. Dalam operasi mesin pendingin, salah satu syarat jika pendinginan dalam ruang pendingin ingin optimal jangan ada udara yang masuk dalam sistem. Karena udara tidak dapat dimampatkan, dan akan menyebabkan terjadinya gelembung-gelembung udara dalam pipa kapiler. Selain itu, udara apabila ditekan pada tekanan tinggi dan kemudian ikut dalam proses kondensasi akan menyebabkan terjadinya air. Udara dan air inilah yang akan menyebabkan terganggunya sirkulasi Freon dan menyebabkan suhu ruang pendingin tidak dapat optimal sesuai yang diinginkan.
2 Kebocoran Pada Daerah Tekanan Tinggi.
Daerah tekanan tinggi adalah dimana tekanannya antara 8 kg/cm2 sampai 19 kg/cm2.Daerah ini mulai dari sisi tekan kompressor, kondensor sampai pada katup ekspansi. Jika kebocoran terjadi pada daerah ini maka akan menyebabkan Freon menjadi habis. Karena tekanan Freon dari kebocoran lebih besar dari tekanan atmosfer yang hanya 1 kg/cm2. Jika hal ini terus menerus terjadi akan menyebabkan Freon dalam sistem habis.
3 Cara Mengatasi
Bila terjadi kebocoran Freon dari sistem langkah yang harus dilakukan adalah dengan menghentikan kebocoran tersebut.Bila kebocoran terjadi pada nipel sambungan pipa dapat dilakukan dengan membongkar nipel tersebut dan memperbaikinya.Untuk kebocoran yang terjadi pada pipanya dapat dilakukan dengan melakukan penyolderan.Hal yang perlu diperhatikan sebelum melakukan perbaikan sistemFreon adalah mematikan lebih dahulu sistem mesin pendingin dengan melakukan pumping down (mengumpulkanFreon di dalam kondensor).
3.2.4 Berikut adalah cara melakukan pumping down:
1 Menutup katup keluarnya Freon dari kondensor.
2 Biarkan kompressor berjalan terus secara otomatis, ketika tekanan isap kompressor 0,2 kg/cm2 maka kompressor akan mati dengan sendirinya.
3 Setelah kompressor mati, matikan sumber arus listrik pada panel switchboard dan tutup semua katup isap dan tekan kompressor dan katup masuknya Freon ke kondensor.
4 Setelah selesai pumping down(pengumpulanFreon), matikan pompa air pendingin kondensor.
Setelah Freon terkumpul dalam kondensor, langkah selanjutnya adalah perbaikan sistem perpipaan yang mengalami kebocoran dapat dilakukan.Langkah yang dilakukan adalah dapat dilakukan pembongkaran terhadap pipa yang bocor atau nipel sambungan pipa yang bocor. Untuk cara perbaikannya adalah sebagai berikut:
1. Untuk kebocoran yang terjadi pada pipa, langkah yang dilakukan adalah dengan penyolderan. Dalam melakukan penyolderan yang perlu diperhatikan adalah kebersihan permukaan yang akan disolder. Apabila permukaan pipa tidak bersih maka timah yang digunakan tidak akan dapat menempel. Panas yang digunakan untuk penyolderan juga harus sesuai dengan tebal tipisnya pipa, jika terlalu panas justru akan dapat menyebabkan pipa jadi meleleh.
2. Jika kebocoran terjadi pada sambungan pipa dapat diperbaiki dengan membongkar sambungan pipa tersebut kemudian diperiksa ujung-ujung pipa yang disambungkan. Setiap ujung pipa yang akan disambung harus bersih, rata dan halus. Selain itu, antara pipa dan sambungannya harus presisi, bila perlu ujung pipa dapat dibentuk dan diperbesar dengan flaring tools expander (alat untuk memperbesar ujung pipa). Setelah itu pipa dapat dipasang dengan mengikatnya, dengan sambungannya. Dalam pengikatan jangan terlalu kuat, dan pada ulirnya perlu di beri lapisan seal (seal tape). Setelah seluruh pipa terpasang langkah berikutnya adalah melakukan pembuangan angin dari dalam sistem Freon. Karena setiap kali dilakukan pembongkaran sistem pipa untuk Freon maka angin akan masuk ke dalam pipa-pipa tersebut, maka angin tersebut perlu untuk dibuang. (Untuk cara pembuangan angin dan menjalankannya sudah dibahas pada pengetesan kompressor)
Apabila mesin pendingin sudah berjalan, langkah berikutnya melakukan pengecekan terhadap pipa-pipa yang telah diperbaiki. Pengecekan yang dilakukan adalah terhadap kebocorannya.Dalam operasi awal setiap selesai ada perbaikan yang perlu diperhatikan adalah jumlah freonnya. Apabila jumlah Freon yang tersedia dalam sistem kurang, suhu optimal ruang pendingin tidak akan tercapai. Untuk itu, jumlah Freon dalam sistem harus ditambah. (Cara penambahan Freon di jelaskan pada perawatan).
3.2.5 Kurang optimalnya proses kondensasi.
Salah satu syarat agar Freon dapat di ekspansikan dan diuapkan dengan baik pada evaporator adalah Freon harus dalam bentuk cair.Untuk mendapatkan Freon dalam bentuk cair, maka Freon yang dalam bentuk gas hasil dari kerja kompressor harus dirubah wujudnya menjadi cair yang memiliki tekanan tinggi. Proses perubahan wujud dari gas menjadi cair adalah disebut proses kondensasi. Dalam sistem mesin pendingin proses kondensasi terjadi pada kondensor. Agar proses kondensasi dapat maksimal, hal yang harus terpenuhi adalah kapasitas dari air pendinginnya. Apabila proses kondensasinya terganggu juga akan sangat berpengaruh sekali pada suhu ruang pendingin, juga akan menimbulkan dampak yang dapat dijadikan indikasi.
1 Indikasi Terganggunya Proses Kondensasi:
a. Tekanan kondensor tinggi.
b. Freon cair pada gelas duga tidak dapat terlihat.
c. Body kondensor sangat panas.
d. Pada pipa-pipa terselubung bunga es.
2 Penyebab Terganggunya Kondensasi:
Pipa-pipa kondensor buntu, banyak kotoran atau Lumpur yang menyebabkan proses pemindahan panas dari Freon ke air pendingin terganggu, karena luas permukaan pipa tertutup kotoran. Buntunya pipa kondensor di akibatkan kurang terawatnya kondensor atau karena masuk perairan dangkal seperti masuk sungai.
3 Cara Mengatasinya:
Apabila kondensornya kotor tindakan yang harus dilakukan adalah membersihkan kondensor tersebut.
Langkah-langkah membersihkan kondensor:
1 Mematikan kompressor secara otomatis, dengan melakukan pumping down.
2 Mematikan pompa air pendingin untuk kondensasi.
3 Menutup katup masuk dan keluarnya air pendingin yang menuju dan dari kondensor.
4 Membuka cover penutup kondensor.
5 Melakukan pembersihan kondensor dengan menyikatnya pada setiap lubang yang dilalui air pendingin.
6 Mengganti dengan yang baru anti korosif yang terpasang pada covernya.
Apabila seluruh pipa pendingin sudah dibersihkan semua maka covernya dapat ditutup kembali.Setelah covernya tertutup buka katup-katup air pendingin yang tertutup dan jalankan pompa air pendinginnya.Setelah air pendingin berjalan normal hidupkan kompressor secara otomatis, dengan membuka katup (stopvalve) yang dipasang di bawah kondensor.
3.2.6 Perawatan Mesin Pendingin
Uraian-uraian di atas adalah mengenai permasalahan-permasalahan yang terjadi pada mesin pendingin, khususnya yang mengganggu sistem Freon dan cara mengatasinya. Dengan masalah-masalah yang di atasi diharapkan mesin pendingin dapat bekerja dengan baik.Selain dengan teratasinya masalah-masalah tersebut untuk menunjang operasi agar mesin pendingin dapat bekerja dengan baik maka perlu juga ada perawatan yang baik. Berikut adalah jenis-jenis perawatan yang harus dilakukan pada mesin pendingin.
Tabel 3.1 : Standart Perawatan Mesin Pendingin Sesuai Manual Book:
NO | WAKTU PENGECEKAN | JENIS PENGECEKAN | TITIK PENGECEKAN | STANDAR PENYETELAN |
1 | SETIAP HARI | 1. Minyak lumas kompressor 2. Tekanan Isap dan Keluarnya Kompressor 3. Tekanan minyak lumas 4. Temperatur air pendingin 5. Getaran dan suaranya | Jumlahnya Lihat penunjukan manometernya Tekanan pada manometernya Lihat thermometernya Getaran dan suara yang terjadi | ½ dari gelas duga Sesuai spesifikasi 3~5 kg/cm 2 - Jangan ada getaran dan suara berlebih |
2 | SETIAP 3 (TIGA) BULAN | 1. Kebocoran Freon dari sistem 2. Tegangan V belt 3. Bersihkan kondensor 4. Cek anti korosinya | Cek dengan gas detector - Buka cover kondensor ~ | Tidak ada reaksi Slack 10 mm Bersih dan tidak buntu ~ |
3 | SETIAP 1 TAHUN | 1. Cek dual pressure switch 2. Sistem pelumasan kompressor 3. Over Haul kompressor | High pressure dan Low pressure side Pressure switch Lakukan pengukuran Clearance | Sesuai standart Sesuai standart Sesuai standart |
Dalam melakukan perawatan dan perbaikan mesin pendingin tidak dapat terlepas dari penambahan Freon, karena setiap terjadi pembongkaran dapat dipastikan jumlah Freon dan minyak lumas juga berkurang. Berikut adalah langkah-langkah pelaksanaannya.
Langkah-langkah pengisian Freon:
1. Pengisian melalui tekanan tinggi (freon dalam bentuk cair)
a. Menutup katup keluarnya Freon dari kondensor.
b. Menyambungkan selang pengisian Freon dari botol ke katup pengisian yang terdapat di bawah kondensor.
c. Mengeluarkan udara yang terdapat dalam selang pengisian.
d. Membuka katup pengisian freon yang terdapat di botol dan di bawah kondensor dan operasikan kompressor pada posisi manual.
e. Selama proses pengisian Freonakan masuk ke sistem dan ditampung di dalam kondensor, dan posisi katup pada botol di bawah atau botol dalam keadaan terbalik.
f. Memperhatikan tinggi freon yang sudah masuk dengan memperhatikan pada gelas duga yang ada pada kondensor.
g. Setelah tinggi Freon cukup, tutup katup pengisian Freon dan buka katup keluarnya Freon dari kondensor dan posisikan kompressor pada otomatis.
2. Pengisian melalui tekanan rendah (freon dalam bentuk gas).
a. Membuka penuh stop valve (katup) pada sisi isap kompressor.
b. Menyambungkan selang pengisian pada katup (stop valve) sisi isap kompressor.
c. Mengeluarkan udara dari selang pengisin.
d. Menutup stop valve separuh, maka Freon dari botol akan dihisap oleh kompressor.
e. Mengoperasikan kompressor dari otomatis ke manual operasi.
f. Selama proses pengisian perhatikan perhatikan levelFreon pada gelas duga, dan posisikan botol Freon dengan katup berada di atas.
g. Setelah jumlah Freon cukup, hentikan pengisian dan operasikan kompressor ke otomatis.
Cara Menambah Minyak Lumas Kompressor :
1. Mematikan kompressor dengan melakukan pumping down Freon ke kondensor.
2. Setelah kompressor mati, tutup semua katup yang berhubungan dengan kompressor dan kondensor.
3. Membuka lubang pengisian minyak lumas pada kompressor.
4. Menambahkan minyak lumas sampai batas yang ditentukan.
Dalam proses perawatan mesin pendingin, agar mesin pendingin mampu melayani kebutuhan pendinginan yang diperlukan juga sangat perlu adanya dukungan dari perusahaan. Peran perusahaan adalah dalam pengadaan suku cadang, memberikan training atau pelatihan dan juga pengadaan teknisi dari darat apabila masinis dan peralatan dikapal sudah tidak mampu menanganiBAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Dari uraian-uraian permasalahan yang sudah penulis paparkan pada bab-bab sebelumnya, bahwa dalam pengoperasian mesin pendingin terdapat bermacam-macam gangguan yang dapat mengganggu maksimalisasi kerjanya. Berkaitan dengan pengaruh terganggunya sirkulasi freon terhadap mesin pendingin, maka dapat penulis simpulkan bahwa:1 Akibat dari terganggunya sirkulasi freon terhadap mesin pendingin adalah penyerapan panas pada evaporator menjadi berkurang, dan lebih parah lagi terjadinya kerusakan pada kompresor bila masalah tidak segera diatasi.
2 Penyebab terganggunya sikulasi freon adalah masuknya minyak lumas kedalam sistem freon, terjadinya kebocoran freon pada sistem dan juga kurang optimalnya proses kondensasi dikarenakan kondensor kotor..
4.2. Saran
Berdasarkan dari kesumpulan yang sudah diuraikan dan diberikan solusi untuk pemecahannya, agar mesin pendingin dapat bekerja dengan baik. Untuk itu, berikut ini penulis paparkan saran-saran agar dalam pengoperasian dan perawatan mesin pendingin berjalan dengan baik.
1 Dalam setiap operasi mesin pendingin lakukanlah pemantauan terhadap sistem pelumasan, perawatan kompressor dan oil separator ( pemisah minyak ) untuk mengantisipasi lebih awal jika terjadi aliran minyak lumas ke dalam sistem freon.
2 Lakukan pemantauan terhadap jumlah freon melalui gelas duga dan setiap seminggu sekali lakukan pengetesan terhadap kebocoran gas freon untuk mengantisipasi lebih awal jika terjadi kebocoran.
3 Agar proses kondensasi freon sempurna dan dapat mencukupi kebutuhan pendinginan, maka lakukan perawatan kondensor dengan baik. Untuk kondisi normal 3 bulan sekali dan apabila dalam kondisi darurat dapat dilakukan pembersihan dan pengecekan secepatnya.
Numpang promo ya Admin^^
ReplyDeleteajoqq^^com
mau dapat penghasil4n dengan cara lebih mudah....
mari segera bergabung dengan kami.....
di ajopk.club....^_~
segera di add Whatshapp : +855969190856
ituDewa Poker Domino QQ | Ceme Judi Domino QQ | Agen Domino QQ | Domino QQ Online | Agen Poker | Judi Poker | Poker Online | Agen OMAHA | Agen Super Ten | BlackJack
ReplyDeletePROMO SPESIAL GEBYAR BULANAN ITUDEWA. KUMPULKAN TURNOVER SEBANYAK-BANYAKNYA DAN DAPATKAN HADIAH YANG FANTASTIS DARI ITUDEWA.
MAINKAN DAN MENANGKAN HADIAH TOTAL RATUSAN JUTA, TANPA DI UNDI SETIAP BULANNYA!
? DAIHATSU ALYA 1.0 D MANUAL ( Senilai Rp.100.000.000,- )
? IPHONE 12 PRO MAX 512GB ( Senilai Rp.26.999.000,- )
? LAPTOP GAMING LENOVO LEGION Y520 ( Senilai Rp.9.999.000,- )
? Free Chips 1.500.000
? Free Chips 1.000.000
? Free Chips 250.000
DAFTARKAN DIRI ANDA SEGERA : DAFTAR ITUDEWA
1 ID untuk 7 Game Permainan yang disediakan oleh Situs ituDewa
=> Bonus Cashback 0.3%
=> Bonus Refferal 20% (dibagikan setiap Minggunya seumur hidup)
=> Bonus UPLINE REFERRAL UP TO 100.000!
=> Bonus New Member 10%
=> Customer Service 24 Jam Nonstop
=> Support 7 Bank Lokal Indonesia (BCA, BNI, BRI, Mandiri, Danamon, Cimb Niaga, Permata Bank)
• Deposit Via Pulsa, OVO & GOPAY
• Pusat Bantuan ituDewa
Facebook : ituDewa Club
Line: ituDewa
WeChat : OfficialituDewa
Telp / WA : +85561809401
Livechat : ituDewa Livechat